Proses pendampingan persiapan
perkawinan, untuk jangka panjang sebenarnya tidak ada proses secara khusus,
karena pendidikan sehari-hari dalam keluarga sebenarnya sudah merupakan
pendampingan persiapan perkawinan. Keteladanan yang diberikan orangtua bagi anak-anak
di dalam hidup berkeluarga, terutama cinta kasih secara langsung maupun tidak
langsung merupakan pendampingan bagi anak menuju perkawinan kelak di kemudian
hari.[1]
Persiapan jangka dekat prosesnya terjadi
di dalam pendidikan formal seperti di sekolah, atau secara informal melalui
pendampingan di dalam kegiatan di Gereja melalui katekese mengenai
sakramen-sakramen termasuk di dalamnya sakramen perkawinan. Anak-anak dan kaum
muda didampingi untuk menghayati kehidupan sakramen khususnya sakramen perkawinan
sehingga nantinya dapat dirayakan dengan sikap batin yang benar-benar mendalam
dan menghayati dengan kesadaran penuh dari batin pribadi tersebut.
Secara formal, anak-anak dan kaum muda
diberi bekal agar mengerti dirinya sebagai pria dan wanita. Pria dan wanita
dengan kehidupan seksualitasnya masing-masing. Anak-anak dibantu membentuk
kepribadiaan yang mampu mencintai Tuhan, sesama dan dirinya sebagai anggota
Gereja yang memiliki tugas perutusan untuk memberikan keteladanan dan kesaksian
hidup Kristen melalui kehidupan keluarga. Anak muda dibantu untuk memahami arti
cinta yang benar dalam hubungannya dengan hidup perkawinan.[2]
Persiapan akhir, memiliki proses yang relatif
lebih baku. Dalam masa persiapan ini, calon mempelai menjalankan pemeriksaan
kanonik yang dilakukan pastor paroki, kursus persiapan perkawinan yang
dilakukan beberapa pertemuan oleh tim pendampingan keluarga.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar