Fenomena
aneh terjadi saat ujian nasional 2014, paling tidak untuk tingkat SMA/K yang
sudah berlangsung dua hari. Mulai dari
soal kurang, tertukar, dan tidak tahu mengapa bisa seribet ini. Ada soal
politis entah kepentingan apa.
Beberapa hal yang memalukan
justru dilakukan oleh pendidiknya sendiri.
1.
Ujian
diawasi dengan CCTV
Pemberitaan media massa hari-hari ini berkaitan
dengan UN SMA yang menggeser pemberitaan pileg. Meskipun kedua-duanya sama saja
buruknya. Anak siswa adalah anak negeri yang hidupnya dipenuhi dengan
kecurigaan yang justru dilakukan para pejabat yang sangat tidak jujur. CCTV, ada dan diadakan untuk mengawasi
lingkungan agar berjalan dengan semestinya, ada yang menyebutnya kamera
pengawas. Pengawasan akan tindak kejahatan, pertanyaan yang timbul adalah sudah
serendah itukah siswa-siswa bangsa ini? Sehingga sudah ada guru pengawas, untuk
SMA pengawas independent dari perguruan tinggi, dan tahun ini ada polisi, masih
ditambah kamera pengawas.
2.
Ujian ada
polisi yang masuk ke sekolah
Secara psikologis, anak remaja-dewasa awal
melihat polisi pasti akan was-was, apalagi dengan seragam coklatnya. Ujian
pasti menimbulkan ketegangan. Kehadiran polisi menambah ketengangan yang
kontraproduksi dengan apa yang hendak dicapai dengan ujian. Polisi masih banyak
pekerjaan rumah yang belum terselesaikan tidak perlulah mengurusi “kenakalan
anak” ujian, kasihan pekerjaan rumahnya makin menumpuk.
Apa yang hendak dituju dengan
model pengawasan seperti itu?
1.
Memang
siswa kita ini maling?
CCTV dan polisi identik atau kasarnya digunakan
untuk mengawasi maling. Memangnya murid-murid kita ini maling? Ketegasan guru
dan kewibaan penjaga cukup untuk mengawasi anak ujian, tidak perlu seheboh
dengan CCTV dan polisi segala. Sesuatu yang dalam bahasa remaja lebay. Kepercayaan dan sedikit kewaspadaan
lebih dari cukup untuk menertibkan siswa agar berlaku tertib dan jujur.
2.
Kejujuran
itu suatu proses bukan sesaat semata
Kejujuran itu suatu proses, bukan sesaat hanya
ujian akhir saja. Bagaimana kejujuran berjalan seiring berjalan dengan
kehidupan belajar mengajar? Lihat saja dari proses penerimaan, ini merupakan
proses awali, siswa diajari untuk mengandalkan nilai (angka) semata yang
tinggi, kalau kurang masih ada jalan suap, saling sikut dengan metode
penerimaan yang mengandalkan nilai (angka). Dalam perjalanan bersekolah,
kejujuran dalam mengerjakan tugas, tanggung jawab, dan keteladanan itu ada
tidak. Apakah komponen kependidikan bersikap jujur dan adil? Anak perlu
keteladanan dan pembelajaran, bukan tuntutan dan kecurigaan semata. Bagaimana
anak murid dapat jujur dalam ujian akhir kalau setiap hari dalam ujian sekolah,
ujian harian menyontek, diskusi itu menjadi sarana mencapai angka nilai tinggi.
Mengapa terjadi?
1.
Sistem yang
buruk
Sistem pendidikan harus diakui jelek dan gagal,
perlu revolusi besar-besaran. Bertahun-tahun kelulusan ditentukan oleh angka
nilai yang tinggi. Mungkin produk kelulusan dengan model ini, saat ini sudah
mulai menjadi guru. Gonta ganti kurikulum tanpa adanya evaluasi mendalam dan
perbaikan atas kekurangan, mengganti bukan memperbaiki, silih berganti.
2.
Orientasi
pendidikan pada nilai (mark) sebatas
angka, bukan nilai (value)
Nilai berorientasi pada angka (mark), bukan value, kuantitas bukan kualitas. Nilai tinggi tidak berkorelasi
linier terhadap kualitas peserta didik. Orientasi ini sudah saatnya
ditinggalkan dan berani mengubah paradigma mimpi angka tinggi. Angka nilai
sekarang memang tinggi, namun dengan
kualitas sama saja, bahkan kalau berani mengakui semakin menurun.
3.
Penghargaan
akan hasil akhir bukan proses karena budaya instan
Sekolah sekarang, tidak menghargai proses sama
sekali. Bisa saja anak tidak perlu bersekolah, menghafal kunci jawaban dan
nilai sempurna pasti lulus (Memang untuk tahun ini sudah mulai bertobat dan
ditinggalkan, dengan hanya 30% nilai UN menjadi salah satu komponen
kelulusan). Budaya instan, dimulai dari
mie sekarang sudah masuk ke dunia pendidikan. Semua ingin cepat dan sekejap.
Tidak mau bersusah-susah semua menghendaki finis.
Keindahan ada pada proses dan perjalanan, kalau
finis dan hasil akhir itu memang indah adalah bonus dan penghargaan tambahan
sebagai kegembiraan dan penghargaan kerja keras atas proses yang berjalan.
Adakah keteladanan dari
lingkungan?
Orang
tua. Banyak orang tua
yang kurang mengerti pendidikan akan menuntut anaknya mendapatkan angka (mark) yang tinggi. Tidak mau tahu apapun
yang penting nilainya tinggi.
Ada sebuah sharing dari ibu
yang merupakan perempuan karier, sudah capek-capek ngajari, nilainya cuma enam. Budaya menuntut anak seperti diri
orang tuanya. Orientasi angka nilai kuantitas bukan kualitas masih tinggi pada
pola pikir masyarakat bangsa Indonesia.
Demi memperoleh nilai tinggi
anak dijejali dengan berbagai les, dan lebih parah akan “dimanjakan” pula,
pekerjaan rumah dikerjakan oleh guru lesnya. Anak lepas tanggung jawab dan
dididik tidak jujur secara halus.
Tingkatan paling parah, anak
dibelikan kunci jawaban, meskipun secara tidak langsung. Saat anak minta uang
yang diluar kewajaran untuk persiapan ujian nasional, orang tua perlu waspada.
Guru
dan kepala sekolah. Sekolah
tertentu, demi mempertahankan nama baik, prestise,
menghalalkan segala cara. Proses
seleksi, tindak ketidakjujuran sudah dimulai. Orientasi angka nilai, dan suap
mulai diajarkan kepada anak untuk berlaku yang sama. Kegiatan belajar mengajar
selama tiga tahun merupakan medan penanaman nilai kejujuran yang sangat ideal.
Sudah dilakukan atau belum. Atau malah anak “dibiarkan” tidak jujur. Ujian
diawasi dengan baik, atau hanya formalitas. Penekanan karakter kejujuran dalam
kurikulum PPR sebenarnya dapat dilakukan di semua mata pelajaran. Namun pada
implementasi jauh dari harapan. Sekolah, dalam hal ini guru dan kepala sekolah
untuk menutupi atau menyangkal kegagalan pendidikannya dengan menyerahkan
pengawasan kepada CCTV dan polisi.
Seandainya,
kejujuran itu diajarkan sejak awal, ujian tidak dijaga pun anak tidak akan
berlaku curang. Adakah sekolah demikian? Ada dan banyak sebenarnya.
Pejabat. Ketidakjujuran justru dimulai dari pejabatnya.
Bagaimana para pejabat yang tidak konsisten, berlaku curang dengan
terang-terangan, dan menghalalkan segala cara demi mencapai hasil akhir, tidak pernah
menghargai proses.
Media massa. Sudah saatnya media massa menghentikan booming pemberitaan kecurangan ujian.
Para pewarta media perlu mendapatkan terobosan menayangkan sekolah yang tidak
perlu pengawasan dan siswanya menjalankan dengan jujur dan bertanggung jawab.
Pemberitaan pejabat buruk juga perlu pelan-pelan dikurangi dan lebih memberikan
porsi kebaikan karakter bangsa ini yang tidak kurang banyak.
Malam
menang kelam, ada hari esok dengan fajar dan mentari yang bersinar terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar