Apa
namanya, saya sungguh bingung mau memberikan nama akan peristiwa hari ini. Pagi-pagi
salah satu sahabat yang baru setahun menjadi
guru, share, dan cenderung curhat,
mengeluh, saat dia salah membuat kunci jawaban untuk ujian, ketika mengatakan
hendak memperbaiki kekeliruan tersebut mendapat jawaban tidak perlu, yang
penting nilai delapan keatas.
Permainan
nilai dengan tujuan adalah kelulusan. Pendidikan negara ini masih berorientasi
kepada kelulusan semata, dan belum menjadi bekal hidup. Anak yang tekun, rajin,
belajar dengan serius tidak akan berbeda dengan siswa, yang hanya menyelipkan
buku terlipat di saku celana, merokok, tidur di kelas, dan bahkan yang tidak
pernah masuk sekalipun.
Saya
ingat, waktu kelas dua SMP sekian dasa warsa lalu, salah satu guru menjelaskan
beda kenduri dan sekolah. Beliau waktu itu mengatakan, “Kalau kamu itu kenduri,
mau main kartu, minum-minum, tidur, ngobrol, atau merokok, hasilnya sama, satu besek (waktu itu) atau kota nasi dengan
lauk pauk, makanan yang berisi sama persis. Bahkan yang tidak berangkat pun
kadang masih diantar ke rumah dengan rupa yang persis sama”. Namun kata beliau
selanjutnya,”Sekolah bukan kenduri, kalau kamu sekolah, tidak serius, tidak
belajar, tidak berusaha, apa yang kamu dapatkan akan berbeda. Perolehan orang
yang belajar tergantung dengan usaha, keseriusan, dan kerja keras masing-masing
orang atau individu itu.”
Apa
yang terjadi sekarang? Nilai ambang bawah adalah misalnya delapan, kita ambil
contoh adalah ini, anak yang mendapat nol, satu, dua dan seterusnya akan
mendapatkan nilai minimal delapan, berarti ada penambahan nilai, delapan,
tujuh, enam dan seterusnya. Kita telaah lagi, kalau siswa mendapat nilai
delapan, masih ada kemungkinan dinaikan jadi sembilan, atau sembilan koma lima,
kalau mendapat sembilan koma sekian, mau diberi nilai berapa? Sepuluh, sebelas,
atau berapa?
Sekolah
sekarang sudah bergeser sama dengan kenduri, kata almarhum bapak guru yang
membedakan kenduri dan sekolah itu masih lekat di dalam benak saya, ternyata
sudah hilang dari dunia pendidikan yang sangat fundamental ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar