Pagi
ini ada dua kejadian besar yang diadakan di dua tempat berbeda. Dua tokoh besar
agama yang mengadakan, dan menyebabkan.
Di
Vatikan, yang sering dikatakan “kafir” di sini, ada pertemuan sejarah
bangsa-bangsa dunia. Pemimpin Palestina berdoa bersama dengan Pemimpin Israel. Buah
apa yang diharapkan adalah perdamaian. Penyatuan dua kutub yang selalu bertikai
tiada ujung pangkalnya. Sama-sama ngotot dan mau menang sendiri, dengan doa
diharapkan ada keredaan ketegangan, sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang
indah. Tidak ada doa yang memohon keburukan di hadapan Tuhan Yang Esa.
Di
Yogyakarta ada undangan atas respon seorang tokoh besar agama di Indonesia,
namun lebih banyak berpolitik pada akhirnya. Pernyataannnya direspons dengan
luar biasa. Pengajian dengan tajuk melawan pluralisme.
Mau
dibawa ke mana Bhineka Tunggal Ika? Mau dibawa ke mana bangsa ini, kalau
berbeda merupakan dosa?
Marilah
kita kembali ke dalam jati diri sendiri dan menghormati satu sama lain. Kembali
dalam tulisan saya, saya mohon tidak ada saling menghujat, mem-bully, yang berbeda dan tidak seide. Kita gunakan
intelektual kita untuk membangun bangsa bukan untuk menghancurkannya.
Intermeso
saja...
Kalau
tidak mau pluralisme harusnya tidak menggunakan internet, smartphone, pesawat, dan kemajuan lainnya. Jangan standar ganda,
ketika menguntungkan diterima dengan menutup mata, ketika tidak berdayaguna
dibuang, dihujat, dan dimusuhi. Tolong lihat sejarah penemuan-penemuan dunia. Arif
dan bijaksana dalam hidup demi kedamaian. Dunia indah di dalam keanekaan.
Salam
damai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar