Selasa, 22 April 2014

Anak, di mana engkau dapat berlindung?


Media massa mengabarkan betapa tidak amannya masyarakat kita bagi anak-anak. Mulai dari tenaga kependidikan, tenaga non kependidikan di sekolah, aparat negara (polisi, DPRD), pendidik spiritual (apapun agama dan kepercayaannya), orang terdekat (paman, bapak, ibu, kakak, kerabat, teman orang tua, kakek, tetangga), rekan sebaya (anak maupu remaja), bahkan dunia maya (FB, Twitter), kekerasan seksual ataupun non seksual, mengapa itu semua terjadi?
Mentalitas pihak dewasa perlu perbaikan. Anak memerlukan bantuan orang dewasa untuk dapat masuk ke dalam dunia. Hal yang bersifat kodrati. Tidak ada satu manusiapun yang tidak ada yang mendidik. Bahkan legenda Tarzan sekalipun dibina dan dididik oleh induk pengasuhnya, meski itu hewan. Ketergantungan anak ini dimanfaatkan orang dewasa, yang lebih kuat bisa bersama-sama ataupun sendiri, mengeksploitasi keberadaan anak. Berarti yang perlu diperbaiki adalah mentalitas kaum dewasa.
Moralitas yang lemah. Bangsa ini masih kacau mana kebaikan dan mana keburukan. Banyak contoh dipertontonkan oleh media, istimewanya televisi, bahwa keburukan bisa ‘seolah-olah, baik dan benar’ dinyatakan dengan bahasa tubuh yang meyakinkan, penuh percaya diri, bahkan dengan menggunakan istilah-istilah keagamaan dan abhkan bersumpah/janji. Penyaji itu kebanyakkan  public figure, baik artis, pengacara, pejabat negara, ada juga tokoh agama, dengan sebutan-sebutan penghormatan yang tinggi dalam keagamaan, dan itu ditonton oleh rekan-rekan muda yang belum memiliki screening moralitas yang matang. Apa yang disajikan itu sudah benar adanya dalam penilaian mereka.
Penghormatan atas kepemilikan dan orang lain yang rendah. Ketika berhadapan dengan kepemilikan, bangsa ini memiliki kecenderungan ketika milikku, menjadi obsesif dan protektif, sedang saat milik orang lain membiarkan dan cenderung mengarahkan, contoh kalau dilewati saluran  tegangan tinggi listrik jangan lewat kampungku, lewat tempat lain. Paradigma dan pola pikir demikian menjadikan penghargaan atas kepemilikan dan orang lain menjadi rendah. Contoh lain, saat berkendara, bagaimana yang penting aku selamat dan cepat, entah orang lain, mau selamat atau tidak.
Penghargaan hak hidup yang buruk. Hak hidup kurang dihayati dan dihargai sebagaimana mestinya. Berita sungguh memilukan, calon ibu muda belum genap dua puluh tahun sedang hamil tua, merencanakan dan menjadi pelaku pembunuhan ibu mertuanya, hanya karena sering dimarahi. Marah dalam hal ini versi anak tersebut. Anak dibuang, dibunuh, dan dibuang, merupakan bukti konkret lemahnya penghargaan atas hak hidup. Hak hidup padahal merupakan hak asazi yang sejak awal sudah seharusnya menjadi bagian hidup manusiawi.
Masyarakat yang permisif atas kesalahan komunal. Benar dan salah kalau itu kerabatku, tetanggaku, saudaraku itu pasti benar. Pemberitaan banyak menyajikan berita ini. Saat digusur melawan dengan berbagai cara sering tidak jarang dengan kekerasan. Jelas-jelas tindakan itu salah, dan mengganggu kepentingan umum. Pengeroyokan aparat negara dan merusak fasilitas negara karena dilakukan bersama-sama akhirnya tidak diselesaikan dengan semestinya.
Hal-hal tersebut, tidak terkecuali menimpa anak-anak. Penghormatan atas hidup anak, kepemilikan masa depan anak, dirampas karena mentalitas, moralitas, dan sikap permisif atas kesalahan orang-orang dewasa, yang seharusnya melindungi, mendidik, dan mengembangkan anak-anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar