Meniru, Budaya Positif, dan Alamiah...
Semua manusia secara kodrati akan
meniru. Pertama-tama pendidikan untuk manusia baru dengan cara memberikan
contoh oleh pihak yang dewasa, atau otoritas dewasa, dan dari pihak anak
dinamakan meniru. Sekarang siapa yang belum pernah melakukan peniruan atau meniru
seumur hidupnya? Tentu saja tidak ada. Tarzan saja oleh “induk”nya, mama
gorilla, diberi pelajaran, dan Tarzan menirukan setiap gerakan dan tingkah
“induk”nya tersebut.
Meniru itu kegiatan yang
menyenangkan, lihat anak kecil ketika dapat menirukan ucapan atau gerakan
pertama kalinya, betapa bahagianya orang tuanya. Pasti anak itu juga merasakan
kepuasan dan kebanggaan yang luar biasa. Berapa harga tiket untuk melihat
pertunjukkan peniruan hewan-hewan yang dapat dilatih untuk bertindak seperti
manusia, lumba-lumba untuk menari, gajah diajari bermain bola, berang-berang
naik sepeda, dan yang paling murah meriah topeng monyet pun membayar. Saat
ditanya siapa yang tidak terhibur dengan pertunjukkan yang merupakan
gerakan-gerakan meniru tersebut.
Tentunya semua orang akan
sependapat kalau kegiatan meniru yang
dilakukan binatang-binatang tersebut, menghibur, dan menyenangkan? Seluruh
orang tua yang dikarunia anak tentu akan merasakan perasaan yang sama, betapa
bahagia, bangga, senangnya saat melihat buah hatinya dapat menirukan ucapan
pa..pa...ma...ma...kemudian maem selanjutnya berkembang hingga usia senja.
Meniru barang-barang mahal,
seperti tas, sepatu, asesoris ternama atau produk elektronik yang ditiru dengan
kwalitas di bawahnya marak beredar mengikuti kemampuan ekonomi masing-masing
kelas. Istilah kerennya adalah KW-KW-an.
Bahkan tokoh-tokohpun ada KW-KW-nya,
Pak Jokowi dengan Sukowi, Pak JK dengan Jarwo Kwat, dan banyak lagi. Mas Tukul
terkenal dan menjadi sumber tertawaan dengan
sering menirukan gerak yang menirukan langkah monyet, monyet meniru manusia,
karena kakinya diciptakan untuk berjalan merunduk menjadi lucu dan hiburan
tersendiri
Namun manusia memang memiliki
harga diri yang tinggi. Saat meniru merasa gengsinya jatuh, malu, dan perasaan
tidak enak lainnya. Banyak pemimpin bangsa ini sukses dalam pembangunan dengan
gayanya yang khas dan sederhana sebenarnya, namun sama sekali tidak ada yang
mau meniru. Demikian juga kebijakan satu daerah atau dinas tertentu di daerah
lain baik mengapa tidak ditiru. Sebagai contoh konkret, angkutan darat wilayah
Jawa Timur relatif lebih baik, efisien, disiplin, dan murah. Pelayanannya
bersinggungan dengan Jawa Tengah, namun armada Jawa Tengah relatif masih kalah
baik dalam pelayanan yang masih lebih mahal, seenaknya sendiri, inefisien, dan
lambat. Jelas dan ada kaitan secara langsung saja tidak ada pembelajaran yang
dipetik atau rendah hati untuk belajar. Banyak sekali contoh nyata dalam
kehidupan sehari-hari ataupun bernegara.
Meniru sesuatu yang sangat alami
dan asasi, mengapa manusia harus gengsi kalau itu untuk kebaikan dan
perkembangan? Semua orang berkembang dan tumbuh besar karena meniru.Meniru, Budaya Positif, dan Alamiah...
Semua manusia secara kodrati akan
meniru. Pertama-tama pendidikan untuk manusia baru dengan cara memberikan
contoh oleh pihak yang dewasa, atau otoritas dewasa, dan dari pihak anak
dinamakan meniru. Sekarang siapa yang belum pernah melakukan peniruan atau meniru
seumur hidupnya? Tentu saja tidak ada. Tarzan saja oleh “induk”nya, mama
gorilla, diberi pelajaran, dan Tarzan menirukan setiap gerakan dan tingkah
“induk”nya tersebut.
Meniru itu kegiatan yang
menyenangkan, lihat anak kecil ketika dapat menirukan ucapan atau gerakan
pertama kalinya, betapa bahagianya orang tuanya. Pasti anak itu juga merasakan
kepuasan dan kebanggaan yang luar biasa. Berapa harga tiket untuk melihat
pertunjukkan peniruan hewan-hewan yang dapat dilatih untuk bertindak seperti
manusia, lumba-lumba untuk menari, gajah diajari bermain bola, berang-berang
naik sepeda, dan yang paling murah meriah topeng monyet pun membayar. Saat
ditanya siapa yang tidak terhibur dengan pertunjukkan yang merupakan
gerakan-gerakan meniru tersebut.
Tentunya semua orang akan
sependapat kalau kegiatan meniru yang
dilakukan binatang-binatang tersebut, menghibur, dan menyenangkan? Seluruh
orang tua yang dikarunia anak tentu akan merasakan perasaan yang sama, betapa
bahagia, bangga, senangnya saat melihat buah hatinya dapat menirukan ucapan
pa..pa...ma...ma...kemudian maem selanjutnya berkembang hingga usia senja.
Meniru barang-barang mahal,
seperti tas, sepatu, asesoris ternama atau produk elektronik yang ditiru dengan
kwalitas di bawahnya marak beredar mengikuti kemampuan ekonomi masing-masing
kelas. Istilah kerennya adalah KW-KW-an.
Bahkan tokoh-tokohpun ada KW-KW-nya,
Pak Jokowi dengan Sukowi, Pak JK dengan Jarwo Kwat, dan banyak lagi. Mas Tukul
terkenal dan menjadi sumber tertawaan dengan
sering menirukan gerak yang menirukan langkah monyet, monyet meniru manusia,
karena kakinya diciptakan untuk berjalan merunduk menjadi lucu dan hiburan
tersendiri
Namun manusia memang memiliki
harga diri yang tinggi. Saat meniru merasa gengsinya jatuh, malu, dan perasaan
tidak enak lainnya. Banyak pemimpin bangsa ini sukses dalam pembangunan dengan
gayanya yang khas dan sederhana sebenarnya, namun sama sekali tidak ada yang
mau meniru. Demikian juga kebijakan satu daerah atau dinas tertentu di daerah
lain baik mengapa tidak ditiru. Sebagai contoh konkret, angkutan darat wilayah
Jawa Timur relatif lebih baik, efisien, disiplin, dan murah. Pelayanannya
bersinggungan dengan Jawa Tengah, namun armada Jawa Tengah relatif masih kalah
baik dalam pelayanan yang masih lebih mahal, seenaknya sendiri, inefisien, dan
lambat. Jelas dan ada kaitan secara langsung saja tidak ada pembelajaran yang
dipetik atau rendah hati untuk belajar. Banyak sekali contoh nyata dalam
kehidupan sehari-hari ataupun bernegara.
Meniru sesuatu yang sangat alami
dan asasi, mengapa manusia harus gengsi kalau itu untuk kebaikan dan
perkembangan? Semua orang berkembang dan tumbuh besar karena meniru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar