Sabtu, 08 Maret 2014

Puasa

Rabu Abu, merupakan awal masa puasa bagi Gereja Katolik. Gereja menetapkan puasa adalah makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Banyak joke, atau becanda yang mengatakan makan kenyang sekali dalam arti makan kenyang banget. Makan kenyang hanya sekali dalam bahasa Jawa pas sekali dengan istilah  nyuda tadhah, mengurangi takaran, kalau selama ini kenyang adalah satu piring, berarti dalam masa puasa hanya makan setengah piring, yang satu piring penuh hanya satu kali. Ini adalah soal makan dan mengurangi makan, kemudian hari puasa wajib adalah Rabu Abu dan Jumat Agung, dua kali saja.
Semua agama memiliki tradisi puasa masing-masing, dan menurut model dan aturan yang tentunya berbeda-beda. Mari kita lihat ajaran Yesaya mengenai berpuasa:
1.       Melepaskan semua urusan dan mengarahkan hati dan budi kepada Tuhan
Manusia memiliki kecenderungan untuk menjalani rituali dengan a hingga z yang benar-benar tiada yang terlewatkan, namun masih memiliki pamrih dan motivasi. Dengan berpuasa dan lapar-haus, Tuhan mesti akan menambahkan hasil kerjaku berlipat-lipat. Mengikuti ritual dan liturgi namun masih ber-BBM-an, SMS-an, FB-an.
2.       Berlaku adil dan toleran
Berpuasa, merupakan saat untuk tahu penderitaan sesama, oleh karena itu lucu dan naif kiranya dengan berpuasa, masih juga memaksa-maksa orang lain untuk berlaku seperti yang mereka pikirkan.
3.       Membina sikap damai dan penuh persaudaraan
Damai dan persaudaraan makin menipis, dalam masa puasa bagaimana suasana dan perasaan damai itu tercipta dan makin nyata, bukan malah mengumpat ketika ada kendaraan menyerobot jalannya.
4.       Bukan semata ritual-ritual jasmaniah, dengan muka, tanda-tanda yang dapat dilihat orang.
Lapar memang mudah menyulut emosi, wajah sulit ceria dan cerah, atau adanya abu di dahi itukah yang Tuhan kehendaki dari puasa manusiawi? Itu semua mudah dan ringan, Tuhan menghendaki hati yang berubah dan berkembang menuju kebaikan.
5.       Mengatasi penindasan
Tindak nyata dalam melawan tindakan dunia yang menyesatkan. Bukan hanya ritual keagamaan yang dimaksudkan, namun aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak keprihatianan dalam hal kesewenang-wenangan menuntut keberanian bertindak secara nyata dan konkret.
6.       Mewartakan kebenaran dan keadilan
Kebenaran dan keadilan bukan semata uang dan kekuasaan seperti saat ini, masa puasa mengajak umat beriman untuk membela kebenaran dan keadilan yang sudah terporakporandakan karena kemauan manusia pada kekuasaan dan materi. Berani membela hal itu melebihi apapun.
7.       Mau berbagi baik makanan, pakaian, tempat tinggal, dan banyak lagi
Dewasa ini, materi dan kekuasaan sudah menjadi sesembahan mayoritas manusia. Bagaimana sedang berpuasa, namun membuang makanan karena tidak suka, membakar pakaian hanya karena sudah ketinggalan mode, berpikir proyek mana lagi yang bisa menghasilkan uang.
Perbagi dalam penderitaan dan kesusahan, dalam bahasa Jawa tijitibeh, tiba siji tiba kabeh,  ini yang sedang menggejala, puasa bukan demikian. Berbagi terhadap yang membutuhkan, banyak orang butuh makanan, perhatian, tempat tinggal, dukungan, dan sebagainya.
8.       Menjauhkan fitnah dan dengki
Kekuasaan dan materi kadang membuat manusia gelap mata, sehingga ketika ada kesuksesan pihak lain, akan membuat orang frustasi. Frustasi akan menimbulkan dengki, dan berujung pada fitnah.


Mari kita renungkan bersama, apakah puasaku selama ini semata hanya sampai tataran menahan haus dan lapar, ataukah sudah mampu untuk mengoyakkan hati dan bukan semata bajuku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar