1. Persiapan
Perkawinan menurut Familiaris Consortio
Lebih dari sebelumnya, perlulah pada
zaman kita ini kaum muda dipersiapkan untuk perkawinan dan hidup berkeluarga.
Dalam beberapa negeri, masih keluarga-keluarga sendirilah yang menurut adat
istiadat lama, mengusahakan agar nilai-nilai tentang hidup perkawinan dan
berkeluarga diteruskan kepada kaum muda, dan mereka melaksanakan tugas itu
melalui pendidikan atau inisiasi yang berjalan tahap demi tahap. Akan tetapi, perubahan-perubahan
yang telah terjadi di dalam hampir semua masyarakat modern menuntut bahwa tidak
hanya keluarga tetapi juga masyarakat dan Gereja terlibat dalam usaha
mempersiapkan sebaik-baiknya kaum muda untuk menyambut tanggung jawab mereka
pada masa yang akan datang. Banyak fenomena negatif dalam hidup berkeluarga
yang sekarang ini disesalkan berasal dari fakta bahwa dalam situasi-situasi
baru, kaum muda tidak hanya tidak melihat tataran nilai yang benar tetapi juga
tidak tahu caranya menghadapi dan
menangani kesulitan-kesulitan baru karena tidak lagi mempunyai criteria
perilaku yang pasti. Akan tetapi, pengalaman mengajarkan bahwa kaum muda yang
telah dipersiapkan dengan baik untuk hidup berkeluarga biasanya lebih berhasil
daripada kaum muda yang lain.
Hal itu bahkan lebih dapat
diterapkan pada perkawinan Kristiani, yang mempengaruhi kekudusan pria dan
wanita dalam jumlah yang besar. Maka, Gereja harus meningkatkan program-program
persiapan perkawinan yang lebih baik dan lebih intensif, untuk melenyapkan
sedapat-dapatnya kesulitan-kesulitan yang dialami oleh banyak pasangan
suami-istri dan lebih lagi untuk memberikan dukungan yang positif ke arah
tegaknya dan masaknya perkawinan-perkawinan yang berhasil.
Persiapan
perkawinan harus dilihat dan dilaksanakan sebagai proses yang berjalan bertahap
dan terus menerus. Persiapan itu meliputi tiga tahap utama, persiapan jauh,
persiapan dekat, dan persiapan terakhir.
Persiapan jauh mulai pada masa
kecil, dalam pendidikan keluarga bijaksana yang menuntun anak-anak untuk
menemukan diri mereka sendiri sebagai orang yang dikarunia kejiwaan yang kaya
dan kompleks serta kepribadian khusus dengan kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahannya sendiri. Masa itu adalah masa ketika penghormatan pada
semua nilai manusiawi yang sejati ditanamkan, baik dalam hubungan-hubungan
antarpribadi maupun dalam hubungan-hubungan sosial, dengan segala sesuatu yang
mempunyai arti untuk pembentukan watak, untuk pendendalian dan penggunaan yang
benar dan kecenderungan-kecenderungan, untuk perilaku dalam memandang dan
menjumpai orang-orang lain jenis, dan sebagainya. Juga perlu dan terutama bagi orang-orang Kristiani, pembinaan rohani
dan katekese yang menunjukkan bahwa perkawinan merupakan panggilan dan
perutusan sejati, tanpa menutup kemungkinan untuk memberikan diri seutuhnya
kepada Allah dalam panggilan menjadi imam atau biarawan.
Atas dasar itu selanjutnya langkah
demi langkah dilaksanakan persiapan dekat, persiapan ini sejak usia yang sesuai
dan dengan katekese yang memadai, seperti dalam proses katekumenat-meliputi
persiapan yang lebih khusus untuk menyambut sakramen-sakramenitu. Katekese yang
diperbarui untuk kaum muda dan
orang-orang lain, yang mempersiapkan mereka menuju perkawinan Kristiani
itu mutlak perlu agar sakramen perkawinan itu dapat dirayakan dan dihayati
dengan sikap-sikap moral dan spiritual yang benar. Pembinaan hidup beragama
bagi kaum muda harus diintegrasikan, pada saat yang tepat dan sesuai dengan
berbagai tuntutan konkret dengan persiapan untuk hidup sebagai suami-istri.
Persiapan itu menampilkan perkawinan sebagai hubungan antarpribadi seorang pria
dan seorang wanita yang harus terus menerus dikembangkan dan mendorong mereka
yang berkepentingan untuk mempelajari hakikat hubungan suami-istri dan
panggilan menjadi bapak ibu yang bertanggung jawab, beserta pengetahuan medis
dan biologis yang secara hakiki bersangkut paut dengan itu. Persiapan itu juga
memperkenalkan mereka yang berkepentingan dengan metode-metode yang tepat untuk
mendidik anak, dan membantu mereka dalam memperoleh hal-hal pokok yang
diperlukan untuk hidup berkeluarga yang tertata baik, seperti pekerjaan yang
tetap, sumber-sumber daya keuangan yang cukup, tata laksana yang masuk akal,
pengertian-pengertian tentang pemeliharaan rumah tangga.
Akhirnya, tidak boleh diabaikan
persiapan untuk kerasulan keluarga untuk solidaritas persaudaraan dan kerjasama
dengan keluarga-keluarga lain, untuk menjadi anggota aktif dalam
kelompok-kelompok, perhimpunan-perhimpunan, gerakan-gerakan, dan usaha-usaha
yang diadakan agar keluarga memetik manfaat manusiawi dan Kristiani.
Persiapan terakhir untuk merayakan
sakramen perkawinan harus diadakan dalam bulan-bulan dan minggu-minggu terakhir
sebelum pernikahan, supaya dapat memberikan arti, isi, dan bentuk yang baru
pada apa yang disebut penelitian pernikahanpranikah yang dituntut oleh Hukum
Gereja (Kanon). Persiapan itu perlu untuk setiap pasangan, tetapi diperlukan
secara lebih mendesak oleh pasangan tunangan yang masih memperlihatkan
kekurangan-kekurangan atau kesulitan-kesulitan dalam ajaran dan praktek hidup
Kristiani.
Di antara unsur-unsur yang harus
ditanamkan dalam perjalanan iman ini, yang mirip dengan masa katekumenat, harus
ada penegtahuan yang lebih dalam tentang misteri Kristus dan Gereja, tentang
makna rahmat dan tanggung jawab perkawinan Kristiani, maupun persiapan untuk
mengambil bagian yang aktif dan sadar dalam upacara liturgi perkawinan.
Keluarga Kristiani dan seluruh
persekutuan gerejani harus merasa terlibat dalam berbagai tahap persiapan
perkawinan yang telah dilukiskan menurut garis besarnya saja. Diharapkan bahwa
Konferensi-Konferensi Para Uskup, selain memperhatikan inisiatif-inisiatif yang
tepat untuk membantu pasangan-pasangan tunangan lebih menyadari pentingnya
pilihan mereka dan untuk membantu para gembala jiwa memastikan kelayakan
sikap-sikap hati pasangan-pasangan itu, juga akan mengambil langkah-langkah
untuk mengusahakan penerbitan suatu Pedoman Pastoral Keluarga. Dalam buku itu
mereka harus menetapkan, pertama-tama isi minimum lama waktu dan metode
“Kursus-Kursus Persiapan”, dengan keseimbangan antara berbagai segi ajaran,
pedagogi, hukum, dan kesehatan-berkenaan dengan perkawinan, dan menyusunnya
sedemikian rupa sehingga mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk perkawinan
tidak hanya memperoleh latihan intelektual melainkan juga merasakan keinginan
untuk masuk ke dalam persekutuan gerejani secara aktif.
Meskipun tidak boleh diremehkan
keperluan dan kewajiban persiapan terakhir
menuju perkawinan itu yang akan terjadi bila dispensasi terlalu mudah
diberikan- namun persiapan itu toh harus selalu dirancang dan dilaksanakan
sedemikian rupa sehingga peniadaannya tidak merupakan halangan untuk merayakan
perkawinan.
2. Analisis Persiapan
Perkawinan menurut Familiaris Consortio
Paus
Yohanes Paulus II memberikan perhatian kepada keluarga, bahkan kepada calon
mempelai yang hendak melaksanakan pernikahan. Paus menghendaki para calon
pengantin dibekali dengan persiapan-persiapan , bahkan sejak anak tersebut
kecil dan ada di dalam rumah tangga orangtuanya. Persiapan tersebut sebagai
berikut:
a.
Persiapan Jauh
Persiapan
jangka jauh merupakan pendidikan bagi anak di dalam keluarga. Anak-anak di
dalam rumah dibina, dibimbing, dan dididik untuk menemukan drinya, menyadari
diri sebagai pribadi yang unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Perlu
ditanamkan dalam diri anak-anak nilai-nilai kristiani baik sebagai makhluk
pribadi ataupun berkaitan dengan diri sebagai bagian sosial kemasyarakatan.
Dengan demikian anak diarahkan untuk memahami bahwa sakramen perkawinan
merupakan suatu panggilan untuk hidup bersama dalam ikatan cinta kasih dengan
orang lain. Anak akan menangkap penerimaan oleh orangtua sebagai pelajaran agar
anak dapat menerima orang lain sebagaimana dirinya sendiri yang telah diterima
buruk oleh orangtuanya. Anak perlu
dibimbing pula untuk dapat memilih mana yan baik dan mana yang buruk sesuai dengan tingkatan perkembangan
anak melalui kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dan keteladanan
orangtua yang penuh kasih sayang antara suami-istri, orangtua kepada anak-anak,
ataupun dengan tetangga sekitar, membuat anak memiliki sikap yang sama.
Nilai-nilai positif keluarga menjadi bekal bagi anak untuk menatap masa depan.
Apa yang direkam anak akan diterapkan, ketika anak membangun keluarganya
sendiri. Sebaliknya, kalau anak merekam lebih banyak hal negatif, juga akan
membawa hal-hal yang negatif dalam keluarga yang dibina dikemudian hari.
b.
Persiapan
Dekat
Persiapan
jangka dekat ini dilakukan untuk anak-anak remaja. Anak-anak perlu dibekali
mengenai arti perkawinan sebagai sakramen. Katekese mengenai sakramen secara
umum, dan teristimewa sakramen perkawinan merupakan pengajaran yang penting,
agar nanti sakramen ini dapat dirayakan dengan penilaian dan pemilihan secara
moral dan spiritual yang benar.
Anak
diajak untuk mengerti bahwa perkawinan merupakan ikatan antara laki-laki dan
perempuan dalam persekutuan kebersamaan seluruh hidup yang terarah kepada
kesejahteraan suami-istri, anak-anak, dan pendidikan anak-anak, yang bersifat
monogam dan tidak terceraikan. Oleh
Kristus perkawinan dua orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen,
sebagai tanda dan sarana keselamatan.
Hakikat
seksualitas laki-laki dan perempuan, dan juga sebagai suami-istri, keintiman,
keluarga bertanggung jawab, tugas orangtua untuk mendidik anak-anak, informasi
awal hal-hal praktis mengenai hidup berkeluarga seperti pekerjaan, pengelolaan
ekonomi rumah tangga perlu diajarkan dan diberikan kepada anak sebagai
pembinaan dan pembekalan di kemudian hari.[1]
c.
Persiapan
Terakhir
Persiapan
terakhir ini diadakan mendekati hari perkawinan, beberapa bulan atau minggu
sebelum pelaksanaan perkawinan. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dan
penekanan dalam persiapan tahap ini ialah pengetahuan yang lebih mendalam
mengenai sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana cinta Kristus kepada
Gereja-Nya, arti rahmat Allah bagi hidup manusia, terutama di dalam hidup
perkawinan, tanggung jawab perkawinan Kristiani, persiapan dan perencanaan
liturgi perkawinan. Termasuk di dalam persiapan terakhir ini ialah penyelidikan
kanonik yang dilakukan oleh pastor paroki atau yang akan menjadi peneguh
perkawinan, bertujuan untuk mengenal lebih jauh mengenai calon mempelai dengan
seluruh latar belakangnya, ada tidak kemungkinan halangan dan larangan yang
perlu diselesaikan ataupun membuat pernikahan yang akan dilakukan merupakan
larangan, dan kursus persiapan perkawinan.
Kursus
Persiapan Perkawinan diberikan kepada calon pasangan suami-istri yang telah
memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat. Kursus dan bimbingan ini bersifat
lebih informatif dengan tujuan untuk memberikan bekal yang memadai untuk para
calon pengantin mengenai informasi-informasi yang berhubungan dengan
perkawinan, yang sekiranya akan diperlukan dalam menghadapi dinamika hidup
perkawinan yang akan dijalani. Persiapan akhir sangat ideal apabila dilakukan
oleh tim yang terdiri atas anggota-anggota yang memiliki kemampuan dalam bidang
keluarga.[2]
Hai Calon Pengantin ~
BalasHapusPercayakah kalian bahwa melangsungkan pernikahan tidak perlu ribet dan mahal? Dengan memakai jasa Wedding Organizer HIS Graha Elnusa, Anda bisa melangsungkan pernikahan ALL IN PACKAGE bergaya elegant di Jakarta Selatan dengan harga dibawah rata-rata dan dapat CASHBACK 35 Juta juga lho!
Mau tahu berbagai jenis Wedding Packagenya? Langsung saja kunjungi www.hisgrahaelnusa.com dan pantau terus update terbaru kami di Instagram @his_grahaelnusa.
> For more info please contact Marketing HIS Wedding Graha Elnusa 083873396243 (RATIH) atau datang langsung ke kantor HIS di Graha Elnusa Lt.2, Jl.TB. Simatupang Kav.1B, Cilandak Timur.