Tulisan ini
berangkat dari slogan kampanye bukan masalah siapa capresnya. Sorotan dan titik
tolaknya adalah kepedulian dan keterpihakan bukan pada orangnya, sehingga saya
tidak ingin siapapun yang berkenan untuk membaca dan koment bukan masalah
dukung-mendukung, namun jeli dan jernih melihat apa yang ditawarkan siapapun
capres dengan lebih bijak.
Salah satu
spanduk menuliskan....petani, nelayan, guru, dan rakyat miskin....saya hendak
mengajakk untuk menilai frase ini, bagaimana guru dimasukan di dalam golongan
orang yang tidak terdidik, masyarakat miskin, dengan kata dan profesi di
depannya dapat diandaikan guru termasuk nelayan, petani, sebagai rakyat miskin,
karena tidak berpendidikan.
Ironis sekali
kalau pemikiran subyektif saya ini ternyata menjadi bahan acuan tim sukses
capres tersebut di dalam membuat slogan dan spanduk sebagai penatik masa. Beberapa
hal bisa dipetik dari sini:
1.
Saat ini keguruan dan sekolah keguruan
menjadi daya tarik luar biasa, karena kesejahteraan guru yang makin
menjanjikan. Slogan tersebut seperti tim sukses hidup sekian dekade yang lalu. Atau
memang mereka masa lalu dan hendak membawa kembali ke kehidupan masa lalu.
2.
Kalau masih melihat persoalan
pendidikan pada taraf kesejahteraan guru, kelihatan masih belum paham persoalan
yang jau lebih mendalam mengenai sistem pendidikan yang kompleks dan menyangkut
sistem, bukan semata kesejahteraan. Kesejahteraan sudah selesai dan tidak perlu
jadi bahan kampanye lagi. Tim sukses sama sekali tidak tahu pendidikan nasional
dan persoalan yang terjadi di dalamnya.
3.
Petani dan nelayan bukan masalah
kehidupan kesejahteraan yang perlu ditingkatkan, sehingga peringkat masyarakat
atau rakyat miskin teratasi, namun keterpihakan akan niaga hasil pertanian dan
nelayan yang adil dan bukan berorientasi kepada kapitalisme dan importasi.
4.
Ketika tata niaga baik, kesejahteraan
menjadi baik dan petani dan nelayan menjadi memiliki daya juang, tidak perlu
menjadi obyek kampanye lagi.
5.
Petani dan nelayan modern membutuhkan
pendidikan, baik bagi ketrampilan petani dan nelayan itu sendiri namun juga
bagi penyuluh-penyuluh berkualitas.
Tulisan ini mengajak untuk berfikir
kritis dan berpihak kepada pendidikan sam sekali bukan berbicara mengenai
keterpihakan kepada salah satu calon presiden yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar