Rabu, 01 Oktober 2014

Tahap-Tahap Persiapan Perkawinan



1.      Persiapan Perkawinan menurut Familiaris Consortio
            Lebih dari sebelumnya, perlulah pada zaman kita ini kaum muda dipersiapkan untuk perkawinan dan hidup berkeluarga. Dalam beberapa negeri, masih keluarga-keluarga sendirilah yang menurut adat istiadat lama, mengusahakan agar nilai-nilai tentang hidup perkawinan dan berkeluarga diteruskan kepada kaum muda, dan mereka melaksanakan tugas itu melalui pendidikan atau inisiasi yang berjalan tahap demi tahap. Akan tetapi, perubahan-perubahan yang telah terjadi di dalam hampir semua masyarakat modern menuntut bahwa tidak hanya keluarga tetapi juga masyarakat dan Gereja terlibat dalam usaha mempersiapkan sebaik-baiknya kaum muda untuk menyambut tanggung jawab mereka pada masa yang akan datang. Banyak fenomena negatif dalam hidup berkeluarga yang sekarang ini disesalkan berasal dari fakta bahwa dalam situasi-situasi baru, kaum muda tidak hanya tidak melihat tataran nilai yang benar tetapi juga tidak  tahu caranya menghadapi dan menangani kesulitan-kesulitan baru karena tidak lagi mempunyai criteria perilaku yang pasti. Akan tetapi, pengalaman mengajarkan bahwa kaum muda yang telah dipersiapkan dengan baik untuk hidup berkeluarga biasanya lebih berhasil daripada kaum muda yang lain.
            Hal itu bahkan lebih dapat diterapkan pada perkawinan Kristiani, yang mempengaruhi kekudusan pria dan wanita dalam jumlah yang besar. Maka, Gereja harus meningkatkan program-program persiapan perkawinan yang lebih baik dan lebih intensif, untuk melenyapkan sedapat-dapatnya kesulitan-kesulitan yang dialami oleh banyak pasangan suami-istri dan lebih lagi untuk memberikan dukungan yang positif ke arah tegaknya dan masaknya perkawinan-perkawinan yang berhasil.
Persiapan perkawinan harus dilihat dan dilaksanakan sebagai proses yang berjalan bertahap dan terus menerus. Persiapan itu meliputi tiga tahap utama, persiapan jauh, persiapan dekat, dan persiapan terakhir.
            Persiapan jauh mulai pada masa kecil, dalam pendidikan keluarga bijaksana yang menuntun anak-anak untuk menemukan diri mereka sendiri sebagai orang yang dikarunia kejiwaan yang kaya dan kompleks serta kepribadian khusus dengan kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya sendiri. Masa itu adalah masa ketika penghormatan pada semua nilai manusiawi yang sejati ditanamkan, baik dalam hubungan-hubungan antarpribadi maupun dalam hubungan-hubungan sosial, dengan segala sesuatu yang mempunyai arti untuk pembentukan watak, untuk pendendalian dan penggunaan yang benar dan kecenderungan-kecenderungan, untuk perilaku dalam memandang dan menjumpai orang-orang lain jenis, dan sebagainya. Juga perlu dan terutama  bagi orang-orang Kristiani, pembinaan rohani dan katekese yang menunjukkan bahwa perkawinan merupakan panggilan dan perutusan sejati, tanpa menutup kemungkinan untuk memberikan diri seutuhnya kepada Allah dalam panggilan menjadi imam atau biarawan.
            Atas dasar itu selanjutnya langkah demi langkah dilaksanakan persiapan dekat, persiapan ini sejak usia yang sesuai dan dengan katekese yang memadai, seperti dalam proses katekumenat-meliputi persiapan yang lebih khusus untuk menyambut sakramen-sakramenitu. Katekese yang diperbarui untuk kaum muda dan  orang-orang lain, yang mempersiapkan mereka menuju perkawinan Kristiani itu mutlak perlu agar sakramen perkawinan itu dapat dirayakan dan dihayati dengan sikap-sikap moral dan spiritual yang benar. Pembinaan hidup beragama bagi kaum muda harus diintegrasikan, pada saat yang tepat dan sesuai dengan berbagai tuntutan konkret dengan persiapan untuk hidup sebagai suami-istri. Persiapan itu menampilkan perkawinan sebagai hubungan antarpribadi seorang pria dan seorang wanita yang harus terus menerus dikembangkan dan mendorong mereka yang berkepentingan untuk mempelajari hakikat hubungan suami-istri dan panggilan menjadi bapak ibu yang bertanggung jawab, beserta pengetahuan medis dan biologis yang secara hakiki bersangkut paut dengan itu. Persiapan itu juga memperkenalkan mereka yang berkepentingan dengan metode-metode yang tepat untuk mendidik anak, dan membantu mereka dalam memperoleh hal-hal pokok yang diperlukan untuk hidup berkeluarga yang tertata baik, seperti pekerjaan yang tetap, sumber-sumber daya keuangan yang cukup, tata laksana yang masuk akal, pengertian-pengertian tentang pemeliharaan rumah tangga.
            Akhirnya, tidak boleh diabaikan persiapan untuk kerasulan keluarga untuk solidaritas persaudaraan dan kerjasama dengan keluarga-keluarga lain, untuk menjadi anggota aktif dalam kelompok-kelompok, perhimpunan-perhimpunan, gerakan-gerakan, dan usaha-usaha yang diadakan agar keluarga memetik manfaat manusiawi dan Kristiani.
            Persiapan terakhir untuk merayakan sakramen perkawinan harus diadakan dalam bulan-bulan dan minggu-minggu terakhir sebelum pernikahan, supaya dapat memberikan arti, isi, dan bentuk yang baru pada apa yang disebut penelitian pernikahanpranikah yang dituntut oleh Hukum Gereja (Kanon). Persiapan itu perlu untuk setiap pasangan, tetapi diperlukan secara lebih mendesak oleh pasangan tunangan yang masih memperlihatkan kekurangan-kekurangan atau kesulitan-kesulitan dalam ajaran dan praktek hidup Kristiani.
            Di antara unsur-unsur yang harus ditanamkan dalam perjalanan iman ini, yang mirip dengan masa katekumenat, harus ada penegtahuan yang lebih dalam tentang misteri Kristus dan Gereja, tentang makna rahmat dan tanggung jawab perkawinan Kristiani, maupun persiapan untuk mengambil bagian yang aktif dan sadar dalam upacara liturgi perkawinan.
            Keluarga Kristiani dan seluruh persekutuan gerejani harus merasa terlibat dalam berbagai tahap persiapan perkawinan yang telah dilukiskan menurut garis besarnya saja. Diharapkan bahwa Konferensi-Konferensi Para Uskup, selain memperhatikan inisiatif-inisiatif yang tepat untuk membantu pasangan-pasangan tunangan lebih menyadari pentingnya pilihan mereka dan untuk membantu para gembala jiwa memastikan kelayakan sikap-sikap hati pasangan-pasangan itu, juga akan mengambil langkah-langkah untuk mengusahakan penerbitan suatu Pedoman Pastoral Keluarga. Dalam buku itu mereka harus menetapkan, pertama-tama isi minimum lama waktu dan metode “Kursus-Kursus Persiapan”, dengan keseimbangan antara berbagai segi ajaran, pedagogi, hukum, dan kesehatan-berkenaan dengan perkawinan, dan menyusunnya sedemikian rupa sehingga mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk perkawinan tidak hanya memperoleh latihan intelektual melainkan juga merasakan keinginan untuk masuk ke dalam persekutuan gerejani secara aktif.
            Meskipun tidak boleh diremehkan keperluan dan kewajiban persiapan terakhir   menuju perkawinan itu yang akan terjadi bila dispensasi terlalu mudah diberikan- namun persiapan itu toh harus selalu dirancang dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga peniadaannya tidak merupakan halangan untuk merayakan perkawinan.

2.      Analisis Persiapan Perkawinan menurut Familiaris Consortio
Paus Yohanes Paulus II memberikan perhatian kepada keluarga, bahkan kepada calon mempelai yang hendak melaksanakan pernikahan. Paus menghendaki para calon pengantin dibekali dengan persiapan-persiapan , bahkan sejak anak tersebut kecil dan ada di dalam rumah tangga orangtuanya. Persiapan tersebut sebagai berikut:
a.         Persiapan Jauh
Persiapan jangka jauh merupakan pendidikan bagi anak di dalam keluarga. Anak-anak di dalam rumah dibina, dibimbing, dan dididik untuk menemukan drinya, menyadari diri sebagai pribadi yang unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Perlu ditanamkan dalam diri anak-anak nilai-nilai kristiani baik sebagai makhluk pribadi ataupun berkaitan dengan diri sebagai bagian sosial kemasyarakatan. Dengan demikian anak diarahkan untuk memahami bahwa sakramen perkawinan merupakan suatu panggilan untuk hidup bersama dalam ikatan cinta kasih dengan orang lain. Anak akan menangkap penerimaan oleh orangtua sebagai pelajaran agar anak dapat menerima orang lain sebagaimana dirinya sendiri yang telah diterima buruk  oleh orangtuanya. Anak perlu dibimbing pula untuk dapat memilih mana yan baik dan mana yang  buruk sesuai dengan tingkatan perkembangan anak melalui kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh dan keteladanan orangtua yang penuh kasih sayang antara suami-istri, orangtua kepada anak-anak, ataupun dengan tetangga sekitar, membuat anak memiliki sikap yang sama. Nilai-nilai positif keluarga menjadi bekal bagi anak untuk menatap masa depan. Apa yang direkam anak akan diterapkan, ketika anak membangun keluarganya sendiri. Sebaliknya, kalau anak merekam lebih banyak hal negatif, juga akan membawa hal-hal yang negatif dalam keluarga yang dibina dikemudian hari.
b.        Persiapan Dekat
Persiapan jangka dekat ini dilakukan untuk anak-anak remaja. Anak-anak perlu dibekali mengenai arti perkawinan sebagai sakramen. Katekese mengenai sakramen secara umum, dan teristimewa sakramen perkawinan merupakan pengajaran yang penting, agar nanti sakramen ini dapat dirayakan dengan penilaian dan pemilihan secara moral dan spiritual yang  benar.
Anak diajak untuk mengerti bahwa perkawinan merupakan ikatan antara laki-laki dan perempuan dalam persekutuan kebersamaan seluruh hidup yang terarah kepada kesejahteraan suami-istri, anak-anak, dan pendidikan anak-anak, yang bersifat monogam dan tidak  terceraikan. Oleh Kristus perkawinan dua orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen, sebagai tanda dan sarana keselamatan.
Hakikat seksualitas laki-laki dan perempuan, dan juga sebagai suami-istri, keintiman, keluarga bertanggung jawab, tugas orangtua untuk mendidik anak-anak, informasi awal hal-hal praktis mengenai hidup berkeluarga seperti pekerjaan, pengelolaan ekonomi rumah tangga perlu diajarkan dan diberikan kepada anak sebagai pembinaan dan pembekalan di kemudian hari.[1]

c.         Persiapan Terakhir
Persiapan terakhir ini diadakan mendekati hari perkawinan, beberapa bulan atau minggu sebelum pelaksanaan perkawinan. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dan penekanan dalam persiapan tahap ini ialah pengetahuan yang lebih mendalam mengenai sakramen perkawinan sebagai tanda dan sarana cinta Kristus kepada Gereja-Nya, arti rahmat Allah bagi hidup manusia, terutama di dalam hidup perkawinan, tanggung jawab perkawinan Kristiani, persiapan dan perencanaan liturgi perkawinan. Termasuk di dalam persiapan terakhir ini ialah penyelidikan kanonik yang dilakukan oleh pastor paroki atau yang akan menjadi peneguh perkawinan, bertujuan untuk mengenal lebih jauh mengenai calon mempelai dengan seluruh latar belakangnya, ada tidak kemungkinan halangan dan larangan yang perlu diselesaikan ataupun membuat pernikahan yang akan dilakukan merupakan larangan, dan kursus persiapan perkawinan.
Kursus Persiapan Perkawinan diberikan kepada calon pasangan suami-istri yang telah memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat. Kursus dan bimbingan ini bersifat lebih informatif dengan tujuan untuk memberikan bekal yang memadai untuk para calon pengantin mengenai informasi-informasi yang berhubungan dengan perkawinan, yang sekiranya akan diperlukan dalam menghadapi dinamika hidup perkawinan yang akan dijalani. Persiapan akhir sangat ideal apabila dilakukan oleh tim yang terdiri atas anggota-anggota yang memiliki kemampuan dalam bidang keluarga.[2]





[1] Hardiwiratno, Op.Cit p. 187
[2] Idem, p. 192

1 komentar:

  1. Hai Calon Pengantin ~
    Percayakah kalian bahwa melangsungkan pernikahan tidak perlu ribet dan mahal? Dengan memakai jasa Wedding Organizer HIS Graha Elnusa, Anda bisa melangsungkan pernikahan ALL IN PACKAGE bergaya elegant di Jakarta Selatan dengan harga dibawah rata-rata dan dapat CASHBACK 35 Juta juga lho!

    Mau tahu berbagai jenis Wedding Packagenya? Langsung saja kunjungi www.hisgrahaelnusa.com dan pantau terus update terbaru kami di Instagram @his_grahaelnusa.

    > For more info please contact Marketing HIS Wedding Graha Elnusa 083873396243 (RATIH) atau datang langsung ke kantor HIS di Graha Elnusa Lt.2, Jl.TB. Simatupang Kav.1B, Cilandak Timur.

    BalasHapus