Sabtu, 08 Maret 2014

Ujian Akhir Nasional Menjelang

Ujian Akhir Nasional menjelang, proses belajar sekian lama berada pada puncaknya. Belajar merupakan suatu proses panjang. Sekolah dasar di Indonesia berarti enam tahun, sekolah lanjutan tiga tahun kali dua. Proses, berarti berjalan, suatu rangkaian tindakan. Sekolah atau belajar, ujian merupakan bagian yang sangat kecil. Dapat dibayangkan perjalanan enam tahun, dan tiga tahun dibandingkan tiga empat hari yang begitu “menakutkan”.
Mengapa ujian begitu menakutkan?
Banyaknya kepentingan yang sama sekali lepas dari budaya dan dunia pendidikan, mari kita simak kepentingan-kepentingan yang memboceng seperti NICA mendompleng tentara Sekutu:
1.       Politik
Fenomena politik menjadi raja di raja pada pemerintahan saat ini tidak dapat disangsikan lagi. Para raja-raja kecil, yang sama sekali tidak tahu menahu mengenai pendidikan mengintervensi dunia pendidikan. Banyaknya iming-iming untuk gubernur dan bupati berkaitan dengan kelulusan siswa sekolah, membuat mereka gelap mata. Menekan kepala-kepala sekolah untuk meluluskan siswanya sebanyak mungkin.
2.       Kebanggaan semu
Kelulusan 100% merupakan jargon dalam promosi sekolah, dan orang tua belum banyak yang kritis melihat spanduk dan iklan-iklan yang ditawarkan sekolah untuk menarik siswa baru. Hampir semua sekolah baik yang favorit ataupun sama sekali tidak terdengar bahkan tempatnyapun, sekarang selalu mengatakan lulus 100%.
3.       Taruhan jabatan
Promosi dan degradasi jabatan terutama kepala sekolah, kepala dinas, kepala wilayah pendidikan berkaitan dengan angka kelulusan. Apa artinya? Kalau sekolahnya, atau wilayahnya banyak yang tidak lulus, maka dapat dipastikan jabatannya akan melayang.
4.       Prestasi palsu
Angka minimal kelulusan dari tahun ke tahun selalu naik. Apakah hal itu benar-benar menunjukkan kualitas lulusan siswa sekolah. Sama sekali tidak. Logis sekali sebenarnya kalau nilai minimal kelulusan ditambah, akan ada anak yang tidak mampu mencapai nilai minimal tersebut. Fakta yang terjadi 100% lulus, masih sama saja. Memang ini bukan riset yang valid, namun kemampuan anak sama sekali tidak ada perubahan, kalau mau jujur, dengan satu, dua dekade lalu, kemampuan siswa-siswi sekarang jauh sekali (berkaitan dengan kemampuan dalam pendidikan, bukan kemajuan teknologi informasi).
5.       Pemahaman bahwa pendidikan bergantung pada ujian
Ujian merupakan puncak proses pendidikan semua tentu sepakat. Harusnya sepakat pula bahwa ujian hanya satu bagian kecil dari proses panjang pendidikan. Sekolah atau belajar untuk hidup bukan untuk nilai yang diperoleh dalam ujian semata. Sayang sekali proses panjang itu akan digagalkan atau disukseskan hanya sekejap.

Banyaknya kepentingan tersebut, menjadikan siswa sebagai kurban. Tekanan-tekanan dari atas ke bawah, siswa yang paling bawah tentu tergencet dan tidak bisa apa-apa. Guru yang tahu persis kondisi psikologis siswa tidak bisa berbuat banyak. Bahasa kekuasaan sudah menindas anak-anak negerinya sendiri.
Apa yang dilakukan kadang sangat irrasional.  Fenomena aneh yang sama sekali lepas dari proses belajar mengajar. Mendatangkan tokoh-tokoh agama, ahli hypnoteraphy, meminta doa restu kepada guru-guru di jenjang sebelumnya, berdoa sambil menangis meraung-raung. Itu semua benar tidak ada yang salah. Sama sekali tidak salah, namun tidak tepat. Berdoa sudah seharusnya berjalan seiring dengan  proses kegiatan berlajar, sepanjang hidup doa seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Guru level sebelumnya, pasti akan mendoakan, itu tidak pernah tidak dilakukan seorang guru bagi anak didiknya. Hypnoteraphy  yang dijadikan alasan adalah untuk meningkatkan daya ingat siswa. Mengapa bukan saat MOS sehingga daya serap anak tinggi sejak awal, yang akan menghasilkan siswa benar-benar cerdas, bukan nilai tinggi UAN semata. Ketegangan yang normal mengapa harus ditambah dengan kegiatan-kegiatan yang tidak semestinya, justru menambah beban siswa, bahkan ada yang menangis meraung-raung hingga pingsan.
Lebih memedihkan kalau guru bahkan kepala sekolah mengoordinasikan soal bocoran. Kejujuran macam apa yang diajarkan dunia pendidikan kalau demikian. Siswa diajari kecurangan, bahkan oleh kepala sekolah dan gurunya sendiri. Moral yang ditanamkan sepanjang proses pendidikan dihancurleburkan sesaat dan itu benar-benar efektif.

Mengapa semua itu dilakukan?
Proses yang seharusnya dijalankan selama kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Kelulusan menjadi tolok ukur kualitas dan prestasi sekolah. Sepanjang proses kegiatan belajar mengajar buruk sekalipun, kemudian membeli soal dan dibocorkan kepada siswa, dapat dipastikan nilai murid menjadi tinggi, dan kelulusan 100%. Budaya instan memasuki dunia pendidikan.

Apakah akan demikian terus dunia pendidikan kita? Jangan lupa pendidikan merupakan dasar dan fondasi bangsa. Kalau dasarnya penuh lobang dan keropos, apa yang akan terjadi di atasnya tentunya dapat diperkirakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar