Tayangan iklan pembersih muka, menampilkan
gadis-gadis muda yang fresh, bening,
dan unyu bahasa gaul zaman sekarang,
salah satu yang paling menggelitik adalah, iklan yang menggambarkan
kebahagiaan ABG. Dalam iklan tersebut dikatakan enaknya jadi
remaja, bisa belanja di mall dengan
ibu, nonton bareng dan rame-rame dengan teman, serta nginap di rumah rekan.
Penggambaran yang segar, ceria, semangat, dan penuh vitalitas. Kesegaran remaja
yang mewarnai dunia sepertinya.
Fisik dan tampilan remaja anak negeri ini
sangat tidak kalah dengan remaja dari negara maju lainnya. Bisa disaksikan di
pusat-pusat perbelanjaan, gedung-gedung bioskop, rumah makan cepat saji,
jalan-jalan di kota yang mengadakan acara car
free day, tempat-tempat hiburan, gadis-gadis muda ataupun remaja laki-laki modis,
semangat, penuh dengan asesoris baik busana ataupun media komunikasi, mulai
dari HP, tablet, i-phone, telinga
ditutupi dengan headset, yang
selalu up date.
Tampilan yang modern ini sayangnya tidak
sebanding dengan kemampuan remaja kita. Kompas melaporkan bahwa remaja
Indonesia memiliki kemampuan Matematika dan Sains pada peringkat 64 dari 65
negara peserta survey. Satu tingkat lebih baik dari pada negara Peru. Skor rata-rata
matematika remaja Indonesia 375 dibandingkan
dengan rata-rata Organization for Economic Cooperation and Development 494,
rata-rata kemampuan sains 382 sedang OECD
496, dan kemampuan membaca 382, sedang rata-rata OECD 501.
Ironi ini disebabkan anak remaja sekarang
menjadi korban oleh media massa dan pengusaha sebagai konsumen yang potensial
untuk digoda dengan perkembangan dan perubahan mode yang demikian cepat. Usia remaja yang bercorak
eksploratif, tanpa pendidikan dan pendampingan yang semestinya hanya membebek
pada arus dunia. Arus populer yang ada berkaitan dengan yang artifisial, baju,
busana, sepatu, alat komunikasi, asecoris menjadi kiblat bagi kaum muda. Kalau memakai
baju, sepatu, HP, paling baru berarti
menjadi anak modern dan paling gaul. Berkaitan
yang substansial malah terbabaikan dan terlupakan.
Bukti konkret dan nyata sudah ada, bagaimana
kita hendak menyikapi hasil ini? Apakah mencari kambing hitam terus? Atau bangkit
dan memperbaiki diri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar