Rabu, 23 April 2014

Sudah Adilkah Distribusi Kekayaan Negeri Ini?

Bangsa Indonesia paling anti dengan komunis dan kapitalis. Semua dianggap terlarang, haram, dan tidak boleh hidup di tengah bangsa ini. Negeri yang katanya menganut paham Pancasila di mana ada Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Komunis yang memiliki paham sama rata sama rasa sudah diharamkan hidup di negara ini sejak akhir tahun enampuluhan. Paham kapitalis memang secara langsung, terang-terangan, dan secara faktual dilarang. Ekonomi Pancasila dan kerakyatan yang sering digembar-gemborkan pesohor negeri ini.
Apakah ini sudah menggambarkan keadilan Pancasila itu? Saat ada seorang caleg, yang merupakan anggota DPR yang terhormat dari komisi hukum, seorang artis, pengacara, menyatakan bahwa dia hanya mengeluarkan lima ratus juta, sebagai beaya menjadi caleg. Bukan mempermasalahkan apakah digunakan sebagai money politic,  atau beaya hotel, pesawat, dan akomodasi lainnya. Ada lagi seorang pejabat tinggi negara membanting jam tangannya, yang diakui sebagai barang palsu. Barang palsu seorang pejabat yang berharga lima juta rupiah, hanya dibanting dan ditinggalkan begitu saja. Mengapa pejabat ini membanting jam seharga lima juta? Karena beliau tidak terima dikatakan menggunakan jam tangan seharga satu miliart rupiah. Perlu direnungkan adalah kalau benar tidak memakai arloji satu miliar rupiah mengapa harus membanting yang seharga lima juta?
Di saat yang sama, ada seorang ibu yang membuang bayinya yang kembar dan baru dilahirkan karena tidak punya uang atau alasan ekonomis mengapa ibu itu harus membunuh. Ada anak negeri yang untuk makan dan memberi makan anak-anaknya harus mengais sisa dari bungkus nasi yang dibuang karyawan pabrik.

Memang hak caleg dan pejabat tersebut menggunakan harta dan uangnya sendiri. Berpikir positif bahwa harta mereka tentu sah dan sudah dilaporkan ke KPK, namun alangkah bijaksana dan arif saat menampilkan kekayaannya tersebut tidak terkesan pamer dan menghambur-hamburkan di tengah keprihatinan bangsa ini, yang masih banyak yang berkekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar