Salib
hukuman yang paling keji, kejam, mempermalukan, tiada batas, dan sangat
menakutkan. Semua berbau kekerasan dan pertumpahan darah. Budaya kekerasan lebih
dari dua ribu tahun lalu yang hendak
diputuskan dengan cinta kasih Tuhan, hari-hari ini masih demikian kuat bahkan
makin beragam bentuk.
Saya
tergelittik tulisan di helm yang dikenakan seorang pengendara, “SENGGOL BACOK”... memang ini hanya guyon, joke, dan tulisan iseng penghias penutup kepala
semata. Melihat fenomena kekerasan yang hidup di dunia ini, perlu berhati-hati
juga dengan adanya tulisan tersebut. Bisa saja memang menggambarkan orang
tersebut, kalau dirinya, atau motornya, apalagi helm dan kepalanya yang
tersenggol, pelakunya akan di bacok. Tentu
sangat menakutkan kalau hanya persoalan sepele menyenggol saja akan dibacok
(dilukai dengan ditebas memakai senjata tajam).
Budaya
kekerasan sedang menghiasi media massa, bagaimana gadis disiksa, disetrum,
dismupal mulutnya, dibunuh, dan dibuang begitu saja, pelakunya sama-sama masing
sangat belia. Pembunuhan pedagang bakso dan mayatnya dimasukkan ke dalam mesin
pendingin, pembunuhan sepasang suami istri, pembunuhan beberapa orang dan
semuanya dimasukkan ke dalam karung. Belum lagi komentar-komentar yang meliputi
sekitar pembunuhan-pembunuhan tersebut. Dari sekian banyak peristiwa, yang
menyatakan dan memberikan pengampunan baru satu. Lainnya adalah hujat dan
tuntuan setimpal. Hukum mata ganti mata, nyawa ganti nyawa justru yang makin
menggejala.
Yesus,
saat perjamuan terakhir mengajarkan dengan mencuci kaki murid-muridnya. Tindakan yang
berkebalikan dari budayanya, melayani dan bukan minta dilayani. Saat di taman
Getsemani, semua pasukan dipersenjatai dengan persenjataan lengkap DIA
mempertanyakan itu untuk apa? Salah satu murid-Nya dapat mendesak pasukan
penyergap dan memotong telinga prajurit itu, apa yang dilakukan-Nya? DIA
kembalikan kuping itu. Jelas bahwa apa yang DIA bawa adalah kasih dan damai. Kasih
dan damai secara konsekuen dan jelas, sama sekali tidak ada kekerasan dibalas
dengan kekerasan. Puncaknya adalah ketika DIA memohonkan ampun karena para
pelaku itu bagi-NYA tidak tahu apa yang sedang dilakukan.
Budaya
kasih perlu ditumbuhkembangkan untuk mengatasi budaya kekerasan yang makin
marak. Harapan itu sudah dimulia, mari kita wujudnyatakan......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar