EMOH CEDAK KEBO GUPAK
Tidak Mau Dekat-Dekat Dengan
Kerbau Kotor
Bukan dan sama sekali ini tidak ada sangkut pautnya dengan politik,
apalagi istilah yang digunakan sangat
tidak disukai penguasa. Ungkapan bahasa Jawa yang sangat indah ini sekarang sangat
menggejala dalam kehidupan sehari-hari. Orang tidak berani berdekat-dekat
dengan orang yang sedang berpekara, ada masalah, apalagi kalau itu berkaitan
dengan nasib atau kehidupannya.
Saat menyaksikan kejadian yang kita mampu berbuat, apa yang kita
lakukan? Seharusnya adalah membantu kalau bisa, memberikan kesaksian sekiranya
pihak tersebut sedang membutuhkan kesaksian kita. Memberikan peneguhan apabila
kita menyaksikan kejadian dan individu lain tersebut sendirian. Itu semua
adalah idealnya.
Suatu hari, seorang kasir di sebuah toko, sendirian dan antrianya
panjang, dengan keramahannya dia layani satu persatu. Antrian tersebut makin
panjang, tiba-tiba satpam datang dan menyatakan bahwa kunci pengaman belum
dipotong, memang tidak ada nada menyalahkan dari petugas keamanan tersebut. Banyak
yang melihat kejadian tersebut, pasti. Pilihan pengantri beragam, ketika kasir
tersebut minta peneguhan. Ada seseorang yang bergumam dengan pasangannya,”Mesti
yang disalahkan kasirnya.” Ada yang pura-pura mencari-cari barang di dalam
tasnya, yang yakin bahwa tidak ada yang dicarinya. Orang lain lagi pura-pura
tidak tahu, ada juga yang tidak peduli dan toh bukan urusannya.
Kejadian tersebut menggambarkan kasir tersebut adalah kebo gupak, pihak yang sedang ada
masalah/kotor. Orang di sekitarnya banyak dan pilihan untuk bertindak bebas
menjadi milik individu-individu tersebut. Sangat bebas dan tidak dapat dihukum
atas pilihannya. Perlu menjadi permenungan adalah, bagaimana kalau aku yang
menjadi ‘korban’ atau mendapatkan berkat menjadi ‘kebo gupak’ itu? Apa yang
ingin aku peroleh sudah sewajarnya akan aku berikan juga pada “kebo-kebo” yang sedang menjadi “gupak”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar