Rabu Abu, merupakan awal masa
puasa bagi Gereja Katolik. Gereja menetapkan puasa adalah makan kenyang hanya
satu kali dalam sehari. Banyak joke,
atau becanda yang mengatakan makan kenyang sekali dalam arti makan kenyang
banget. Makan kenyang hanya sekali dalam bahasa Jawa pas sekali dengan istilah nyuda
tadhah, mengurangi takaran, kalau selama ini kenyang adalah satu piring,
berarti dalam masa puasa hanya makan setengah piring, yang satu piring penuh
hanya satu kali. Ini adalah soal makan dan mengurangi makan, kemudian hari
puasa wajib adalah Rabu Abu dan Jumat Agung, dua kali saja.
Semua agama memiliki tradisi
puasa masing-masing, dan menurut model dan aturan yang tentunya berbeda-beda.
Mari kita lihat ajaran Yesaya mengenai berpuasa:
1. Melepaskan
semua urusan dan mengarahkan hati dan budi kepada Tuhan
Manusia memiliki
kecenderungan untuk menjalani rituali dengan a hingga z yang benar-benar tiada yang
terlewatkan, namun masih memiliki pamrih dan motivasi. Dengan berpuasa dan
lapar-haus, Tuhan mesti akan menambahkan hasil kerjaku berlipat-lipat.
Mengikuti ritual dan liturgi namun masih ber-BBM-an, SMS-an, FB-an.
2. Berlaku
adil dan toleran
Berpuasa, merupakan
saat untuk tahu penderitaan sesama, oleh karena itu lucu dan naif kiranya
dengan berpuasa, masih juga memaksa-maksa orang lain untuk berlaku seperti yang
mereka pikirkan.
3. Membina
sikap damai dan penuh persaudaraan
Damai dan
persaudaraan makin menipis, dalam masa puasa bagaimana suasana dan perasaan
damai itu tercipta dan makin nyata, bukan malah mengumpat ketika ada kendaraan
menyerobot jalannya.
4. Bukan
semata ritual-ritual jasmaniah, dengan muka, tanda-tanda yang dapat dilihat
orang.
Lapar memang mudah
menyulut emosi, wajah sulit ceria dan cerah, atau adanya abu di dahi itukah
yang Tuhan kehendaki dari puasa manusiawi? Itu semua mudah dan ringan, Tuhan
menghendaki hati yang berubah dan berkembang menuju kebaikan.
5. Mengatasi
penindasan
Tindak nyata dalam
melawan tindakan dunia yang menyesatkan. Bukan hanya ritual keagamaan yang
dimaksudkan, namun aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak keprihatianan
dalam hal kesewenang-wenangan menuntut keberanian bertindak secara nyata dan
konkret.
6. Mewartakan
kebenaran dan keadilan
Kebenaran dan
keadilan bukan semata uang dan kekuasaan seperti saat ini, masa puasa mengajak
umat beriman untuk membela kebenaran dan keadilan yang sudah terporakporandakan
karena kemauan manusia pada kekuasaan dan materi. Berani membela hal itu
melebihi apapun.
7. Mau
berbagi baik makanan, pakaian, tempat tinggal, dan banyak lagi
Dewasa ini,
materi dan kekuasaan sudah menjadi sesembahan mayoritas manusia. Bagaimana
sedang berpuasa, namun membuang makanan karena tidak suka, membakar pakaian
hanya karena sudah ketinggalan mode, berpikir proyek mana lagi yang bisa
menghasilkan uang.
Perbagi dalam
penderitaan dan kesusahan, dalam bahasa Jawa tijitibeh, tiba siji tiba kabeh, ini yang sedang menggejala, puasa bukan
demikian. Berbagi terhadap yang membutuhkan, banyak orang butuh makanan,
perhatian, tempat tinggal, dukungan, dan sebagainya.
8. Menjauhkan
fitnah dan dengki
Kekuasaan dan
materi kadang membuat manusia gelap mata, sehingga ketika ada kesuksesan pihak
lain, akan membuat orang frustasi. Frustasi akan menimbulkan dengki, dan
berujung pada fitnah.
Mari kita renungkan bersama, apakah puasaku selama ini
semata hanya sampai tataran menahan haus dan lapar, ataukah sudah mampu untuk
mengoyakkan hati dan bukan semata bajuku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar