Aku makin bangga
sebagai orang Katolik. Mendengar Paus mengundang para pemimpin Palestina dan
Israel untuk bertemu, dan berdoa bersama di Vatikan, dunia dipenuhi dengan
kecenderungan pihak memihak, Paus mengundang untuk berdoa pagi bersama. Undangan
tersebut diberikan secara personal dengan datang sendiri.
Diplomasi bertahun-tahun
bahkan puluhan tahun dilakukan, alot, mandeg,
dan berbagai argumen selalu datang silih berganti, pro dan kontra, berbagai
pihak, tidak menjernihkan sering justru memperkeruh suasana, sekarang diubah,
duduk bersama di dalam doa.
Sungguh relevan
dengan misi di zaman digital ini, yaitu semakin membuat orang beriman dan
beragama yang sudah diyakini dengan lebih berkualitas. Misi Kristenisasi dengan
mie instan dan uang justru merendahkan kemanusiaan dan Kemahaan Tuhan. Tuhan Yang
Agung Mulia, “tidak butuh” kita, kita justru yang butuh Tuhan. Muslim semakin
Muslim, Kristen semakin menjadi Kriten, Budha lebih menjadi Budha, dan Hindu
lebih meyakini imannya, demikian juga agama-agama yang lainnya, makin mendalam
dan berbuah. Manusia tidak berharga, sangat tidak menghormati pribadi manusia
yang dibeli imannya dengan mie atau uang.
Buah iman adalah
kedamaian, kerukunan, kasih terhadap sesama dan seluruh makhluk. Sekarang ini,
mengasihi musuh masih perlu ditambah yaitu lingkungan. Bagaimana selama ribuan
tahun manusia lalai terhadap bumi yang telah mengenyangkan dan menghidupi
manusia.
Para pemimpin yang
bertemu setelah berdoa pagi bersama diagendakan untuk menanam pohon. Pohon pabrik
oksigen yang memberi kehidupan, menyerap kotoran udara, dan memberikan harapan
kehidupan menjadi bersih.
Bersih hati,
bersih budi, dan bersih nurani untuk dunia makin baik dan indah. Hari raya
Pentakosta yang bermakna di zaman kekinian, hadir secara nyata melalui Bapa
Paus Fransiskus yang memberikan kontribusi besar bagi dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar