Membaca salah satu
komentar di surat kabar on-line, Tribunnews, saya terhenyak, Allahku itu
Mahabaik, kog begini manusia ciptaan-Nya menilai DIA. Anak manusia ini yang
sesat atau Tuhan saya salah aku kenal, atau memang Tuhan itu penghukum seperti
kata anak Adam tadi?
Allah Mahabaik,
dosa manusia seperti apapun DIA terima ketika manusia kembali dan menyadari
kesalahannya. Tuhan yang baik juga membebaskan manusia untuk mengabdi pada
setan dan ular, ketika kembali, DIA rengkuh Anak-Ku yang hilang telah kembali.
Aku mengenal Allah
Yang Baik dna yakin tidak salah, sekian lama, aku tidak pernah sekalipun
berusaha membuat oksigen, sama sekali tidak pernah menyuruh hidungku untuk
menarik nafas dna menghembuskannya. Semua DIA yang atur dan lakukan. Kurang
baik apalagi?
Sekarang kita
telaah, kalau Tuhan menghukum NON MUSLIM, emang NON MUSLIM ciptaan iblis,
mengapa Tuhan tidak pernah menghadirkan banjir bagi NON MUSLIM, dan matahari
yang cerah sejuk hangat, tidak menyengat untuk MUSLIM. Hujan banjir panas terik
sejuk dinikmati semua manusia tidak pandang bulu. Kalau Tuhan mengirimkan
Merapi untuk meletus nyatanya semua kena bukan hanya NON MUSLIM. Tuhan itu
baik, mana ada orang tua menyiksa anaknya (hanya kasus khusus, orang yang tidak
sehat saja), itu hanya berpartisipasi mencipta, bukan PENCIPTA saja sayang
untuk merusak. Mana ada maestro apapun itu merusak karyanya? Tuhan Maestro
Agung.
Mari belajar
kebodohan manusiawi jangan ditimpakan kepada KEMAHAAN Tuhan.....
Memaksakan persamaan
pada kodrat yang berbeda adalah kebodohan dan kesia-siaan.
Matahari bulan,
langit dan bumi yang sama, TUHAN yang sama......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar