Rabu, 19 Maret 2014

Sekolah atau Kenduri

Apa namanya, saya sungguh bingung mau memberikan nama akan peristiwa hari ini. Pagi-pagi salah satu sahabat yang baru setahun  menjadi guru, share, dan cenderung curhat, mengeluh, saat dia salah membuat kunci jawaban untuk ujian, ketika mengatakan hendak memperbaiki kekeliruan tersebut mendapat jawaban tidak perlu, yang penting nilai delapan keatas.
Permainan nilai dengan tujuan adalah kelulusan. Pendidikan negara ini masih berorientasi kepada kelulusan semata, dan belum menjadi bekal hidup. Anak yang tekun, rajin, belajar dengan serius tidak akan berbeda dengan siswa, yang hanya menyelipkan buku terlipat di saku celana, merokok, tidur di kelas, dan bahkan yang tidak pernah masuk sekalipun.
Saya ingat, waktu kelas dua SMP sekian dasa warsa lalu, salah satu guru menjelaskan beda kenduri dan sekolah. Beliau waktu itu mengatakan, “Kalau kamu itu kenduri, mau main kartu, minum-minum, tidur, ngobrol, atau merokok, hasilnya sama, satu besek (waktu itu) atau kota nasi dengan lauk pauk, makanan yang berisi sama persis. Bahkan yang tidak berangkat pun kadang masih diantar ke rumah dengan rupa yang persis sama”. Namun kata beliau selanjutnya,”Sekolah bukan kenduri, kalau kamu sekolah, tidak serius, tidak belajar, tidak berusaha, apa yang kamu dapatkan akan berbeda. Perolehan orang yang belajar tergantung dengan usaha, keseriusan, dan kerja keras masing-masing orang atau individu itu.”
Apa yang terjadi sekarang? Nilai ambang bawah adalah misalnya delapan, kita ambil contoh adalah ini, anak yang mendapat nol, satu, dua dan seterusnya akan mendapatkan nilai minimal delapan, berarti ada penambahan nilai, delapan, tujuh, enam dan seterusnya. Kita telaah lagi, kalau siswa mendapat nilai delapan, masih ada kemungkinan dinaikan jadi sembilan, atau sembilan koma lima, kalau mendapat sembilan koma sekian, mau diberi nilai berapa? Sepuluh, sebelas, atau berapa?

Sekolah sekarang sudah bergeser sama dengan kenduri, kata almarhum bapak guru yang membedakan kenduri dan sekolah itu masih lekat di dalam benak saya, ternyata sudah hilang dari dunia pendidikan yang sangat fundamental ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar