Musa dan Pemilu 2014
Manusia pada dasarnya memiliki
pilihan dan karakter untuk menolak tanggung jawab. Minimal akan mengatakan biar
orang lain saja, atau mengapa aku bukan dia atau mereka. Sifat dasar manusia
yang ada sejak zaman dulu kala.
Musa ketika dipanggil Tuhan untuk
membawa bangsanya keluar dari Mesir menuju tanah terjanji juga menyatakan hal
yang sama. Musa menyatakan tidak mempunyai bekal karena tidak pandai berbicara,
kemudian ingin bahwa bukan dia tapi orang lain saja. Tanggung jawab memang berat
mengandung risiko untuk memberikan hasil. Itu semua yang hendak dihindari
manusia.
Fenomena itu bertolak belakang
dengan masa dekat ini. Hari-hari menjelang pemilu. Semua ornag menyatakan
pantas untuk dipilih, meras apaling mampu untuk menjadi pemimpin atau wakil
rakyat. Sudahkah itu terjadi untuk hasil pemilu yang lalu?
Kecenderungan manusia yang tidak
mau bertanggung jawab iya. Jelas dan banyak sekali diberitakan melalui berbagai
media. Bagaimana komentar pejabat kalau ada kesalahan dan diminta mundur,
jawabannya akan manis dan diplomatis bahwa itu menjadi kewenangan yang
mengangkat. Saat ada persoalan alin pasti akan menjawab dengan normatif bahwa
itu sudah sesuai denga prosedur, SOP,
ataupun hukum yang berlaku. Pemimpin yang menyalahkan bawahannya, mengatakan
bukan kewenangannya, melainkan kewenangan bawahan atau pihak lain selalu
menjadi cara ampuh untuk menyatakan diri benar.
Kecenderungan untuk merasa tidak
pantas itu jauh dari dunia negeri ini. Jelas-jelas gagal memimpin, atau setiap
pembicaraan tidak nyambung dengan konteks, selalu berdalih dan berlindung di
balik hukum, prosedur, apapun yang dilakukan tidak pernah membawa hasil yang
semestinya, namun berani menggaransi dirinya layak untuk dijadikan pemimpin.
Lihat saja baliho, banner, spanduk,
dan reklame yang bertebaran saat ini.
Pengalaman dua zaman yang jauh
berbeda memberikan pelajaran dan refleski yang dalam mengenai dunia
perpolitikan saati ini. Musa- Musa baru yang sudah mulai berevolusi dengan
zaman yang modern ini, mau tugas dan panggilannya, namun tidak mau tanggung
jawabnya. Masih lumayan Musa yang tidak mau bertanggung jawab itu sejak
awal.
Selamat berpesta demokrasi dan
mendapatkan pemimpin yang berani menyatakan ya dan bertanggung jawab dengan
penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar