Cerita
anak menemani tidur di Indonesia memberi gambaran umum bagaimana pendidikan
karakter ditanamkan sejak kecil. Ceritera turun temurun, dari kakek-nenek
moyang, orang tua, anak, cucu dan entah sampai kapan. Anak paling suka diberi
cerita oleh orang tua, meskipun sekarang kelihatannya makin langka dan jarang
yang melakukannya. Saat ini paling mudah membacakan buku cerita yang banyak
beredar di toko-toko buku. Buku-buku yang diterbitkan kebanyakan adalah
terjemahan.
Tulisan
ini bukan hendak menghakimi cerita rakyat dengan membandingkan dengan cerita
terjemahan. Sama sekali tidak masuk kepada tataran ini. Dua cerita yang sebenarnya adalah identik,
namun ada sedikit perbedaan namun besar sekali akibatnya bagi anak-anak yang
merekam cerita melalui fantasi usia-usia tersebut.
Perlombaan
binatang. Di dalam cerita rakyat Indonesia, adalah pelanduk atau kancil yang
jawara dalam banyak hal. Suatu hari kancil menantang siput untuk berlomba lari. Kancil merasa pasti akan
menang, karena gerak siput atau keong sama sekali tidak sebanding dengan
kelincahan dan kecepatannya berlari. Ternyata pencerita pada awal dulunya
memiliki maksud bahwa kesombongan kancil harus dihentikan, dengan memilihi cara,
bahwa, keong atau siput tersebut dengan cerdik menempatkan sekawanan rekannya
di pos-pos tertentu. Setiap kancil memanggil siput mesti akan mendapat jawaban
karena memang ada keong yang sedang nyanggong
di tempat itu. Kancil panik dan lari
sekencang-kencangnya, dan
di garis finispun tetap ada
keong yang sudah melampaui garis finis.
Cerita
terjemahan, menggunakan kelinci sebagai binatang yang lincah dan cepat dalam
berlari. Hewan yang lamban dan tidak mungkin akan menang yaitu kura-kura. Semua
pasti paham dan sepakat kalau kura-kura tidak akan menang melawan kelinci dalam
hal kecepatan. Apa yang penceritakan gunakan untuk mengalahkan kelinci adalah
kesombongan dan kepercayaan diri yang berlebihan yang ada pada kelinci itu
sendiri. Kelinci, karena sudah merasa pasti menang, istirahat dan jatuh
tertidur. Apa yang terjadi? Kura-kura menang karena kelinci terbangun ketika
kura-kura sudah sampai garis akhir.
Kesombongan
dikalahkan oleh rasa percaya dirinya sendiri yang berlebihan. Tindak hati-hati
dan waspada menjadi berkurang, dan pihak yang sama sekali tidak memiliki
peluang berkesempatan mengambil alih. Berbeda dengan kesombongan dikalahkan
dengan kelicikan, tindak tidak adil, dan siasat penuh muslihat.
Bagaimana
anak-anak mau dibangun? Penuh muslihat atau nilai-nilai keutamaan yang
ditanamkan sejak dini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar