Kesepian
dan sepi sangat berbeda. Setiap melihat dan memandang panti jompo, akan
didapatkan pemandangan kaum tua baik bapak ataupun ibu, yang duduk di kursi
atau kursi roda dengan tatapan kosong. Tidak semua memang, kebanyakan memiliki
pandangan yang hampa. Ketika ada yang memasuki pintu gerbang, mata-mata itu
bersinar, namun dengan cepat akan meredup. Harapan yang datang adalah sanak
suadaranya sirna. Secercah harapan tadi membinarkan cahaya kehidupan di
matanya. Seorang rekan yang merasa dikucilkan teman-temannya, sama sekali tidak
dilibatkan dalam bincang-bincang, kalau sedang ada percakapan dan menimpali
tidak ada respons sama sekali. Saudara tersebut mengatasi dengan SMS-an dengan dirinya
sendiri melalui HP memakai nomer
lain. Itu adalah bentuk kesepian. Kesepian mematikan gairah hidup yang diwakili
cahaya mata yang berbinar terang. Mata yang redup menandakan tiadanya roh dan
jiwa yang berkobar. Mati di dalam hidup tentu sangat menyakitkan. Belanda mengasingkan
tokoh-tokoh besar bangsa ini, agar kesepian dan memiskinkan ide dan kebesaran
hatinya. Nelson Mandela 27 tahun diasingkan agar merasakan kesepian, namun sepi
itu menghasilkan kebesaran jiwa yang luar biasa.
Kuasa
jahat melihat manusia paling tidak bisa kesepian. Oleh karena itu dia meminta
izin kepada Allah, untuk mencobai Ayub. Harta benda dan anak-anak Ayub
dimusnahkan semua. Ayub masih setia dan taat, roh jahat masih memiliki agenda
kalau ditimpakan penyakit tentu akan berubah, dan Ayub masih bersikap sama. Kuasa
gelap tahu kalau rekan-rekannya menjauh tentu Ayub akan menghujat Allah. Apalagi
kalau rekan-rekannya justru menganjurkan dan menjelek-jelekan Allah sebagai
penyebabnya.
Perjanjian
Baru memiliki contoh kesepian yang menyakitkan melalui Tuhan Yesus yang “merasakan”
bahkan Bapa-Nya-pun meninggalkan-Nya. Saat kesendirian-Nya, murid yang setiap
hari ke sana ke mari bersama, belajar, menggembara dari desa ke desa selalu di
dekat-Nya, malah tidur.
Mekanisme
mengatasi kesepian beranekaragam. Saudara saya tadi melalui sms-an
dengan nomornya sendiri. Sekarang ini banyak orang yang kesepian, oleh karena
itu asyik dengan dunia maya, teman virtual yang tidak jarang mengasingkan
dirinya dengan lingkungannya. Kesepian bukan berkurang justru akan menjadi saat
ada halangan untuk terhubung dengan yang maya itu.
Ayub
dalam kesepian dan kepedihannya tetap mempercayai Allah berkuasa atas hidupnya.
Kesedihan dan kesepiannya dia timpakan atas kehidupannya, hari kelahirannya,
dan sama sekali tidak menghujat atau menggugat kuasa Allah. Ayub tidak
menyalahkan Allah atas jalan hidupnya.
Yesus
menjawab kepedihan atas kesepian-Nya dengan mengembalikan hal itu kepada yang
memberi. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu
dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang
Engkau kehendaki.” Dia berserah total kepada Bapa-Nya yang telah memberikan
semuanya tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar