Rabu, 30 April 2014

Macam Apakah Aku di dalam Organisasi???

Kehidupan berorganisasi, jalannya organ-organ penyusunnya secara sinergis merupakan dambaan yang ideal bagi anggotanya. Ada dua bagian atau oknum yang selalu ada di dalam kelompok atau organisasi yang sering menjadi duri atau pengganjal.
1.     Kelompok atau seksi yang tidak dibentuk tetapi selalu bekerja
Di manapun orang-orang seperti ini selalu ada, yaitu kelompok atau pihak atau oknum pencela. Tidak ada satu organisasi yang membentuk seksi atau komisi pencela, tapi selalu ada oknum-oknum macam ini. Bahasa gaul anak muda zaman sekarang omdo, omong doang. Kelompok ini biasa bicara banyak, keras, dan tidak bekerja apa-apa. Energi yang ada tidak digunakan untuk bekerja. Proses dan jalannya organisasi tidak tahu, karena entah di mana dan ngapain saja, pas saatnya evaluasi dan pembagian insentif merasa paling  berjasa. Menjengkelkan tentunhya ada benalu seperti ini, lebih menjengkelkan kalau oknum seperti ini lebih banyak dibandingkan yang bekerja dan banting tulang.
2.     Kelompok atau seksi yang dibentuk tetapi tidak bekerja
Di manapun tipikal seperti ini juga ada. Diajak kerja dan jalan ada saja alasannya. Atau mengeluh karena bukan bidang yang dia inginkan, tidak terampil bagian ini, coba aku diberi job yang lain. Alasan lain job desc tidak jelas, tumpang tindih, nanti malah ribut dengan teman. Semua itu hanya dalih untuk menghindari keja dan aktivitas yang harus dilakukan. Orang model ini juga banyak omong dan besar dalam berargumentasi untuk mencela, biasanya dua kelompok ini berkolaborasi dalam menghambat jalannya organisasi dan aktivitas bersama.

Kepemimpinan yang tegas, lugas, dan efektif diperlukan untuk menghilangkan benalu-benalu seperti itu. Memberatkan jalannya roda organisasi dan kegiatan setiap saat diganduli oknum-oknum model begitu. Parasit memang diciptakan Tuhan sebagai salah satu kelengkapan rantai makanan yang harus terjadi sehingga siklus alam berjalan sebagaimana adanya. Keberadaan manusia model ini sebenarnya ada manfaatnya juga. Pemimpin yang efektif akan mengembangkan potensi banyak omongnya untuk menjadikan orang-orang ini sebagai humas, atau negosiator, dengan lebih dahulu tahu benar kemampuannya. Menjadi repot sekali kalau manusia-manusia macam itu ada dan dominan di organisasi yang masa kerjanya pendek seperti OSIS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar