Penghianatan Yudas
merupakan peristiwa naluriah manusia. Yudas menganggap Yesus sebagai Mesias. Mesias
dalam misi Yesus yang disalah mengerti Yudas yang memiliki latar belakang
berbeda dari kehendak Bapa.
Allah mengutus
Yesus untuk menjadi Mesias dalam arti membebaskan manusia dari perbudakan dosa.
Dosa yang sudah diabdi manusia di seluruh dunia. Kekerasan, kebencian, sikap
saling curiga, dan aneka kejahatan menjadi darah daging manusia. Dunia sudah
dikuasai manusia yang membawa kepada kehancuran.
Yudas sebagai
pejuang bangsa Romawi memiliki pemikiran pembebasan bangsanya dari penjajahan
Romawi. Penjualan Yudas merupakan pemenuhan janji Salib untuk Yesus. Paket yang
tidak bisa dipisahkan dan digagalkan. Menarik adalah sesal Yudas, saat melihat
Yesus dengan setia memanggul salib. Sesal Yudas ditandai dengan mengembalikan
uang, dan puncaknya adalah bunuh diri.
Sesal yang sangat
mendalam disertai rasa malu, gagal, dan kecewa mendalam, karena semua impian
dan cita-citanya hancur berantakan, dipuncaki dengan bunuh diri. Banyak orang
tua, ketika kecewa, malu putrinya hamil akan menyarankan putrinya aborsi.
Malu, aib, nama
baik yang tercemar sebenarnya sementara. Tidak akan ada orang yang mengingatnya
dalam waktu lama. Perbaikan kualitas kehidupan dan kebaikan diperbanyak akan
membawa orang melupakan apa yang sudah pernah terjadi. Aborsi tindakan
permanen, pembunuhan terhadap bayi yang sama sekali tidak berdosa, trauma dari
ibu yang melakukan aborsi merupakan tindakan yang tidak dapat ditarik kembali,
diulangi, dan diperbaiki.
Kecewa, malu,
sedih, dan rasa buruk lainnya, sering membuat orang mengambil keputusan yang
salah, dan malah menambah sesal berkepanjangan, dan bahkan bisa saja menjadi maut
abadi.
Hati-hati, mengambil
keputusan ketika sedang sedih, malu, kecewa, ragu-ragu, dan tidak nyaman dalam
hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar