Senin, 02 Juni 2014

Iman Transaksional

Musim pemilihan umum, istilah transaksional, dagang sapi, bagi-bagi kekuasaan menjadi istilah yang populer dan mewabah. Kehidupan beriman pun acap diwarnai sikap transaksional. Saat berdoa dan dijawab Tuhan dengan berkat yang sesuai dengan kerinduannya, akan dipujapuji setinggi langit. Semua bahasa yang dikenal akan diungkapkan sebagai rasa syukur. Berbeda saat rahmat Allah itu hadir bertolak belakang dengan keinginannya, sama kah “Aku bersyukur atas kehendak-Mu ini Tuhan? Atau Tuhan Engkau di mana?
Hawa atau Eva, diberi pesan sangat sederhana, semua boleh kamu makan, satu saja itu hak-Ku, tergoda untuk menjadi seperti Allah, dia lalai. Kekuasaan dan kebesaran nama diri telah hadir ke dunia.
Kain dan Habel, hanya karena iri persembahannya diterima Tuhan, pembunuhan, dan bersilat lidah dimulai. Logika mulai diselewengkan, yang awalnya buruk diolah menjadi seolah-olah benar.
Abraham, demi keselamatan dirinya, dia katakan istrinya sebagai saudara, dua kali pula.....
Yunus, demi menghadapi ketegartengkukan bangsanya memilih lari, dan saat di perut ikan dia baru tahu.....
Bani Israel yang diajak keluar dan diselamatkan dari perbudakan, hanya karena lapar, menghujat Yahwe, melalui Musa, kalau hanya untuk mati, kenapa harus jauh-jauh ke padang gurun.
Perjanjian Baru memberikan contoh melalui tokoh-tokoh besarnya,
Petrus, Tuhannya disiksa, dia takut dan miris, hingga mengkhianati-Nya. Kekerasan fisik membuatnya ciut....
Yudas Iskariot, demi kuasa politis dunia, dia jual Tuhannya....
Ketakutan membuat orang menjadi “buta” hati dan batinnya...
Emaus perjalanan yang menjadi cerita kronologis dunia hingga hari ini memberikan gambaran itu....
Transaksionla dari awal hingga akhir akan menjadi warna dunia...
Tawaran DIA selalu sama...
Cinta Kasih-Nya menerima dengan tangan terentang....
Anak-Ku yang hilang telah kembali,mari berpesta, dan kenakan dia pakai terindah...

Status yang dihilangkan anak-Nya telah dipulihkan berkat kasih-Nya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar