Rabu, 01 Oktober 2014

Proses Pendampingan Persiapan Perkawinan


Proses pendampingan persiapan perkawinan, untuk jangka panjang sebenarnya tidak ada proses secara khusus, karena pendidikan sehari-hari dalam keluarga sebenarnya sudah merupakan pendampingan persiapan perkawinan. Keteladanan yang diberikan orangtua bagi anak-anak di dalam hidup berkeluarga, terutama cinta kasih secara langsung maupun tidak langsung merupakan pendampingan bagi anak menuju perkawinan kelak di kemudian hari.[1]
Persiapan jangka dekat prosesnya terjadi di dalam pendidikan formal seperti di sekolah, atau secara informal melalui pendampingan di dalam kegiatan di Gereja melalui katekese mengenai sakramen-sakramen termasuk di dalamnya sakramen perkawinan. Anak-anak dan kaum muda didampingi untuk menghayati kehidupan sakramen khususnya sakramen perkawinan sehingga nantinya dapat dirayakan dengan sikap batin yang benar-benar mendalam dan menghayati dengan kesadaran penuh dari batin pribadi tersebut.
Secara formal, anak-anak dan kaum muda diberi bekal agar mengerti dirinya sebagai pria dan wanita. Pria dan wanita dengan kehidupan seksualitasnya masing-masing. Anak-anak dibantu membentuk kepribadiaan yang mampu mencintai Tuhan, sesama dan dirinya sebagai anggota Gereja yang memiliki tugas perutusan untuk memberikan keteladanan dan kesaksian hidup Kristen melalui kehidupan keluarga. Anak muda dibantu untuk memahami arti cinta yang benar dalam hubungannya dengan hidup perkawinan.[2]
Persiapan akhir, memiliki proses yang relatif lebih baku. Dalam masa persiapan ini, calon mempelai menjalankan pemeriksaan kanonik yang dilakukan pastor paroki, kursus persiapan perkawinan yang dilakukan beberapa pertemuan oleh tim pendampingan keluarga.[3]






[1] Hardiwiratno, Op.Cit p. 186
[2] Idem, p. 188
[3] Idem, p. 192

Tidak ada komentar:

Posting Komentar