Keadaan negeri ini sedang pada kondisi yang tidak
menggembirakan. Beberapa waktu lalu harga beras dan cabe sungguh di luar
kemampuan kebanyakan saudara-saudari kita. Persoalan politik yang tidak kunjung
usai. Sebentar lagi anak sekolah dan orangtua pasti diliputi kecemasan dan
ketidaktenangan saat menhadapi ujian akhir.
Ujian masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi juga tidak kalah
membuat jantung berdebar. Uang sekolah yang semakin tidak terjangkau, sistem penerimaan yang
tidak jelas. Ujian akhir dan ujian masuk sekolah penuh ketidakjujuran. Para
pemuka agama yang mau menyuarakan kritik kenabian malah dikatakan sebagai
pembohong. Kebenaran dapat dikalahkan oleh kuasa dan uang.
Persoalan
negeri ini juga persoalan kita sebagai umat Katolik. Memasuki masa puasa kita
dapat merenungkan keprihatinan ini bersama-sama. Dokumen Konsili Vatikan II
tentang Gereja dalam duna modern Gaudium
et Spes, KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman
sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan
kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada
sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab
persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus,
dibimbing oleh Roh Kudus dalam
peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta
keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu
mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta
sejarahnya.
Pendahuluan
dari dokumen ini menyajikan kepada kita segala persoalan Negara, masyarakat
merupakan persoalan kita juga Gereja. Ketidakjujuran, kemiskinan, jual beli
kasus, hokum dijungkirbalikan demi kelompok, saling tuduh, saling jegal
merupakan persoalan kita bersama. Televisi, surat kabar setiap ahri dipenuhi
dengan hal-hal tersebut. Belum lagi persoalan pornografi dan akibat yang
mengikutinya. Perselingkuhan, gambar dan film porno, kawin cerai demikian
marak. Beberapa solusi yang ditawarkan tidak menyelesaikan persoalan, dan
bahkan tidak jarang malah membuat persoalan yang baru.
Persoalan
demi persoalan selalu saja hadir dan timbul tenggelam setiap hari. Masalah yang
satu belum selesai, atau bahkan tidak diselesaikan, malah ditutupi dengan
perkara baru. Masyarakat pelupa menjangkiti kita termasuk juga kita selaku
warga Gereja. Akar masalah kita, kalau mau jujur adalah pendidikan yang tidak
memiliki visi, atau kalau ada sudah disandera oleh kepentingan elit, baik agama
tertentu, atau politik tertentu. Konsili Vatikan II melalui Dekret tentang
Pendidikan Kristen, terutama artikel 3, menyatakan orangtua karena sudah
menyalurkan rahmat kehidupan baru kepada anak-anak, orangtua menjadi pendidik
yang pertama dan utama. Ini berarti orangtua karena kodrat memiliki tanggung jawab
besar untuk mendidik anak-anak. Konsekuensi yang tidak ringan bagi keluarga
Katolik. Apalagi dengan perkembangan zaman yang ‘mengharuskan’ orangtua untuk
lebih banyak di luar rumah. Pendidikan anak secara langsung ataupun tidak, mau
ataupun tidak sedikit banyak pasti terganggu. Fenomena anak menjadi “anak
pembantu” apalagi di kota besar semakin memprihatinkan. Banyak persoalan di
sana. Pola makan, pola pengasuhan, pola pendidikan dapat dipastikan tidak sebaik apa yang seharusnya diberikan
kepada anak. Hubungan kekerabatan, bahkan antara anak dan orangtua, anak dengan
anak semakin pudar. Nilai social melemah dan digantikan kepentingan, seperti
teknologi. Perbincangan di waktu senggang makin berkurang. Pendidikan oleh orangtua diserahkan kepada pihak lain,
biasanya sekolah atau bimbingan belajar. Orangtua sudah melepaskan tanggung
jawab yang demikian besar dalam pendidikan anak.
Keadaan
di rumah ini diperparah dengan keadaan di luar. Masyarakat ataupun lembaga
pendidikan sebagai pihak yang seharusnya ngompliti
pendidikan anak, juga tidak kalah buruknya. Dapat disaksikan bagaimana ujian
akhir sekolah yang dinamakan ujian akhir nasional,
demikian mencemaskan anak-anak sekolah. Sekolah yang sejatinya menggembirakan
malah menjadi tempat yang menakutkan, bukan pendidikan yang dicapai namun hasil
akhri nilai UAN, cukup atau tidak. Banyak kecurangan dilakukan untuk
mendapatkan nilai yang cukup. Nilai yang mana? Apakah keutamaan itu menyertai,
seperti kejujuran, keadilan, keberanian?
Jawabannya tidak.
Masyarakat
tidak kalah menakutkannya. Anak-anak disuguhi pertikaian elit politik yang
tidak jelas juntrungnya, tidak jelas apa dan mau dibawa ke mana itu semua.
Pihak-pihak yang berkepentingan hanya mengedepankan kepentingan, keuntungan,
dan sesuatu yang sepele, demi kelompoknya, demi kekuasaan.
Bagaimana
kita selaku orang Katolik bersikap? Kata Mgr. Soegiyopranoto, kita harus
menjadi 100% Katolik dan 100% Indonesia. Ini sejalan dengan amanat Gaudium et Spes. Apa yang dapat kita
lakukan? Kita berbuat untuk dan mulai dari diriku masing-masing. Kalau kita
masing-masing dapat jujur, dapat adil terhadap diri, lama-lama kita dapat
menjadi Negara yang adil makmur seperti yang diharapkan para pendiri bangsa
ini. Misalnya saja kita menerima hak kita sesuai dengan kewajiban kita. Apa yang bukan hak kita,
dengan tegas kita tolak. Beranikah kita?
Dalam
masa puasa ini marilah kita mulai semua ini dari diri kita masing-masing,
pribadi per pribadi.
Bersama
berkat Tuhan kita dapat menjalankan itu semua. Dan selamat berpuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar