Selasa, 15 April 2014

Pendidikan Nasional Nasibmu Kini.........

Fenomena aneh terjadi saat ujian nasional 2014, paling tidak untuk tingkat SMA/K yang sudah berlangsung dua  hari. Mulai dari soal kurang, tertukar, dan tidak tahu mengapa bisa seribet ini. Ada soal politis entah kepentingan apa.
Beberapa hal yang memalukan justru dilakukan oleh pendidiknya sendiri.
1.     Ujian diawasi dengan CCTV
Pemberitaan media massa hari-hari ini berkaitan dengan UN SMA yang menggeser pemberitaan pileg. Meskipun kedua-duanya sama saja buruknya. Anak siswa adalah anak negeri yang hidupnya dipenuhi dengan kecurigaan yang justru dilakukan para pejabat yang sangat tidak jujur. CCTV, ada dan diadakan untuk mengawasi lingkungan agar berjalan dengan semestinya, ada yang menyebutnya kamera pengawas. Pengawasan akan tindak kejahatan, pertanyaan yang timbul adalah sudah serendah itukah siswa-siswa bangsa ini? Sehingga sudah ada guru pengawas, untuk SMA pengawas independent dari perguruan tinggi, dan tahun ini ada polisi, masih ditambah kamera pengawas.
2.     Ujian ada polisi yang masuk ke sekolah
Secara psikologis, anak remaja-dewasa awal melihat polisi pasti akan was-was, apalagi dengan seragam coklatnya. Ujian pasti menimbulkan ketegangan. Kehadiran polisi menambah ketengangan yang kontraproduksi dengan apa yang hendak dicapai dengan ujian. Polisi masih banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan tidak perlulah mengurusi “kenakalan anak” ujian, kasihan pekerjaan rumahnya makin menumpuk.
Apa yang hendak dituju dengan model pengawasan seperti itu?
1.     Memang siswa kita ini maling?
CCTV dan polisi identik atau kasarnya digunakan untuk mengawasi maling. Memangnya murid-murid kita ini maling? Ketegasan guru dan kewibaan penjaga cukup untuk mengawasi anak ujian, tidak perlu seheboh dengan CCTV dan polisi segala. Sesuatu yang dalam bahasa remaja lebay. Kepercayaan dan sedikit kewaspadaan lebih dari cukup untuk menertibkan siswa agar berlaku tertib dan jujur.
2.     Kejujuran itu suatu proses bukan sesaat semata
Kejujuran itu suatu proses, bukan sesaat hanya ujian akhir saja. Bagaimana kejujuran berjalan seiring berjalan dengan kehidupan belajar mengajar? Lihat saja dari proses penerimaan, ini merupakan proses awali, siswa diajari untuk mengandalkan nilai (angka) semata yang tinggi, kalau kurang masih ada jalan suap, saling sikut dengan metode penerimaan yang mengandalkan nilai (angka). Dalam perjalanan bersekolah, kejujuran dalam mengerjakan tugas, tanggung jawab, dan keteladanan itu ada tidak. Apakah komponen kependidikan bersikap jujur dan adil? Anak perlu keteladanan dan pembelajaran, bukan tuntutan dan kecurigaan semata. Bagaimana anak murid dapat jujur dalam ujian akhir kalau setiap hari dalam ujian sekolah, ujian harian menyontek, diskusi itu menjadi sarana mencapai angka nilai tinggi.

Mengapa terjadi?
1.     Sistem yang buruk
Sistem pendidikan harus diakui jelek dan gagal, perlu revolusi besar-besaran. Bertahun-tahun kelulusan ditentukan oleh angka nilai yang tinggi. Mungkin produk kelulusan dengan model ini, saat ini sudah mulai menjadi guru. Gonta ganti kurikulum tanpa adanya evaluasi mendalam dan perbaikan atas kekurangan, mengganti bukan memperbaiki, silih berganti.
2.     Orientasi pendidikan pada nilai (mark) sebatas angka, bukan nilai (value)
Nilai berorientasi pada angka (mark), bukan value, kuantitas bukan kualitas. Nilai tinggi tidak berkorelasi linier terhadap kualitas peserta didik. Orientasi ini sudah saatnya ditinggalkan dan berani mengubah paradigma mimpi angka tinggi. Angka nilai sekarang memang tinggi, namun  dengan kualitas sama saja, bahkan kalau berani mengakui semakin menurun.
3.     Penghargaan akan hasil akhir bukan proses karena budaya instan
Sekolah sekarang, tidak menghargai proses sama sekali. Bisa saja anak tidak perlu bersekolah, menghafal kunci jawaban dan nilai sempurna pasti lulus (Memang untuk tahun ini sudah mulai bertobat dan ditinggalkan, dengan hanya 30% nilai UN menjadi salah satu komponen kelulusan).  Budaya instan, dimulai dari mie sekarang sudah masuk ke dunia pendidikan. Semua ingin cepat dan sekejap. Tidak mau bersusah-susah semua menghendaki finis.
Keindahan ada pada proses dan perjalanan, kalau finis dan hasil akhir itu memang indah adalah bonus dan penghargaan tambahan sebagai kegembiraan dan penghargaan kerja keras atas proses yang berjalan.

Adakah keteladanan dari lingkungan?
Orang tua. Banyak orang tua yang kurang mengerti pendidikan akan menuntut anaknya mendapatkan angka (mark) yang tinggi. Tidak mau tahu apapun yang penting nilainya tinggi.
Ada sebuah sharing dari ibu yang merupakan perempuan karier, sudah capek-capek ngajari, nilainya cuma enam. Budaya menuntut anak seperti diri orang tuanya. Orientasi angka nilai kuantitas bukan kualitas masih tinggi pada pola pikir masyarakat bangsa Indonesia.
Demi memperoleh nilai tinggi anak dijejali dengan berbagai les, dan lebih parah akan “dimanjakan” pula, pekerjaan rumah dikerjakan oleh guru lesnya. Anak lepas tanggung jawab dan dididik tidak jujur secara halus.
Tingkatan paling parah, anak dibelikan kunci jawaban, meskipun secara tidak langsung. Saat anak minta uang yang diluar kewajaran untuk persiapan ujian nasional, orang tua perlu waspada.
Guru dan kepala sekolah. Sekolah tertentu, demi mempertahankan nama baik, prestise,  menghalalkan segala cara. Proses seleksi, tindak ketidakjujuran sudah dimulai. Orientasi angka nilai, dan suap mulai diajarkan kepada anak untuk berlaku yang sama. Kegiatan belajar mengajar selama tiga tahun merupakan medan penanaman nilai kejujuran yang sangat ideal. Sudah dilakukan atau belum. Atau malah anak “dibiarkan” tidak jujur. Ujian diawasi dengan baik, atau hanya formalitas. Penekanan karakter kejujuran dalam kurikulum PPR sebenarnya dapat dilakukan di semua mata pelajaran. Namun pada implementasi jauh dari harapan. Sekolah, dalam hal ini guru dan kepala sekolah untuk menutupi atau menyangkal kegagalan pendidikannya dengan menyerahkan pengawasan kepada CCTV dan polisi.
Seandainya, kejujuran itu diajarkan sejak awal, ujian tidak dijaga pun anak tidak akan berlaku curang. Adakah sekolah demikian? Ada dan banyak sebenarnya.
Pejabat. Ketidakjujuran justru dimulai dari pejabatnya. Bagaimana para pejabat yang tidak konsisten, berlaku curang dengan terang-terangan, dan menghalalkan segala cara demi mencapai hasil akhir, tidak pernah menghargai proses.
Media massa. Sudah saatnya media massa menghentikan booming pemberitaan kecurangan ujian. Para pewarta media perlu mendapatkan terobosan menayangkan sekolah yang tidak perlu pengawasan dan siswanya menjalankan dengan jujur dan bertanggung jawab. Pemberitaan pejabat buruk juga perlu pelan-pelan dikurangi dan lebih memberikan porsi kebaikan karakter bangsa ini yang tidak kurang banyak.

Malam menang kelam, ada hari esok dengan fajar dan mentari yang bersinar terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar