Mayoritas Minoritas Ironi Sebuah Bangsa Berbhineka Tunggal Ika
Komentar cawapres nomor urut satu, di Salatiga, sungguh menyakitkan. Menjawab pertanyaan mengenai bagaimana sikap beliau menghadapi perbedaan dan dinamika hidup bersama di dalam berbangsa. Paparan panjang lebar dimulai dari sejarah berdirinya bangsa ini.
Point penting yang perlu menjadi perhatian bersama:
1. Mayoritas melindungi minoritas
Bisa saya simpulkan bahwa mayoritas boleh “menindas/mengintimidasi” yang minoritas demi melindungi. Bisa nantinya dikatakan dari pada kamu kami bakar kamu lebih baik bertobat. Selama ini hal demikian terjadi. Penghormatan batasannya apa? Sewenang-wenang ketika merugikan dan menyinggung kepentingannya, dan manis-manis ketika menguntungkan. Ini sudah sering terjadi, dan atas nama melindungi justru mengintimidasi, ini nyata, bukan opini apalagi fitnah
2. Minoritas menghormati mayoritas
Definisi menghormati seperti apa? Bukan definisi sepihak oleh mayoritas dan sewenang-wenang. Ketika menyinggung kelompok besar dikatakan menodai, namun semena-mena dengan yang kecil.
3. Benarkah minoritas dan mayoritas?
Manusia adalah mulia sebagaimana adanya, bukan karena statusnya. Pilihan hidup bahkan ada yang kodrati bisa dinafikan oleh peham seperti ini. Suku tidak ada yang memilihi jadi suku paling kecil di bumi Indonesia, kalau agama memang pilihan. Paradigma mayoritas dan minoritas masih dipegang seorang kandidikan orang nomer dua di negeri Bhineka Tunggal Ika, sungguh disayangkan.
4. Komitmen demikian tetapi diikuti kereta anti pluralisme
Baik, minimalis malum-nya kalau memang pemahamannya masih taraf tersebut, sudah tepat belum berkaitan dengan gerbong yang mendukungnya. Nyatanya gerbongnya orang dan kelompok yang suka dengan pemaksaan kehendak, merasa paling baik, merasa paling suci, gemar meneriakkan asma Tuhan kemudian membunuh, menyiksa, dan menumpahkan darah dengan semena-mena.
5. Menyikapi sikap pendukungnya dengan diam, bisa diartikan menerima dan meniyakan pesannya
Pernyataan sikap kelompok pendukungnya, tidak dijawab dengan tegas, bisa diartikan pasangan ini mengiyakan pesan tersebut, menerima dengan wajar tanpa catatan. Sikap ini menjadikan kelompok yang tidak sepaham tidak simpati dengan calon ini.
6. Sikap itu berbeda dengan wacana dan kata-kata
Sikap diam dan menerima itu sama sekali berbeda dan bertolak belakang dengan wacana dan kata-kata setiap kampanye. Maka, mana yang mesti dipegang, kata-kata kampanye? Ataukah sikap di dalam menghadapi pendukung yang beraliran seperti itu?
7. Pemimpin itu seia sekata di dalam tindakan dan perbuatan
Hati-hati agar pasangan ini jernih di dalam mendengarkan tim ses-nya agar dapat bersikap dengan bijaksana. Kata-kata yang diucapkan jauh dari perbuatan para pengikutnya. Hujat, cela, dan intimidasi di dalam media, berbeda dengan kata-kata ramah, dan lembut yang diucupkan dan didengung-dengungkan di dalam kampanye.
Ungkapan di atas sebagai keprihatinan yang besar atas kapasitas capres dan cawapres, bukan berorientasi atas suka dan tidak suka. Federasi Pentung/Pedang dengan para pengikutnya tolong jernih sehingga tidak kontraproduksi dengan kampanye yang dijalankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar