Saat masuk kota Palembang, saya
heran dengan rumah yang diperlengkapi teralis demikian tinggi, dan rapat.
Mengapa demikian? Suatu hari penjelasan itu saya dapat dari perbincangan oleh
orang yang jauh lebih dahulu hidup di sana. Teralis dibuat untuk melindungi
rumah dan penghuninya, karena saking rawan dan tidak amannya kota Palembang
waktu itu, sekitar tahun delapanpuluhan hingga akhir sembilanpuluhan. Keanehan
itu menjadi wajar ketika mengetahui alasannya ialah melindungi diri dari
ketidakamanan.
Teralis digunakan pula di
penjara-penjara. Manusia yang melanggar hukum dipisahkan dari dunianya dan
diambil kebebasannya, dengan dimasukkan di balik jeruji besi. Kalau demikian
tidak mungkin pos polisi yang diperlengkapi teralis itu untuk merampas
kebebasannya karena melanggar hukum.
Hari-hari ini, pos polisi
diperlengkapi dengan teralis. Kalau analisis alasannya adalah sama dengan
rumah-rumah di kota Palembang, karena tidak aman, berarti pos polisi sangat
tidak aman. Polisi yang di dalamnya merasa terancam dan perlu diperlengkapi
dengan keamanan tambahan, yaitu teralis.
Tugas polisi salah satunya adalah
pengayom. Pengayom berarti orang yang mengayomi, melindungi. Lha bagaimana
kalau dirinya sendiri saja “ketakutan” mau melindungi yang lain. Apalagi
beberapa waktu yang lalu, ada anjuran polisi menemani polisi. Ini perintah atau
anjuran yang sangat aneh, kalau tidak boleh dikatakan naif. Bagaimana
pengayomnya adalah orang-orang yang sedang ketakutan, minimal secara
psikologis.
Bagaimana yang mau dilindungi?
Merasa aman? Atau justru jauh lebih takut dan merasa tidak aman?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar