Kehidupan berorganisasi,
jalannya organ-organ penyusunnya secara sinergis merupakan dambaan yang ideal
bagi anggotanya. Ada dua bagian atau oknum yang selalu ada di dalam kelompok
atau organisasi yang sering menjadi duri atau pengganjal.
1. Kelompok atau seksi yang tidak dibentuk tetapi
selalu bekerja
Di manapun orang-orang seperti ini selalu ada,
yaitu kelompok atau pihak atau oknum pencela. Tidak ada satu organisasi yang
membentuk seksi atau komisi pencela, tapi selalu ada oknum-oknum macam ini. Bahasa
gaul anak muda zaman sekarang omdo, omong
doang. Kelompok ini biasa bicara banyak, keras, dan tidak bekerja apa-apa. Energi
yang ada tidak digunakan untuk bekerja. Proses dan jalannya organisasi tidak
tahu, karena entah di mana dan ngapain
saja, pas saatnya evaluasi dan pembagian insentif merasa paling berjasa. Menjengkelkan tentunhya ada benalu
seperti ini, lebih menjengkelkan kalau oknum seperti ini lebih banyak
dibandingkan yang bekerja dan banting tulang.
2. Kelompok atau seksi yang dibentuk tetapi tidak
bekerja
Di manapun tipikal seperti ini juga ada. Diajak
kerja dan jalan ada saja alasannya. Atau mengeluh karena bukan bidang yang dia
inginkan, tidak terampil bagian ini, coba aku diberi job yang lain. Alasan lain
job desc tidak jelas, tumpang tindih, nanti malah ribut dengan teman. Semua itu
hanya dalih untuk menghindari keja dan aktivitas yang harus dilakukan. Orang model
ini juga banyak omong dan besar dalam berargumentasi untuk mencela, biasanya
dua kelompok ini berkolaborasi dalam menghambat jalannya organisasi dan
aktivitas bersama.
Kepemimpinan
yang tegas, lugas, dan efektif diperlukan untuk menghilangkan benalu-benalu
seperti itu. Memberatkan jalannya roda organisasi dan kegiatan setiap saat diganduli oknum-oknum model begitu. Parasit
memang diciptakan Tuhan sebagai salah satu kelengkapan rantai makanan yang
harus terjadi sehingga siklus alam berjalan sebagaimana adanya. Keberadaan manusia
model ini sebenarnya ada manfaatnya juga. Pemimpin yang efektif akan
mengembangkan potensi banyak omongnya untuk menjadikan orang-orang ini sebagai
humas, atau negosiator, dengan lebih dahulu tahu benar kemampuannya. Menjadi repot
sekali kalau manusia-manusia macam itu ada dan dominan di organisasi yang masa
kerjanya pendek seperti OSIS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar