Jumat, 06 Juni 2014

Guru Nasibmu.....

Tulisan ini berangkat dari slogan kampanye bukan masalah siapa capresnya. Sorotan dan titik tolaknya adalah kepedulian dan keterpihakan bukan pada orangnya, sehingga saya tidak ingin siapapun yang berkenan untuk membaca dan koment bukan masalah dukung-mendukung, namun jeli dan jernih melihat apa yang ditawarkan siapapun capres dengan lebih bijak.
Salah satu spanduk menuliskan....petani, nelayan, guru, dan rakyat miskin....saya hendak mengajakk untuk menilai frase ini, bagaimana guru dimasukan di dalam golongan orang yang tidak terdidik, masyarakat miskin, dengan kata dan profesi di depannya dapat diandaikan guru termasuk nelayan, petani, sebagai rakyat miskin, karena tidak berpendidikan.
Ironis sekali kalau pemikiran subyektif saya ini ternyata menjadi bahan acuan tim sukses capres tersebut di dalam membuat slogan dan spanduk sebagai penatik masa. Beberapa hal bisa dipetik dari sini:
1.      Saat ini keguruan dan sekolah keguruan menjadi daya tarik luar biasa, karena kesejahteraan guru yang makin menjanjikan. Slogan tersebut seperti tim sukses hidup sekian dekade yang lalu. Atau memang mereka masa lalu dan hendak membawa kembali ke kehidupan masa lalu.
2.      Kalau masih melihat persoalan pendidikan pada taraf kesejahteraan guru, kelihatan masih belum paham persoalan yang jau lebih mendalam mengenai sistem pendidikan yang kompleks dan menyangkut sistem, bukan semata kesejahteraan. Kesejahteraan sudah selesai dan tidak perlu jadi bahan kampanye lagi. Tim sukses sama sekali tidak tahu pendidikan nasional dan persoalan yang terjadi di dalamnya.
3.      Petani dan nelayan bukan masalah kehidupan kesejahteraan yang perlu ditingkatkan, sehingga peringkat masyarakat atau rakyat miskin teratasi, namun keterpihakan akan niaga hasil pertanian dan nelayan yang adil dan bukan berorientasi kepada kapitalisme dan importasi.
4.      Ketika tata niaga baik, kesejahteraan menjadi baik dan petani dan nelayan menjadi memiliki daya juang, tidak perlu menjadi obyek kampanye lagi.
5.      Petani dan nelayan modern membutuhkan pendidikan, baik bagi ketrampilan petani dan nelayan itu sendiri namun juga bagi penyuluh-penyuluh berkualitas.


Tulisan ini mengajak untuk berfikir kritis dan berpihak kepada pendidikan sam sekali bukan berbicara mengenai keterpihakan kepada salah satu calon presiden yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar