Ujian Akhir Nasional menjelang,
proses belajar sekian lama berada pada puncaknya. Belajar merupakan suatu
proses panjang. Sekolah dasar di Indonesia berarti enam tahun, sekolah lanjutan
tiga tahun kali dua. Proses, berarti berjalan, suatu rangkaian tindakan.
Sekolah atau belajar, ujian merupakan bagian yang sangat kecil. Dapat
dibayangkan perjalanan enam tahun, dan tiga tahun dibandingkan tiga empat hari
yang begitu “menakutkan”.
Mengapa ujian begitu menakutkan?
Banyaknya kepentingan yang sama
sekali lepas dari budaya dan dunia pendidikan, mari kita simak
kepentingan-kepentingan yang memboceng seperti NICA mendompleng tentara Sekutu:
1.
Politik
Fenomena politik menjadi raja di raja pada
pemerintahan saat ini tidak dapat disangsikan lagi. Para raja-raja kecil, yang
sama sekali tidak tahu menahu mengenai pendidikan mengintervensi dunia
pendidikan. Banyaknya iming-iming untuk gubernur dan bupati berkaitan dengan
kelulusan siswa sekolah, membuat mereka gelap mata. Menekan kepala-kepala
sekolah untuk meluluskan siswanya sebanyak mungkin.
2.
Kebanggaan semu
Kelulusan 100% merupakan jargon dalam promosi sekolah,
dan orang tua belum banyak yang kritis melihat spanduk dan iklan-iklan yang
ditawarkan sekolah untuk menarik siswa baru. Hampir semua sekolah baik yang favorit
ataupun sama sekali tidak terdengar bahkan tempatnyapun, sekarang selalu
mengatakan lulus 100%.
3.
Taruhan jabatan
Promosi dan degradasi jabatan terutama kepala sekolah,
kepala dinas, kepala wilayah pendidikan berkaitan dengan angka kelulusan. Apa
artinya? Kalau sekolahnya, atau wilayahnya banyak yang tidak lulus, maka dapat
dipastikan jabatannya akan melayang.
4.
Prestasi palsu
Angka minimal kelulusan dari tahun ke tahun selalu
naik. Apakah hal itu benar-benar menunjukkan kualitas lulusan siswa sekolah.
Sama sekali tidak. Logis sekali sebenarnya kalau nilai minimal kelulusan
ditambah, akan ada anak yang tidak mampu mencapai nilai minimal tersebut. Fakta
yang terjadi 100% lulus, masih sama saja. Memang ini bukan riset yang valid,
namun kemampuan anak sama sekali tidak ada perubahan, kalau mau jujur, dengan
satu, dua dekade lalu, kemampuan siswa-siswi sekarang jauh sekali (berkaitan
dengan kemampuan dalam pendidikan, bukan kemajuan teknologi informasi).
5.
Pemahaman bahwa pendidikan bergantung pada ujian
Ujian merupakan puncak proses pendidikan semua tentu
sepakat. Harusnya sepakat pula bahwa ujian hanya satu bagian kecil dari proses
panjang pendidikan. Sekolah atau belajar untuk hidup bukan untuk nilai yang
diperoleh dalam ujian semata. Sayang sekali proses panjang itu akan digagalkan
atau disukseskan hanya sekejap.
Banyaknya kepentingan tersebut, menjadikan siswa sebagai
kurban. Tekanan-tekanan dari atas ke bawah, siswa yang paling bawah tentu
tergencet dan tidak bisa apa-apa. Guru yang tahu persis kondisi psikologis
siswa tidak bisa berbuat banyak. Bahasa kekuasaan sudah menindas anak-anak
negerinya sendiri.
Apa yang dilakukan kadang sangat irrasional. Fenomena aneh
yang sama sekali lepas dari proses belajar mengajar. Mendatangkan tokoh-tokoh
agama, ahli hypnoteraphy, meminta doa
restu kepada guru-guru di jenjang sebelumnya, berdoa sambil menangis
meraung-raung. Itu semua benar tidak ada yang salah. Sama sekali tidak salah,
namun tidak tepat. Berdoa sudah seharusnya berjalan seiring dengan proses kegiatan berlajar, sepanjang hidup doa
seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Guru level sebelumnya, pasti
akan mendoakan, itu tidak pernah tidak dilakukan seorang guru bagi anak
didiknya. Hypnoteraphy yang dijadikan alasan adalah untuk
meningkatkan daya ingat siswa. Mengapa bukan saat MOS sehingga daya serap anak
tinggi sejak awal, yang akan menghasilkan siswa benar-benar cerdas, bukan nilai
tinggi UAN semata. Ketegangan yang normal mengapa harus ditambah dengan
kegiatan-kegiatan yang tidak semestinya, justru menambah beban siswa, bahkan
ada yang menangis meraung-raung hingga pingsan.
Lebih memedihkan kalau guru bahkan kepala sekolah
mengoordinasikan soal bocoran. Kejujuran macam apa yang diajarkan dunia
pendidikan kalau demikian. Siswa diajari kecurangan, bahkan oleh kepala sekolah
dan gurunya sendiri. Moral yang ditanamkan sepanjang proses pendidikan
dihancurleburkan sesaat dan itu benar-benar efektif.
Mengapa semua itu dilakukan?
Proses yang seharusnya dijalankan selama kegiatan belajar
mengajar tidak dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Kelulusan menjadi tolok
ukur kualitas dan prestasi sekolah. Sepanjang proses kegiatan belajar mengajar
buruk sekalipun, kemudian membeli soal dan dibocorkan kepada siswa, dapat
dipastikan nilai murid menjadi tinggi, dan kelulusan 100%. Budaya instan
memasuki dunia pendidikan.
Apakah akan demikian terus dunia pendidikan kita? Jangan
lupa pendidikan merupakan dasar dan fondasi bangsa. Kalau dasarnya penuh lobang
dan keropos, apa yang akan terjadi di atasnya tentunya dapat diperkirakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar