Media massa mengabarkan betapa tidak amannya masyarakat kita bagi
anak-anak. Mulai dari tenaga kependidikan, tenaga non kependidikan di sekolah,
aparat negara (polisi, DPRD), pendidik spiritual (apapun agama dan
kepercayaannya), orang terdekat (paman, bapak, ibu, kakak, kerabat, teman orang
tua, kakek, tetangga), rekan sebaya (anak maupu remaja), bahkan dunia maya (FB,
Twitter), kekerasan seksual ataupun non seksual, mengapa itu semua terjadi?
Mentalitas pihak dewasa perlu
perbaikan. Anak memerlukan bantuan orang dewasa untuk dapat masuk ke dalam
dunia. Hal yang bersifat kodrati. Tidak ada satu manusiapun yang tidak ada yang
mendidik. Bahkan legenda Tarzan sekalipun dibina dan dididik oleh induk
pengasuhnya, meski itu hewan. Ketergantungan anak ini dimanfaatkan orang
dewasa, yang lebih kuat bisa bersama-sama ataupun sendiri, mengeksploitasi
keberadaan anak. Berarti yang perlu diperbaiki adalah mentalitas kaum dewasa.
Moralitas yang lemah. Bangsa
ini masih kacau mana kebaikan dan mana keburukan. Banyak contoh dipertontonkan
oleh media, istimewanya televisi, bahwa keburukan bisa ‘seolah-olah, baik dan benar’
dinyatakan dengan bahasa tubuh yang meyakinkan, penuh percaya diri, bahkan
dengan menggunakan istilah-istilah keagamaan dan abhkan bersumpah/janji. Penyaji
itu kebanyakkan public figure, baik artis, pengacara, pejabat negara, ada juga
tokoh agama, dengan sebutan-sebutan penghormatan yang tinggi dalam keagamaan, dan
itu ditonton oleh rekan-rekan muda yang belum memiliki screening moralitas yang matang. Apa yang disajikan itu sudah benar
adanya dalam penilaian mereka.
Penghormatan atas kepemilikan dan
orang lain yang rendah. Ketika berhadapan dengan kepemilikan, bangsa ini
memiliki kecenderungan ketika milikku, menjadi obsesif dan protektif, sedang
saat milik orang lain membiarkan dan cenderung mengarahkan, contoh kalau
dilewati saluran tegangan tinggi listrik
jangan lewat kampungku, lewat tempat lain. Paradigma dan pola pikir demikian
menjadikan penghargaan atas kepemilikan dan orang lain menjadi rendah. Contoh lain,
saat berkendara, bagaimana yang penting aku selamat dan cepat, entah orang
lain, mau selamat atau tidak.
Penghargaan hak hidup yang
buruk. Hak hidup kurang dihayati dan dihargai sebagaimana mestinya. Berita sungguh
memilukan, calon ibu muda belum genap dua puluh tahun sedang hamil tua, merencanakan
dan menjadi pelaku pembunuhan ibu mertuanya, hanya karena sering dimarahi. Marah
dalam hal ini versi anak tersebut. Anak dibuang, dibunuh, dan dibuang,
merupakan bukti konkret lemahnya penghargaan atas hak hidup. Hak hidup padahal
merupakan hak asazi yang sejak awal sudah seharusnya menjadi bagian hidup
manusiawi.
Masyarakat yang permisif atas kesalahan komunal. Benar dan salah
kalau itu kerabatku, tetanggaku, saudaraku itu pasti benar. Pemberitaan banyak
menyajikan berita ini. Saat digusur melawan dengan berbagai cara sering tidak
jarang dengan kekerasan. Jelas-jelas tindakan itu salah, dan mengganggu
kepentingan umum. Pengeroyokan aparat negara dan merusak fasilitas negara
karena dilakukan bersama-sama akhirnya tidak diselesaikan dengan semestinya.
Hal-hal tersebut, tidak
terkecuali menimpa anak-anak. Penghormatan atas hidup anak, kepemilikan masa
depan anak, dirampas karena mentalitas, moralitas, dan sikap permisif atas
kesalahan orang-orang dewasa, yang seharusnya melindungi, mendidik, dan
mengembangkan anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar