Rabu, 04 Juni 2014

Terjadilah Kehendak-Mu

Mendengar komentar dan pernyataan dari kepolisian, perasaan geram dan jengkel, bagaimana tidak, pengrusakan rumah orang ditunggui dan dikatakan pendekatan persuasif, batu melayang didiskusikan. Kemudian pengrusakan rumah dan penyetruman anak saat ada ibadat  dikatakan sebagai kejengkelan karena jalan terhalang, kalau kulaih logikanya lulus dengan nilai baik, tentu tidak akan berbicara seperti itu. Jalan yang macet tentu akan merusak motor (walau ini juga bukan manusia beradap). Padahal seminggu sebelumnya jalan di jantung kota Solo macet total, tidak ada klaim apapun.
Kemarahan itu jauh dari ajaran Tuhan. Tuhan mengajarkan kepadaku untuk:
·      Terjadilah Kehendak-Mu:
Tuhan telah berfirman, dan mengajarkan kepada-ku Doa Bapa Kami yang nyata-nyata menyebutkan, Jadilah kehendak-Mu,  mendoakan dan menantikan kehendak Tuhan terjadi di muka bumi dan diri ku. Namun saat Tuhan memberikan kehendak-Nya, dan itu sering tidak sama dengan kehendak ku, maka aku  protes, marah, dan jengkel saat menghadapinya.
·      Ampunilah karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat
Lukas  23:34: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Tuhan dalam firman-Nya mengajarkan kepada ku, bahwa apa yang mereka lakukan itu karena ketidaktahuan mereka. Apa yang perlu aku lakukan adalah mengampuni apa yang telah mereka lakukan. Firman yang menyejukkan di mana Tuhan memberikan kepada aku keteladanan untuk menghentikan kebiasaan emosinal dan kekerasan dibalas dengan kekerasan bahkan di media sosial sekalipun. Nyata sekali keteladanan Yesus saat Petrus memotong telinga prajurit  Yahudi. Apa yang dilakukan Tuhan adalah menghardik Petrus dan menyembuhkan prajurit tersebut.
·      Kamu akan dianiaya karena nama-Ku
Tuhan menyabdakan penganiayaan ini, sekian ribu tahun lalu. Dua ribu tahun yang makin konkret dan kerasa keberadaan jemaat Kristen untuk semakin setia di dalam menanggung penderitaan dan penganiayaan. Penganiayaan tidak harus fisik seperti yang dialami saudara-saudara kita di Sleman, namun bisa juga berupa kesulitan dan ketakutan menjalankan peribadatan kita. Kesulitan karena gedung yang tidak bisa dibangun, selalu diusik keberadaannya, atau karena takut akan ancaman dan intimidasi kalau jemaat kita hendak menjadi pejabat publik.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar