Sabtu, 08 Maret 2014

Polisi Di Balik Terali Besi Pos Polisi




Saat masuk kota Palembang, saya heran dengan rumah yang diperlengkapi teralis demikian tinggi, dan rapat. Mengapa demikian? Suatu hari penjelasan itu saya dapat dari perbincangan oleh orang yang jauh lebih dahulu hidup di sana. Teralis dibuat untuk melindungi rumah dan penghuninya, karena saking rawan dan tidak amannya kota Palembang waktu itu, sekitar tahun delapanpuluhan hingga akhir sembilanpuluhan. Keanehan itu menjadi wajar ketika mengetahui alasannya ialah melindungi diri dari ketidakamanan.
Teralis digunakan pula di penjara-penjara. Manusia yang melanggar hukum dipisahkan dari dunianya dan diambil kebebasannya, dengan dimasukkan di balik jeruji besi. Kalau demikian tidak mungkin pos polisi yang diperlengkapi teralis itu untuk merampas kebebasannya karena melanggar hukum.
Hari-hari ini, pos polisi diperlengkapi dengan teralis. Kalau analisis alasannya adalah sama dengan rumah-rumah di kota Palembang, karena tidak aman, berarti pos polisi sangat tidak aman. Polisi yang di dalamnya merasa terancam dan perlu diperlengkapi dengan keamanan tambahan, yaitu teralis.
Tugas polisi salah satunya adalah pengayom. Pengayom berarti orang yang mengayomi, melindungi. Lha bagaimana kalau dirinya sendiri saja “ketakutan” mau melindungi yang lain. Apalagi beberapa waktu yang lalu, ada anjuran polisi menemani polisi. Ini perintah atau anjuran yang sangat aneh, kalau tidak boleh dikatakan naif. Bagaimana pengayomnya adalah orang-orang yang sedang ketakutan, minimal secara psikologis.  

Bagaimana yang mau dilindungi? Merasa aman? Atau justru jauh lebih takut dan merasa tidak aman? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar