Senin, 07 April 2014

Mari Kita Renungkan....

Keadaan negeri ini sedang pada kondisi yang tidak menggembirakan. Beberapa waktu lalu harga beras dan cabe sungguh di luar kemampuan kebanyakan saudara-saudari kita. Persoalan politik yang tidak kunjung usai. Sebentar lagi anak sekolah dan orangtua pasti diliputi kecemasan dan ketidaktenangan saat menhadapi ujian akhir.  Ujian masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi juga tidak kalah membuat jantung berdebar. Uang sekolah yang semakin tidak terjangkau, sistem penerimaan yang tidak jelas. Ujian akhir dan ujian masuk sekolah penuh ketidakjujuran. Para pemuka agama yang mau menyuarakan kritik kenabian malah dikatakan sebagai pembohong. Kebenaran dapat dikalahkan oleh kuasa dan uang.

Persoalan negeri ini juga persoalan kita sebagai umat Katolik. Memasuki masa puasa kita dapat merenungkan keprihatinan ini bersama-sama. Dokumen Konsili Vatikan II tentang Gereja dalam duna modern Gaudium et Spes, KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam  peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya.
Pendahuluan dari dokumen ini menyajikan kepada kita segala persoalan Negara, masyarakat merupakan persoalan kita juga Gereja. Ketidakjujuran, kemiskinan, jual beli kasus, hokum dijungkirbalikan demi kelompok, saling tuduh, saling jegal merupakan persoalan kita bersama. Televisi, surat kabar setiap ahri dipenuhi dengan hal-hal tersebut. Belum lagi persoalan pornografi dan akibat yang mengikutinya. Perselingkuhan, gambar dan film porno, kawin cerai demikian marak. Beberapa solusi yang ditawarkan tidak menyelesaikan persoalan, dan bahkan tidak jarang malah membuat persoalan yang baru.

Persoalan demi persoalan selalu saja hadir dan timbul tenggelam setiap hari. Masalah yang satu belum selesai, atau bahkan tidak diselesaikan, malah ditutupi dengan perkara baru. Masyarakat pelupa menjangkiti kita termasuk juga kita selaku warga Gereja. Akar masalah kita, kalau mau jujur adalah pendidikan yang tidak memiliki visi, atau kalau ada sudah disandera oleh kepentingan elit, baik agama tertentu, atau politik tertentu. Konsili Vatikan II melalui Dekret tentang Pendidikan Kristen, terutama artikel 3, menyatakan orangtua karena sudah menyalurkan rahmat kehidupan baru kepada anak-anak, orangtua menjadi pendidik yang pertama dan utama. Ini berarti orangtua karena kodrat memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak. Konsekuensi yang tidak ringan bagi keluarga Katolik. Apalagi dengan perkembangan zaman yang ‘mengharuskan’ orangtua untuk lebih banyak di luar rumah. Pendidikan anak secara langsung ataupun tidak, mau ataupun tidak sedikit banyak pasti terganggu. Fenomena anak menjadi “anak pembantu” apalagi di kota besar semakin memprihatinkan. Banyak persoalan di sana. Pola makan, pola pengasuhan, pola pendidikan dapat dipastikan  tidak sebaik apa yang seharusnya diberikan kepada anak. Hubungan kekerabatan, bahkan antara anak dan orangtua, anak dengan anak semakin pudar. Nilai social melemah dan digantikan kepentingan, seperti teknologi. Perbincangan di waktu senggang makin berkurang. Pendidikan  oleh orangtua diserahkan kepada pihak lain, biasanya sekolah atau bimbingan belajar. Orangtua sudah melepaskan tanggung jawab yang demikian besar dalam pendidikan anak.
Keadaan di rumah ini diperparah dengan keadaan di luar. Masyarakat ataupun lembaga pendidikan sebagai pihak yang seharusnya ngompliti pendidikan anak, juga tidak kalah buruknya. Dapat disaksikan bagaimana ujian akhir sekolah yang dinamakan ujian akhir nasional, demikian mencemaskan anak-anak sekolah. Sekolah yang sejatinya menggembirakan malah menjadi tempat yang menakutkan, bukan pendidikan yang dicapai namun hasil akhri nilai UAN, cukup atau tidak. Banyak kecurangan dilakukan untuk mendapatkan nilai yang cukup. Nilai yang mana? Apakah keutamaan itu menyertai, seperti kejujuran, keadilan, keberanian? Jawabannya tidak.
Masyarakat tidak kalah menakutkannya. Anak-anak disuguhi pertikaian elit politik yang tidak jelas juntrungnya, tidak jelas apa dan mau dibawa ke mana itu semua. Pihak-pihak yang berkepentingan hanya mengedepankan kepentingan, keuntungan, dan sesuatu yang sepele, demi kelompoknya, demi kekuasaan.
Bagaimana kita selaku orang Katolik bersikap? Kata Mgr. Soegiyopranoto, kita harus menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia. Ini sejalan dengan amanat Gaudium et Spes. Apa yang dapat kita lakukan? Kita berbuat untuk dan mulai dari diriku masing-masing. Kalau kita masing-masing dapat jujur, dapat adil terhadap diri, lama-lama kita dapat menjadi Negara yang adil makmur seperti yang diharapkan para pendiri bangsa ini. Misalnya saja kita menerima hak kita sesuai dengan  kewajiban kita. Apa yang bukan hak kita, dengan tegas kita tolak. Beranikah kita?
Dalam masa puasa ini marilah kita mulai semua ini dari diri kita masing-masing, pribadi per pribadi.
Bersama berkat Tuhan kita dapat menjalankan itu semua. Dan selamat berpuasa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar