Memperhatikan dinamika politik
dari waktu ke waktu kalau berkaitan dengan agama selalu sensitif namun tidak
pernah selesai dan terselesaikan dengan baik, sebagaimana bagsa yang pluralis
dan berBhineka Tunggal Ika.
1. Saat
Ibu Megawati dan Bapak Joko Widodo, menjadi capres mengapa agamanya
dijadikan-jadikan dan dibuat-buat, dicari-cari asal muasalnya, dan semua tidak
terbukti, namun melukai Bhineka Tunggal Ika. Ibu Megawati diisukan beragama
Hindu, Bapak Joko Widodo diisukan Katolik/Kristen. Memang hindu, Budha,
Kristen. Katolik, atau kepercayaan lain sudah dinafikan di negara Pancasila
ini. Mengapa saat Bapak Wiranto, Bapak Prabowo, Bapak Agum Gumelar, Bapak Yusuf
Kalla, dan semua capres cawapres tidak dipersoalkan keagamaannya?
2. Salah
satu mantan ketua MPR, menyatakan apakah Muslim bisa memimpin di USA, Eropa? Hal
ini tidak bisa dijadikan perbandingkan satu sama lain, karena apa? Di USA dan Eropa,
pemimpin bukan berbicara agama dan alasan-alasan artifisial lainnya, agama bukan
berarti remeh, namun bukan penentu menjadi seorang pemimpin sipil. Kemampuan,
kepribadian, dan rekam jejak yang baik menjadi acuan.
3. Apakah
kalau agama mayoritas, kemudian rekam jejaknya buruk, korup, tidak bertanggung
jawab atas tindakannya, baik pribadi ataupun sebagai pengusaha, bisa menutupi
kesalahan dan tindak buruknya? Kalau iya, hati-hati kalau demikian, agama
menjadi kedok perlindungan diri dan mencuci kesalahan demi kekuasaan.
4. Toleransi,
yang selalu diagung-agungkan, bahkan presiden mendapatkan penghargaan
internasional di bidang ini, masih jauh dari harapan. Bahkan mundur dari waktu
ke waktu. Saat kebebasan dan kesempatan beragama dan menjalankan ritual
keagamaan yang dilindungi UUD malah dikalahkan oleh pemikiran sekelompok orang
dan yang mengatasnamakan organisasi massa, dan ini memperoleh “hak-hak istimewa”
dari oknum di negara ini.
5. Hukum
masih jauh dari keadilan. Aparat hukum masih berpihak kepada kelompok yang
banyak atau mayoritas bukan kebenaran. Hukum bersifat keadilan bisa disetir dan
dikuasai suatu kelompok.
Sudah saatnya seluruh bangsa
Indonesia tercinta ini kembali kepada jati diri bangsa dan lepas dari segala
kepentingan. Kepentingan sesaat yang mengalahkan kebesaran bangsa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar