Tuhan
bersabda, melalui Matius 19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga”. Hal ini
bukan berarti Tuhan menghendaki umat-Nya miskin dan menganggap harta sebagai
kejahatan. Bukan terletak di dalam hartanya, namun bagaimana orang menghayati
kepemilikannya itu di dalam hidupnya.
Pengalaman konkret, bagaimana tidak mudahnya menjalani
praktek kerja lapangan sebagai calon pewarta sabda di tengah kawasan kaya,
bukan elit, masih dalam tataran kaya. Tahun ke tahun yang di tempatkan di sana
jarang yang bisa lulus dengan mudah. Mau membuka pintu gerbang saja sudah
sulitnya minta ampun. Pintu gerbang rumah, belum pintu gerbang hatinya. Setiap membuat
janji untuk berkunjung ada saja alasannya. Hari-hari biasa, jelas di toko,
kebanyakan umat di wilayah itu berniaga di toko, malam pasti alasan capek, hari
Minggu, mengemukakan alasan hari keluarga. Kegiatan keagaamaan hanya para
penatua, para tua-tua yang mendengar saja sudah susah, yang masih sehat sulit
untuk diajak terlibat secara aktif.
Kekayaan dan harta juga wujud dari berkat Tuhan, Paulus
mengungkapkan, 1 Tim. 6:17 Peringatkanlah
kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan
berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah
yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Tawaran
keselamatan yang datang dikalahkan kesibukan mengumpulkan harta yang menjadi
alasan Tuhan, menyatakan sulit bagi orang kaya masuk kerajaan surga.
Apakah kekayaan
merupakan ciri orang terberkati? Beberapa pihak menganggap kekayaan materi dan
banyaknya harta sebagai bukti berkat Tuhan. Orang miskin berarti sebagai
kutukan karena tidak diberkati Tuhan. Paham yang tidak sepenuhnya tepat karena
apa? Tuhan berkali-kali menyelamatkan orang miskin. Orang miskin dijadikan
contoh dan keteladanan di dalam karya Tuhan di dunia yang singkat.
Yesus bukan
mengutuk kemiskinan atau kekayaan, namun sikap hati yang mengandalkan apa di
dalam hidupnya. Harta atau Tuhan. Orang miskin yang disibukkan dengan pencarian
harta, kalau tidak mendapatkannya mengeluh dan menghujat Tuhan tentu tidak akan
dipuji sebagai yang berbahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar