Materi atau bahan yang dibahas dan diberikan kepada calon pengantin kadang-kadang berbeda satu tempat dengan tempat yang lain. Dalam buku Membangun Keluarga Kristiani, memberikan gambaran beberapa bahasan yang perlu diberikan sebagai berikut:
Perkawinan dalam Pandangan Katolik. Dalam pembahasan mengenai tema ini,
calon pasangan suami istri diberi pengetahuan mengenai pandangan Katolik
mengenai perkawinan. Pengertian perkawinan Kristiani, hakikat perkawinan
Gerejani, tujuan perkawinan, syarat-syarat, ciri-ciri, halangan-halangan
perkawinan, tugas suami istri yang dikehendaki oleh Gereja Katolik.
Perkawinan dapat dimengerti sebagai persekutuan hidup antara seorang
laki-laki dan seorang wanita, atas dasar ikatan cinta kasih yang total, dengan
persetujuan bebas dari keduanya yang tidak dapat ditarik kembali. [1] persekutuan
berarti bahwa perkawinan menjadikan kedua mempelai menjadai satu daging yang
didasari persetujuan yang tidak boleh dikarenakan paksaan atau desakan dengan
alasan apapun.
Pada hakikatnya perkawinan merupakan persekutuan menyeluruh antara dua pribadi,
sekaligus sakramen sebagai lambang kehadiran Allah melalui keluarga tersebut
yang termasuk ke dalam lembaga hukum.[2]
Tujuan perkawinan menurut Konsili Vatikan II, khususnya melalui Gaudium
et Spes, yaitu untuk kesejahteraan suami-istri, kesejahteraan anak-anak,
dan kesejahteraan seluruh masyarakat. Tujuan dan urutan di sini bukan
mengandaikan bahwa perkawinan memiliki tujuan nomor satu untuk kesejahteraan
suami-istri dan mengalahkan kesejahteraan anak, tidak demikian. Tidak ada
pertentangan dan justru malah perlu diusahakan agar seiring dan sejalan. [3]
Ciri perkawinan Kristiani yaitu monogam dan tak terceraikan. Monogam
berarti satu laki-laki dengan satu wanita. Dengan demikian cinta kasih yang ada
utuh dan tidak terbagi. Hal tersebut juga sebagai cerminan bahwa laki-laki dan
perempuan memiliki martabat yang sama. Monogam dalam perkawinan kristiani
berarti mengesampingkan paham poligami dan poliandri. Poliandri berarti bahwa
satu perempuan memiliki beberapa suami sekaligus, sedang poligami, seorang
laki-laki memiliki istri lebih dari satu sekaligus.
Tak terceraikannya perkawinan kristiani dikarenakan Allah sendiri yang
menyatukan suami-istri melalui perjanjian yang diikrarkan dengan bebas. Cinta
sejati adalah cinta yang setia dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Dasar
biblis dari ciri ini yaitu Markus 10:9 yang menyatakan “Apa yang telah
disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.” perceraian membuktikan bahwa
suami dan istri gagal memgembangkan cinta sejati.
Psikologi Keluarga. Psikologi keluarga penting di dalam membangun mahligai
perkawinan, karena keluarga merupakan penyatuan dua pribadi yang berbeda.
Beberapa perbedaan perlu adanya penyesuaian agar dapat menjadi keluarga yang
sehat.
Beberapa sub tema dalam tema Psikologi keluarga, antara lain, perbedaan
laki-laki dan perempuan, tahap-tahap perkembangan manusia, kedewasaan pribadi
sebagai laki-laki dan perempuan, pandangan perkawinan antara laki-laki dan
perempuan, sebab-sebab kegagalan membangun perkawinan baik sebelum ataupun
setelah pernikahan.
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan merupakan hal yang tidak dapat
dipungkiri, dan secara kodrat sudah melekat pada setiap pribadi. Dalam
perkawinan perbedaan tersebut harus dikelola untuk menjadi satu sebagai
kesatuan yang bersifat saling melengkapi, sebagaimana Allah menciptakan
laki-laki dan wanita untuk saling melengkapi satu sama lain.
Perbedaan fisiologis/biologis:
|
NO
|
PRIA
|
NO
|
WANITA
|
|
1.
|
Tubuh: menonjolkan
garis-garis lurus, tegak,kuat, dan kekar yang melambangkan keperkasaan dan
kekuatan
|
1
|
Tubuh: lebih menonjolkkan
garis-garis melingkar, bulat, lambang kelembutan, kasih sayang, dan perasaan
aman
|
|
2.
|
Dada lapang, bahu lebar,
untuk bekerja dan untuk melindungi yang lemah
|
2
|
Bahu relative kecil dan
melengkung buah dada berkembang dan menggelembung
|
|
3.
|
Pinggul agak kecil
disbanding dengan bahu
|
3
|
Pinggang kecil tapi tulang
pinggul menonjol bulat
|
|
4.
|
Kaki kokoh, kuat, tegak
lurus, tampak otot-ototnya
|
4
|
Karena tulang pinggul lebih
besar, paha besar, dan kaki meruncing ke bawah
|
|
5.
|
Lengan dan tangan penuh
otot, kekar, kuat, dan keras
|
5
|
Lengan dan tangan lembut dan
lemas
|
|
6.
|
Suara besar. Ada jakun di
leher
|
6
|
Suara kecil merdu. Leher
rata
|
|
7.
|
Alat kelamin terletak di
luar rongga tubuh
|
7
|
Alat kelamin tersembunyi di
dalam rongga tubuh
|
|
8.
|
Bulu rambut pada muka
(kumis), pada kulit kaki, lengan, dada
|
8
|
Tidak ada rambut di dada dan
kulit
|
Perbedaan laki-laki dan wanita juga meliputi bidang psikologis. Dari
perbedaan inilah sering timbul perselisihan, karena orang lebih suka berpikir
berdasar pada diri sendiri dan mengandaikan orang lain mengerti seperti yang
dipikir, dirasa, dan dilakukan dirinya sendiri.
Perbedaan psikologis sebagai berikut:
|
NO
|
PRIA
|
NO
|
WANITA
|
|
1
|
Pola dasar pandangan pada
dunia/ objek
|
1
|
Pola dasar pandangan ke
dalam terarah pada subyek/manusia
|
|
2
|
Suka menjelajah dan
menyelidiki alam sekitar
|
2
|
Lebih gemar tinggal di
rumah, memelihara, dan merawat
|
|
3
|
Suka “membongkar dan
membangun” pria mmbangun dunia menjadi rumah tempat tinggal (membangun a
house)
|
3
|
Suka menyayangi dan
memelihara. Wanita pandai menciptakan suasana di rumah menjadi tempat tinggal
yang membuat orag kerasan (membuat suatu home)
|
|
4
|
Suka bekerja di luar,
mencari nafkah dan menguasai dunia
|
4
|
Perhatian lebih untuk
pribadi sesama manusia (anak)
|
|
5
|
Suka mencoba, mencari dan
melihat-lihat
|
5
|
Butuh diperhatikan, senang
dilihat dan dicari
|
|
6
|
Aktif, mengambil inisiatif,
suka mengkritik dan memprotes
|
6
|
Reaktif, menanggapi, lebih
tabah dan mudah menerima
|
|
7
|
Intelek dan rasio lebih
utama, dapat menggendalikan perasaan dengan akalnya
|
7
|
Emosi dan perasaan lebih
menonjol dan hal itu mempengaruhi pikirannya
|
|
8
|
Lebih melihat kenyataan
objektif, terarah pada garis-garis besar, lebih teguh dalam keputusan
|
8
|
Perhatian sampai detil-detil
(hal-hal kecil), cenderung intuitif, mudah mengubah keputusan
|
Tahap perkembangan pria dan wanita dalam hal ini berkaitan dengan perubahan
dan reaksi kejiawaan. Tahap perkembangan besar dalam diri manusiawi yaitu tahap
kanak-kanak sampai masa pubertas, dna masa pubertas sampai dengan. Pada masa
kanak-kanak hamper tidak ada perkembangan yang khusus, artinya masing-masing
jenis belum merasa tertarik kepada jenis lain. Perkembangan terutama pada
pengenalan akan dirinya sendiri, dalam kelompok dan jenis. Namun sejak awal,
perbedaan ini sudah Nampak. Pada umur SD, hal ini sering nampak dalam bentuk
persaingan dan suka saling mengganggu.
Fase pubertas sampai dewasa. Masa ini ditandai dengan mulainya gejala
ketidakmantapan perasaan: mulai suka melamun, malas, menyendiri, bergumul
dengan dirinya sendiri untuk menemukan harkat dirinya sebagai laki-laki atau
perempuan.
Menjelang mulainya haid/menstruasi anak perempuan perlu adanya penjelasan
dan bimbingan, agar dapat menerima diri dengan wajar, termasuk proses yang
etrjadi di dalam tubuhnya. Haid pertama yang kurang mendapat bimbingan dan
penjelasan akan menjadi beban berat baginya.
Bagi anak laki-laki, bimbingan dan pengarahan juga benar-benar diperlukan.
Pengalaman seksual anak laki-laki cenderung ke arah menyenangkan dan
menggairahkan. Karena cara hidupnya lebih terarah “ke luar”, biasanya anak
laki-laki lebih banyak mendengar dan melihat di luar. Kalau informasi yang
diperoleh tidak benar, tidak lengkap, dan bahkan menyesatkan tentunya berbahaya
bagi perkembangan pribadi anak.[4]
Moral Perkawinan. Calon pasangan, perlu dibekali pengertian mengenai moral,
moral secara umum, moral perkawinan. Hal ini untuk membekali calon mempelai
dengan ajaran mendasar antara yang boleh dilakukan dan tidak sebagai manusia
angota masyarakat ataupun anggota Gereja. Tema ini juga membahas mengenai Kitab
Suci dan ajaran Gereja mengenai penciptaan, manusia sebagai citra Allah,
laki-laki dan perempuan saling melengkapi.
Norma moral kristiani, membahas mengenai moral sebagai pedoman atau ajaran tentang
yang baik dan buruk halal-haram, yang mengatur sikap batin dan perilaku
manusia. Atau dengan kata lain sebagai pedoman bagaimana manusia harus hidup
supaya menjadi baik sesuai dengan maksud Tuhan Pencipta Yang Mahabaik.
Ukuran untuk menilai tentang baik buruknya sikap dan tindakan manusiawi
pada dasarnya ada dua, yaitu hati nurani dan norma. Hati nurani ialah, pedoman
atau guru yang berasal dari dalam diri sendiri yang akan memberitahukan kepada
pribadi manusia tersebut apa yang harus dilakukan, menuntut kepada pribadi
manusia untuk berbuat baik dan menjauhi yang buruk, kemudian menilai perbuatan
manusiawi sebelum, selama, dan setelah berbuat.
Norma tingkah laku diterima dari luar, dari pendidikan oleh orangtua, dari
lingkungan, masyarakat sekitarm adat istiadat, kebiasaan, hukum negara, dan
ajaran agama. Ada ajaran norma yang hanya menunjukkan mana yang biasa, atau
normal, mana yang tidak dapat diterima oleh lingkungan. Ada juga yang
mewajibkan kepada pribadi-pribadi untuk melakukan sesuatu yang disertai sanksi
kalau tidak melakukanya.
Sumber moral kristiani ada dua yaitu, kitab suci dan ajaran gereja, sebagai
pedoman atau prinsip umum yang diberikan kepada umat manusia yang berasal dari
“atas”. Sumber yang kedua, penalaran akal budi manusia, dilengkapi dengan
pengalaman dan ilmu pengetahuan, yang berasal dari “bawah”.
Moral perkawinan bermaksud memberikan pedoman apa yang harus dilakukan
supaya perkawinan betul-betul sesuai dengan maksud Tuhan Pencipta dengan
menghindari dosa dan penyelewengan.
Pokok ajaran kitab suci dan ajaran gereja mengenai perkawinan: Kitan suci
mengawali pengajarannya dengan kisah penciptaan. Bab awal dalam Kitab Kejadian
menunjukkan maksud Allah yang sebenarnya dengan manusia dan dunia. Allah
menciptakan semuanya baik dan mencerminkan sesuatu dari keagungan
Allah. Kasih Allah merupakan sumber kehidupan.
Kitab suci juga mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia menurut
citra-Nya dan gambaran-Nya sendiri sebagai pria dan wanita. Allah menciptakan
manusia dalam rupa pria dan wanita, dua jenis kelamin dengan daya tarik antara
keduanya.
Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi sebagai teman hidup dan
menempuh jalan hidup bersama. Allah menciptakan Hawa dan menghantarkannya
kepada Adam sebagai teman sepadan, sebagai penolong pasangannya. Nampak bahwa
Allah menciptakan keduanya dalam kesamaan harkat, derajad, dan martabat pria
dan wanita.
Allah menciptakan manusia sebagai pria dan wanita agar saling melengkapi
dalam kesatuan keluarga. Keluarga sebagai satu unit yang baru. Berkaitan dengan
keluarga, ikatan keluarga ditinggalkan untuk membentuk keluarga sendiri,
berarti cinta kasihnya lebih ke arah keluarganya sendiri tanpa melupakan dan
menghilangkan hormat kepada orangtua. [5]
Komunikasi. Keluarga merupakan ikatan yang dibangun oleh dua orang dengan
kepribadian, kebiasaan, sifat, dan masih banyak pembawaan dari masing-masing
pribadi yang menyusunnya. Untuk dapat menjadi bangunan yang kokoh berupa
perkawinan membutuhkan komunikasi sebagai sarana membangun keluarga. Proses
penyesuaian, tahap demi tahap untuk dapat membangun relasi dan komunikasi dalam
keluarga.
Bentuk komunikasi dalam keluarga dapat dibedakan dalam empat bahasa
komunikasi. Komunikasi dalam bentuk verbal dan non verbal yang masing-masing
terdiri atas dua kelompok juga. Komunikasi verbal yaitu komunikasi dari kepala
ke kepala, dan hati ke hati, sedang komunikasi non verbal, komunikasi melalui
bahasa tubuh dan hubungan seks.
Kelompok komunikasi yang pertama, dari kepala ke kepala, komunikasi
kelompok ini ialah segala bentuk omong-omong dari basa-basi, saling memberikan
informasi, cerita apa yang dilihat dan dialami, membicarakan urusan
sehari-hari. Pembicaraan sehari-hari, saling tukar pendapat dan gagasan. Hal
ini dinamakan diskusi (bertukar isi kepala), hasil dari diskusi dapat berupa
kompromi, mengalah, atau toleransi dengan membiarkan saja pihak lain dengan
pemikirannya tanpa dihalang-halangi.
Komunikasi bentuk kedua termasuk komunikasi verbal yaitu dari
hati ke hati. Bentuk dari komunikasi dari hati ke hati yaitu dengan
mengutarakan apa yang ada dalam hati masing-masing dan perasaan-perasaan yang
ada yang dinamakan sebagai dialog. Dalam dialog, pasangan suami istri saling
tukar perasaan dan isi hati, bukan adu pendapat dan pemikiran lagi. Atas dasar
saling percaya dan terbuka untuk saling menerima, maka dapat saling
mengungkapkan isi hati dan perasaan. Saling mengerti dengan hati saling
memahami isi hati pasangan.
Dalam dialog tidak ada kalah dan menang, dalam dialog juga tidak ada
tuduhan, yang ada adalah pengungkapan perasaan. Dalam dialog tidak aka nada
pertikaian dan perselisihan. Karena berbicara mengenai rasa sering tidak mudah
dapat dijembatani dengan surat atau dalam bentuk tertulis.
Bahasa badan. Komunikasi yang lebih intim ini komunikasi diungkapkan dengan
ungkpan cinta, perhatian, dan kasih sayang satu sama lain tidka dengan
kata-kata melainkan dengan banyak cara lain. Ungkapan tersebut bisa berupa
pandangan mata, senyuman, sentuhan, belaian tangan, duduk berdampingan,
gandengan tangan, pijat-pijatan, rangkulan, ciuman, dekapan, dan masih banyak
yang lain.
Bahasa badan atau bahasa tubuh ini penting untuk membangun keintiman dan
menciptakan suasana akrab dan mesra. Bahasa badan memberikan rasa aman, nyaman,
terlindungi, diperhatikan, dan menambah keakraban. Bahasa badan ini tujuannya
bukan untuk kea rah rangsangan seksual, maka tidak menjadi persoalan ketika
dilihat anak-anak. Seperti ciuman sayang, atau ungkapan cinta yang lain.
Hubungan seks, atau hubungan badan. Komunikasi paling intim, mendalam,
menyeluruh, dan personal, sebagai perwujudan nyata dalam bersatu padu dengan
jiwa dan raga. Hubungan seks bukan semata biologis yang dilakukan dengan alat
kelaminnya, melainkan juga psikologis, emosional, dan juga spiritual, yang
menyangkut seluruh kepribadian manusiawi dan tidak dapat dipisahkan dengan
keseluruhan keadaan relasi suami-istri dan suasana keluarga.[6]
Faal Pria dan Wanita. Calon pasangan perlu dikenalkan mengenai
faal antara laki-laki dan wanita. Pengetahuan mengenai alat-alat reproduksi
antara laki-laki dan perempuan diajarkan untuk dikenali dan dimengerti dengan
baik oleh kedua belah pihak.
Perlu juga pengetahuan mengenai kehamilan untuk diketahui baik
oleh calon ibu ataupun calon bapak. Berbagai pengetahuan berkaitan
dengan kehamilan perlu dberikan.
Penyesuaian Seksual. Hidup perkawinan merupakan lembaga di mana terjadi
sahnya hubungan seksual atau hubungan badan. Calon mempelai perlu dibekali
mengenai kehidupan seksual. Hubungan khas suami-istri ini merupakan komunikasi
yang memerlukan banyak pengorbanan, penyesuaian, diskusi yang
mendalam. Tanpa adanya bekal yang memadai akan menimbulkan persoalan di
kemudian hari.
Ekonomi Rumah Tangga. Ekonomi memegang peran yang cukup penting di dalam
keluarga. Mengatur keuangan keluarga bukan persoalan yang mudah. Calon mempelai
perlu dibekali kemampuan untuk mengelola keuangan keluarga dengan baik.
Pokok masalah ekonomi rumah tangga. Cepat atau lambat setiap keluarga harus
mandiri, mencari makan sendiri, bayar kebutuhan rumah tangga seperti listrik,
sewa rumah, punya perabot rumah tangga, pada suasa saat akan mendapatkan anak.
Selanjutnya anak harus bersekolah dari jenjang ke jenjang.
Suatu waktu akan menghadapi keadaan kurang menguntungkan dengan mengalami
sakit, perlu obat, perlu rekreasi, ditarik aneka sumbangan, baik lingkungan
masyarakat, lingkungan Gereja, ataupun sekolah anak. Perbaikan rumah, alat
transportasi, pajak, dan masih banyak lagi.
Kebutuhan selalu bertambah, padahal penghasilan tidak secepat dan sebesar
kebutuhan. Oleh karena itu keluarga apalagi keluarga muda perlu memegang
prinsip-prinsip pengaturan keuangan dalam rumah tangga.
Persoalan semua rumah tangga berkaitan dengan bagaimana mau memenuhi
kebutuhan keluarga yang selalu berkembang dengan penghasilan yang masuk relatif
tetap tersebut? Persoalan tersebut dapat dijawab dengan menambah penghasilan
dan mengurangi pengeluaran. Namun apakah dengan mudah dan demikian saja
dilakukan? Jawabanya pasti tidak. Keluarga-keluarga lebih baik memikirkan
bagaimana mengatur ekonomi rumah tangganya dengan bijaksana. Mampu mengatur
ekonomi rumah tangga berarti, mampu mengatur pengeluaran sesuai dengan
pemasukan dan sesuai dengan perencanaan yang sudah dibuat. Keluarga juga perlu
untuk mampu mengadakan pilihan dan seleksi atas kebutuhan, mana yang
benar-benar dibutuhkan, dan mana yang perlu dan kurang perlu pada saat ini.
Kebijaksanaan keluarga juga dibutuhkan dalam mengadakan tabungan untuk
mewujudkan keinginan dan kebutuhan masa mendatang yang sudah
direncanakan. Keluarga bijaksana akan mampu mengatur keuangan sedemikian rupa
sehingga tidak terjebak hutang dan mudah membeli sesuatu dengan cara kredit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar