Sabtu, 01 Februari 2014

Kebo Gupak

EMOH CEDAK KEBO GUPAK
Tidak Mau Dekat-Dekat Dengan Kerbau Kotor


Bukan dan sama sekali ini tidak ada sangkut pautnya dengan politik, apalagi istilah yang digunakan  sangat tidak disukai penguasa. Ungkapan bahasa Jawa yang sangat indah ini sekarang sangat menggejala dalam kehidupan sehari-hari. Orang tidak berani berdekat-dekat dengan orang yang sedang berpekara, ada masalah, apalagi kalau itu berkaitan dengan nasib atau kehidupannya.
Saat menyaksikan kejadian yang kita mampu berbuat, apa yang kita lakukan? Seharusnya adalah membantu kalau bisa, memberikan kesaksian sekiranya pihak tersebut sedang membutuhkan kesaksian kita. Memberikan peneguhan apabila kita menyaksikan kejadian dan individu lain tersebut sendirian. Itu semua adalah idealnya.
Suatu hari, seorang kasir di sebuah toko, sendirian dan antrianya panjang, dengan keramahannya dia layani satu persatu. Antrian tersebut makin panjang, tiba-tiba satpam datang dan menyatakan bahwa kunci pengaman belum dipotong, memang tidak ada nada menyalahkan dari petugas keamanan tersebut. Banyak yang melihat kejadian tersebut, pasti. Pilihan pengantri beragam, ketika kasir tersebut minta peneguhan. Ada seseorang yang bergumam dengan pasangannya,”Mesti yang disalahkan kasirnya.” Ada yang pura-pura mencari-cari barang di dalam tasnya, yang yakin bahwa tidak ada yang dicarinya. Orang lain lagi pura-pura tidak tahu, ada juga yang tidak peduli dan toh bukan urusannya.

Kejadian tersebut menggambarkan kasir tersebut adalah kebo gupak, pihak yang sedang ada masalah/kotor. Orang di sekitarnya banyak dan pilihan untuk bertindak bebas menjadi milik individu-individu tersebut. Sangat bebas dan tidak dapat dihukum atas pilihannya. Perlu menjadi permenungan adalah, bagaimana kalau aku yang menjadi ‘korban’ atau mendapatkan berkat menjadi ‘kebo gupak’ itu? Apa yang ingin aku peroleh sudah sewajarnya akan aku berikan juga pada “kebo-kebo” yang sedang menjadi “gupak”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar