Jumat, 14 Maret 2014

Cerita Rakyat Mendidik Anak

Cerita anak menemani tidur di Indonesia memberi gambaran umum bagaimana pendidikan karakter ditanamkan sejak kecil. Ceritera turun temurun, dari kakek-nenek moyang, orang tua, anak, cucu dan entah sampai kapan. Anak paling suka diberi cerita oleh orang tua, meskipun sekarang kelihatannya makin langka dan jarang yang melakukannya. Saat ini paling mudah membacakan buku cerita yang banyak beredar di toko-toko buku. Buku-buku yang diterbitkan kebanyakan adalah terjemahan.
Tulisan ini bukan hendak menghakimi cerita rakyat dengan membandingkan dengan cerita terjemahan. Sama sekali tidak masuk kepada tataran ini.  Dua cerita yang sebenarnya adalah identik, namun ada sedikit perbedaan namun besar sekali akibatnya bagi anak-anak yang merekam cerita melalui fantasi usia-usia tersebut.
Perlombaan binatang. Di dalam cerita rakyat Indonesia, adalah pelanduk atau kancil yang jawara dalam banyak hal. Suatu hari kancil menantang siput untuk  berlomba lari. Kancil merasa pasti akan menang, karena gerak siput atau keong sama sekali tidak sebanding dengan kelincahan dan kecepatannya berlari. Ternyata pencerita pada awal dulunya memiliki maksud bahwa kesombongan kancil harus dihentikan, dengan memilihi cara, bahwa, keong atau siput tersebut dengan cerdik menempatkan sekawanan rekannya di pos-pos tertentu. Setiap kancil memanggil siput mesti akan mendapat jawaban karena memang ada keong yang sedang nyanggong  di tempat itu. Kancil panik dan lari sekencang-kencangnya, dan di garis finispun tetap ada keong yang sudah melampaui garis finis.
Cerita terjemahan, menggunakan kelinci sebagai binatang yang lincah dan cepat dalam berlari. Hewan yang lamban dan tidak mungkin akan menang yaitu kura-kura. Semua pasti paham dan sepakat kalau kura-kura tidak akan menang melawan kelinci dalam hal kecepatan. Apa yang penceritakan gunakan untuk mengalahkan kelinci adalah kesombongan dan kepercayaan diri yang berlebihan yang ada pada kelinci itu sendiri. Kelinci, karena sudah merasa pasti menang, istirahat dan jatuh tertidur. Apa yang terjadi? Kura-kura menang karena kelinci terbangun ketika kura-kura sudah sampai garis akhir.
Kesombongan dikalahkan oleh rasa percaya dirinya sendiri yang berlebihan. Tindak hati-hati dan waspada menjadi berkurang, dan pihak yang sama sekali tidak memiliki peluang berkesempatan mengambil alih. Berbeda dengan kesombongan dikalahkan dengan kelicikan, tindak tidak adil, dan siasat penuh muslihat.

Bagaimana anak-anak mau dibangun? Penuh muslihat atau nilai-nilai keutamaan yang ditanamkan sejak dini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar