Jumat, 04 April 2014

Kualitas Remaja Indonesia

Tayangan iklan pembersih muka, menampilkan gadis-gadis muda yang fresh, bening, dan unyu bahasa gaul zaman sekarang, salah satu yang paling menggelitik adalah, iklan yang menggambarkan kebahagiaan ABG.  Dalam iklan tersebut dikatakan enaknya jadi remaja, bisa belanja di mall dengan ibu, nonton bareng dan rame-rame dengan teman, serta nginap di rumah rekan. Penggambaran yang segar, ceria, semangat, dan penuh vitalitas. Kesegaran remaja yang mewarnai dunia sepertinya.
Fisik dan tampilan remaja anak negeri ini sangat tidak kalah dengan remaja dari negara maju lainnya. Bisa disaksikan di pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung bioskop, rumah makan cepat saji, jalan-jalan di kota yang mengadakan acara car free day, tempat-tempat hiburan, gadis-gadis muda ataupun remaja laki-laki modis, semangat, penuh dengan asesoris baik busana ataupun media komunikasi, mulai dari HP, tablet, i-phone, telinga ditutupi dengan headset, yang selalu up date.
Tampilan yang modern ini sayangnya tidak sebanding dengan kemampuan remaja kita. Kompas melaporkan bahwa remaja Indonesia memiliki kemampuan Matematika dan Sains pada peringkat 64 dari 65 negara peserta survey. Satu tingkat lebih baik dari pada negara Peru. Skor rata-rata matematika remaja Indonesia  375 dibandingkan dengan  rata-rata Organization for Economic Cooperation and Development 494, rata-rata kemampuan sains 382 sedang OECD 496, dan kemampuan membaca 382, sedang rata-rata OECD 501.
Ironi ini disebabkan anak remaja sekarang menjadi korban oleh media massa dan pengusaha sebagai konsumen yang potensial untuk digoda dengan perkembangan dan perubahan mode yang  demikian cepat. Usia remaja yang bercorak eksploratif, tanpa pendidikan dan pendampingan yang semestinya hanya membebek pada arus dunia. Arus populer yang ada berkaitan dengan yang artifisial, baju, busana, sepatu, alat komunikasi, asecoris menjadi kiblat bagi kaum muda. Kalau memakai baju, sepatu, HP, paling baru berarti menjadi anak modern dan paling gaul. Berkaitan yang substansial malah terbabaikan dan terlupakan.

Bukti konkret dan nyata sudah ada, bagaimana kita hendak menyikapi hasil ini? Apakah mencari kambing hitam terus? Atau bangkit dan memperbaiki diri? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar