Musim pemilihan umum, istilah transaksional,
dagang sapi, bagi-bagi kekuasaan menjadi istilah yang populer dan mewabah. Kehidupan
beriman pun acap diwarnai sikap transaksional. Saat berdoa dan dijawab Tuhan
dengan berkat yang sesuai dengan kerinduannya, akan dipujapuji setinggi langit.
Semua bahasa yang dikenal akan diungkapkan sebagai rasa syukur. Berbeda saat
rahmat Allah itu hadir bertolak belakang dengan keinginannya, sama kah “Aku
bersyukur atas kehendak-Mu ini Tuhan? Atau Tuhan Engkau di mana?
Hawa atau Eva, diberi pesan sangat sederhana,
semua boleh kamu makan, satu saja itu hak-Ku, tergoda untuk menjadi seperti Allah, dia lalai. Kekuasaan dan
kebesaran nama diri telah hadir ke dunia.
Kain dan Habel, hanya karena iri persembahannya
diterima Tuhan, pembunuhan, dan bersilat lidah dimulai. Logika mulai
diselewengkan, yang awalnya buruk diolah menjadi seolah-olah benar.
Abraham, demi keselamatan dirinya, dia katakan
istrinya sebagai saudara, dua kali pula.....
Yunus, demi menghadapi ketegartengkukan
bangsanya memilih lari, dan saat di perut ikan dia baru tahu.....
Bani Israel yang diajak keluar dan diselamatkan
dari perbudakan, hanya karena lapar, menghujat Yahwe, melalui Musa, kalau hanya
untuk mati, kenapa harus jauh-jauh ke padang gurun.
Perjanjian Baru memberikan contoh melalui
tokoh-tokoh besarnya,
Petrus, Tuhannya disiksa, dia takut dan miris,
hingga mengkhianati-Nya. Kekerasan fisik membuatnya ciut....
Yudas Iskariot, demi kuasa politis dunia, dia
jual Tuhannya....
Ketakutan membuat orang menjadi “buta” hati dan
batinnya...
Emaus perjalanan yang menjadi cerita kronologis
dunia hingga hari ini memberikan gambaran itu....
Transaksionla dari awal hingga akhir akan
menjadi warna dunia...
Tawaran DIA selalu sama...
Cinta Kasih-Nya menerima dengan tangan
terentang....
Anak-Ku yang hilang telah kembali,mari
berpesta, dan kenakan dia pakai terindah...
Status yang dihilangkan anak-Nya telah
dipulihkan berkat kasih-Nya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar