Kamis, 12 Juni 2014

Belajar dari Ayam

Kami memiliki tetangga, yang sama-sama memelihara ayam. Milik ibu dipelihara dengan baik, tiap pagi diberi makan, kemudian dilepas, dan sore masuk kandang dan diberi makan. Milik tetangga ini tidak pernah diperhatikan. Pokoknya hidup. Mencari makan di pekarangan kami. Dari matahari terbit hingga matahatri terbenam berkutat di tempat kami.
Apa yang terjadi kalau malam? Ayam-ayam ini pulang dan tidur di rumah pemiliknya, dan pagi-pagi buta, sudah berjalan menuju ke pekarangan kami. Saat ayam-ayam ibu diberi makan mereka ikut makan juga.
Banyak orang terutama musim kampanye seperti ini lupa rumah dan berorientasi pada yang memberi makan. Kesalahan apapun itu kalau memberi makan dalam arti yang sangat luas bisa kekuasaan, makan beneran, pekerjaan, materi dan harta benda, perlindungan, dan sebagainya, melupakan rumahnya, keluarganya, dan kebenaran, akan dibela mati-matian. Tidak jarang fitnah dan kekerasan digunakan.
Rumah atau kandang bagi ayam itu bagi saya adalah kebenaran. Makanan itu bagi saya adalah kehidupan. Meskipun dikenyangkan di tempat ibu, ayam-ayam itu kembali kepada kebenaran, yaitu  pemiliknya, dan tidak berpindah kepada yang memberi makan dan bisa mendapatkan kekenyangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar