Mendengar komentar
dan pernyataan dari kepolisian, perasaan geram dan jengkel, bagaimana tidak,
pengrusakan rumah orang ditunggui dan dikatakan pendekatan persuasif, batu
melayang didiskusikan. Kemudian pengrusakan rumah dan penyetruman anak saat ada
ibadat dikatakan sebagai kejengkelan
karena jalan terhalang, kalau kulaih logikanya lulus dengan nilai baik, tentu
tidak akan berbicara seperti itu. Jalan yang macet tentu akan merusak motor
(walau ini juga bukan manusia beradap). Padahal seminggu sebelumnya jalan di
jantung kota Solo macet total, tidak ada klaim apapun.
Kemarahan itu jauh
dari ajaran Tuhan. Tuhan mengajarkan kepadaku untuk:
· Terjadilah
Kehendak-Mu:
Tuhan telah berfirman, dan mengajarkan
kepada-ku Doa Bapa Kami yang nyata-nyata menyebutkan, Jadilah kehendak-Mu, mendoakan dan menantikan kehendak Tuhan
terjadi di muka bumi dan diri ku. Namun saat Tuhan memberikan kehendak-Nya, dan
itu sering tidak sama dengan kehendak ku, maka aku protes, marah, dan jengkel saat menghadapinya.
· Ampunilah
karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat
Lukas 23:34: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab
mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Tuhan dalam
firman-Nya mengajarkan kepada ku, bahwa apa yang mereka lakukan itu karena
ketidaktahuan mereka. Apa yang perlu aku lakukan adalah mengampuni apa yang
telah mereka lakukan. Firman yang menyejukkan di mana Tuhan memberikan kepada aku
keteladanan untuk menghentikan kebiasaan emosinal dan kekerasan dibalas dengan
kekerasan bahkan di media sosial sekalipun. Nyata sekali keteladanan Yesus saat
Petrus memotong telinga prajurit Yahudi.
Apa yang dilakukan Tuhan adalah menghardik Petrus dan menyembuhkan prajurit
tersebut.
· Kamu
akan dianiaya karena nama-Ku
Tuhan menyabdakan penganiayaan ini,
sekian ribu tahun lalu. Dua ribu tahun yang makin konkret dan kerasa keberadaan
jemaat Kristen untuk semakin setia di dalam menanggung penderitaan dan
penganiayaan. Penganiayaan tidak harus fisik seperti yang dialami
saudara-saudara kita di Sleman, namun bisa juga berupa kesulitan dan ketakutan
menjalankan peribadatan kita. Kesulitan karena gedung yang tidak bisa dibangun,
selalu diusik keberadaannya, atau karena takut akan ancaman dan intimidasi
kalau jemaat kita hendak menjadi pejabat publik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar