Minggu, 20 April 2014

Salib,Budaya Kekerasan yang Dipaksa Berhenti oleh Yesus


Salib hukuman yang paling keji, kejam, mempermalukan, tiada batas, dan sangat menakutkan. Semua berbau kekerasan dan pertumpahan darah. Budaya kekerasan lebih dari  dua ribu tahun lalu yang hendak diputuskan dengan cinta kasih Tuhan, hari-hari ini masih demikian kuat bahkan makin beragam bentuk.
Saya tergelittik tulisan di helm yang dikenakan seorang pengendara, “SENGGOL  BACOK”... memang ini hanya guyon, joke,  dan tulisan iseng penghias penutup kepala semata. Melihat fenomena kekerasan yang hidup di dunia ini, perlu berhati-hati juga dengan adanya tulisan tersebut. Bisa saja memang menggambarkan orang tersebut, kalau dirinya, atau motornya, apalagi helm dan kepalanya yang tersenggol, pelakunya  akan di bacok. Tentu sangat menakutkan kalau hanya persoalan sepele menyenggol saja akan dibacok (dilukai dengan ditebas memakai senjata tajam).
Budaya kekerasan sedang menghiasi media massa, bagaimana gadis disiksa, disetrum, dismupal mulutnya, dibunuh, dan dibuang begitu saja, pelakunya sama-sama masing sangat belia. Pembunuhan pedagang bakso dan mayatnya dimasukkan ke dalam mesin pendingin, pembunuhan sepasang suami istri, pembunuhan beberapa orang dan semuanya dimasukkan ke dalam karung. Belum lagi komentar-komentar yang meliputi sekitar pembunuhan-pembunuhan tersebut. Dari sekian banyak peristiwa, yang menyatakan dan memberikan pengampunan baru satu. Lainnya adalah hujat dan tuntuan setimpal. Hukum mata ganti mata, nyawa ganti nyawa justru yang makin menggejala.
Yesus, saat perjamuan terakhir mengajarkan dengan  mencuci kaki murid-muridnya. Tindakan yang berkebalikan dari budayanya, melayani dan bukan minta dilayani. Saat di taman Getsemani, semua pasukan dipersenjatai dengan persenjataan lengkap DIA mempertanyakan itu untuk apa? Salah satu murid-Nya dapat mendesak pasukan penyergap dan memotong telinga prajurit itu, apa yang dilakukan-Nya? DIA kembalikan kuping itu. Jelas bahwa apa yang DIA bawa adalah kasih dan damai. Kasih dan damai secara konsekuen dan jelas, sama sekali tidak ada kekerasan dibalas dengan kekerasan. Puncaknya adalah ketika DIA memohonkan ampun karena para pelaku itu bagi-NYA tidak tahu apa yang sedang dilakukan.

Budaya kasih perlu ditumbuhkembangkan untuk mengatasi budaya kekerasan yang makin marak. Harapan itu sudah dimulia, mari kita wujudnyatakan......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar