Jumat, 25 April 2014

Kesepian: mati dalam hidup


Kesepian dan sepi sangat berbeda. Setiap melihat dan memandang panti jompo, akan didapatkan pemandangan kaum tua baik bapak ataupun ibu, yang duduk di kursi atau kursi roda dengan tatapan kosong. Tidak semua memang, kebanyakan memiliki pandangan yang hampa. Ketika ada yang memasuki pintu gerbang, mata-mata itu bersinar, namun dengan cepat akan meredup. Harapan yang datang adalah sanak suadaranya sirna. Secercah harapan tadi membinarkan cahaya kehidupan di matanya. Seorang rekan yang merasa dikucilkan teman-temannya, sama sekali tidak dilibatkan dalam bincang-bincang, kalau sedang ada percakapan dan menimpali tidak ada respons sama sekali. Saudara tersebut  mengatasi dengan SMS-an  dengan dirinya sendiri melalui HP memakai nomer lain. Itu adalah bentuk kesepian. Kesepian mematikan gairah hidup yang diwakili cahaya mata yang berbinar terang. Mata yang redup menandakan tiadanya roh dan jiwa yang berkobar. Mati di dalam hidup tentu sangat menyakitkan. Belanda mengasingkan tokoh-tokoh besar bangsa ini, agar kesepian dan memiskinkan ide dan kebesaran hatinya. Nelson Mandela 27 tahun diasingkan agar merasakan kesepian, namun sepi itu menghasilkan kebesaran jiwa yang luar biasa.
Kuasa jahat melihat manusia paling tidak bisa kesepian. Oleh karena itu dia meminta izin kepada Allah, untuk mencobai Ayub. Harta benda dan anak-anak Ayub dimusnahkan semua. Ayub masih setia dan taat, roh jahat masih memiliki agenda kalau ditimpakan penyakit tentu akan berubah, dan Ayub masih bersikap sama. Kuasa gelap tahu kalau rekan-rekannya menjauh tentu Ayub akan menghujat Allah. Apalagi kalau rekan-rekannya justru menganjurkan dan menjelek-jelekan Allah sebagai penyebabnya.
Perjanjian Baru memiliki contoh kesepian yang menyakitkan melalui Tuhan Yesus yang “merasakan” bahkan Bapa-Nya-pun meninggalkan-Nya. Saat kesendirian-Nya, murid yang setiap hari ke sana ke mari bersama, belajar, menggembara dari desa ke desa selalu di dekat-Nya, malah tidur.
Mekanisme mengatasi kesepian beranekaragam. Saudara saya tadi melalui sms-an dengan nomornya sendiri. Sekarang ini banyak orang yang kesepian, oleh karena itu asyik dengan dunia maya, teman virtual yang tidak jarang mengasingkan dirinya dengan lingkungannya. Kesepian bukan berkurang justru akan menjadi saat ada halangan untuk terhubung dengan yang maya itu.
Ayub dalam kesepian dan kepedihannya tetap mempercayai Allah berkuasa atas hidupnya. Kesedihan dan kesepiannya dia timpakan atas kehidupannya, hari kelahirannya, dan sama sekali tidak menghujat atau menggugat kuasa Allah. Ayub tidak menyalahkan Allah atas jalan hidupnya.

Yesus menjawab kepedihan atas kesepian-Nya dengan mengembalikan hal itu kepada yang memberi. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Dia berserah total kepada Bapa-Nya yang telah memberikan semuanya tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar