Persiapan
Perkawinan dapat dimengerti sebagai
usaha Gereja untuk membekali kaum muda yang sedang menuju hidup berkeluarga.
Bekal tersebut dapat berguna ketika dalam hidup perkawinan dapat menghayati
sakramen perkawinan dengan baik. [1]
Kaum
muda perlu mendapatkan bekal melalui persiapan perkawinan sebagai bekal
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan perkawinan. Berbagai pengetahuan
mengenai perkawinan dan hidup berkeluarga dapat membantu calon pengantin dalam
menghadapi kesulitan dan persoalan yang mungkin akan terjadi. Tidak dapat
disangkal akan dihadapi oleh pasangan suami-istri. Mengenai berat ringannya
persoalan masing-masing keluarga memiliki ukuran dan persoalannya sendiri. Ada
keluarga yang mengalami masalah ringan sehingga tidak mengaggap itu sebagai
masalah, atau sebaliknya persoalan tersebut demikian besar sehingga memerlukan
penanganan yang lebih lanjut.
Keluarga
dapat mengalami persoalan dan masalah karena banyak sebab. Masalah yang
berkaitan dengan ekonomi. Persoalan yang muncul karena ekonomi seperti, utang,
pengangguran, korban pemutusan hubungan kerja, kemiskinan, kemalasan,
pemborosan, ketidakadilan, pemerasan, penyakit, dan masih banyak lagi.
Persoalan
yang mungkin dihadapi oleh keluarga seperti kesulitan relasional antara
suami-istri, orangtua anak, ataupun dengan tetangga. Banyak sebab yang
melahirkan masalah relasional ini, seperti ketidakdewasaan, ketidakcocokan,
perbedaan yang tidak mampu didamaikan, akibat relasi yang tidak baik ialah
percekcokan, saling menyalahkan, sikap emisonal yang berlebihan, dan kenakalan
anak dan remaja.[2]
Permasalahan
yang lain yang mungkin timbul seperti adanya pihak ketiga, perbedaan latar
belakang suku, budaya, pendidikan, atau agama. Anak juga dapat menjadi penyebab
ketidakharmonisan keluarga.
Perkawinan
selayaknya membawa kegembiraan dan kebebasan bagi anggota keluarga, bukan
penderitaan. Masalah dalam keluarga akan menyebabkan penderitaan dalam
keluarga. Persoalan atau masalah keluarga dapat diartikan sebagai kondisi yang
membuat keluarga tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.[3]
Paus
Yohanes Paulus II menyebutkan dunia dewasa ini dipenuhi dengan fenomena
negatif. Persoalan remaja seperti
banyaknya angka aborsi, seks bebas di kalangan kaum muda, maraknya pornografi
dengan pelaku atau penikmat dari kelompok
berusia muda. Usia anak yang masih muda, dengan pola pikir yang hanya
mengedepankan kebebasan, membuat banyak anak yang memilih menggelandang dan
memenuhi perempatan-perempatan di banyak daerah. Kaum muda perlu dibekali
dengan tatanan nilai yang benar, tidak ketiggalan juga cara menghadapi dan
menangani permasalahan dan kesulitan yang sudah ataupun akan diterjadi.
Persiapan
perkawinan perlu diintensifkan bukan hanya untuk membantu pasangan-pasangan
kaum muda untuk mengatasi persoalan semata, namun juga untuk memberikan
dukungan yang positif menuju ke arah tegak dan masaknya perkawinan yang
berhasil.[4]
Pembekalan yang diberikan untuk calon mempelai, akan membantu calon pasangan
memasuki dunia baru, dengan membekali calon pasangan dengan berbagai
pengetahuan yang sekiranya dapat menjadi acuan ketika menghadapi permasalahan
dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Dinamika hidup perkawinan tidak ada yang
tidak diwarnai dengan persoalan dan masalah. Masalah yang timbul dalam keluarga
merupakan persoalan yang wajar dan normal.
[3] Irawan,
Bagus, Menyikapi Masalah-Masalah
Keluarga, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta, 2007, p. 14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar