Minggu, 08 Juni 2014

Ironi 8 Juni 2014


Pagi ini ada dua kejadian besar yang diadakan di dua tempat berbeda. Dua tokoh besar agama yang mengadakan, dan menyebabkan.
Di Vatikan, yang sering dikatakan “kafir” di sini, ada pertemuan sejarah bangsa-bangsa dunia. Pemimpin Palestina berdoa bersama dengan Pemimpin Israel. Buah apa yang diharapkan adalah perdamaian. Penyatuan dua kutub yang selalu bertikai tiada ujung pangkalnya. Sama-sama ngotot dan mau menang sendiri, dengan doa diharapkan ada keredaan ketegangan, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang indah. Tidak ada doa yang memohon keburukan di hadapan Tuhan Yang Esa.
Di Yogyakarta ada undangan atas respon seorang tokoh besar agama di Indonesia, namun lebih banyak berpolitik pada akhirnya. Pernyataannnya direspons dengan luar biasa. Pengajian dengan tajuk melawan pluralisme.
Mau dibawa ke mana Bhineka Tunggal Ika? Mau dibawa ke mana bangsa ini, kalau berbeda merupakan dosa?
Marilah kita kembali ke dalam jati diri sendiri dan menghormati satu sama lain. Kembali dalam tulisan saya, saya mohon tidak ada saling menghujat, mem-bully,  yang berbeda dan tidak seide. Kita gunakan intelektual kita untuk membangun bangsa bukan untuk menghancurkannya.
Intermeso saja...
Kalau tidak mau pluralisme harusnya tidak menggunakan internet, smartphone, pesawat, dan kemajuan lainnya. Jangan standar ganda, ketika menguntungkan diterima dengan menutup mata, ketika tidak berdayaguna dibuang, dihujat, dan dimusuhi. Tolong lihat sejarah penemuan-penemuan dunia. Arif dan bijaksana dalam hidup demi kedamaian. Dunia indah di dalam keanekaan.

Salam damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar