Senin, 17 Februari 2014

Meniru......

Meniru, Budaya Positif, dan Alamiah...
Semua manusia secara kodrati akan meniru. Pertama-tama pendidikan untuk manusia baru dengan cara memberikan contoh oleh pihak yang dewasa, atau otoritas dewasa, dan dari pihak anak dinamakan meniru. Sekarang siapa yang belum pernah melakukan peniruan atau meniru seumur hidupnya? Tentu saja tidak ada. Tarzan saja oleh “induk”nya, mama gorilla, diberi pelajaran, dan Tarzan menirukan setiap gerakan dan tingkah “induk”nya tersebut.
Meniru itu kegiatan yang menyenangkan, lihat anak kecil ketika dapat menirukan ucapan atau gerakan pertama kalinya, betapa bahagianya orang tuanya. Pasti anak itu juga merasakan kepuasan dan kebanggaan yang luar biasa. Berapa harga tiket untuk melihat pertunjukkan peniruan hewan-hewan yang dapat dilatih untuk bertindak seperti manusia, lumba-lumba untuk menari, gajah diajari bermain bola, berang-berang naik sepeda, dan yang paling murah meriah topeng monyet pun membayar. Saat ditanya siapa yang tidak terhibur dengan pertunjukkan yang merupakan gerakan-gerakan meniru tersebut.
Tentunya semua orang akan sependapat kalau kegiatan  meniru yang dilakukan binatang-binatang tersebut, menghibur, dan menyenangkan? Seluruh orang tua yang dikarunia anak tentu akan merasakan perasaan yang sama, betapa bahagia, bangga, senangnya saat melihat buah hatinya dapat menirukan ucapan pa..pa...ma...ma...kemudian maem selanjutnya berkembang hingga usia senja.
Meniru barang-barang mahal, seperti tas, sepatu, asesoris ternama atau produk elektronik yang ditiru dengan kwalitas di bawahnya marak beredar mengikuti kemampuan ekonomi masing-masing kelas. Istilah kerennya adalah KW-KW-an. Bahkan tokoh-tokohpun ada KW-KW-nya, Pak Jokowi dengan Sukowi, Pak JK dengan Jarwo Kwat, dan banyak lagi. Mas Tukul terkenal dan menjadi sumber tertawaan  dengan sering menirukan gerak yang menirukan langkah monyet, monyet meniru manusia, karena kakinya diciptakan untuk berjalan merunduk menjadi lucu dan hiburan tersendiri
Namun manusia memang memiliki harga diri yang tinggi. Saat meniru merasa gengsinya jatuh, malu, dan perasaan tidak enak lainnya. Banyak pemimpin bangsa ini sukses dalam pembangunan dengan gayanya yang khas dan sederhana sebenarnya, namun sama sekali tidak ada yang mau meniru. Demikian juga kebijakan satu daerah atau dinas tertentu di daerah lain baik mengapa tidak ditiru. Sebagai contoh konkret, angkutan darat wilayah Jawa Timur relatif lebih baik, efisien, disiplin, dan murah. Pelayanannya bersinggungan dengan Jawa Tengah, namun armada Jawa Tengah relatif masih kalah baik dalam pelayanan yang masih lebih mahal, seenaknya sendiri, inefisien, dan lambat. Jelas dan ada kaitan secara langsung saja tidak ada pembelajaran yang dipetik atau rendah hati untuk belajar. Banyak sekali contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari ataupun bernegara.

Meniru sesuatu yang sangat alami dan asasi, mengapa manusia harus gengsi kalau itu untuk kebaikan dan perkembangan? Semua orang berkembang dan tumbuh besar karena meniru.Meniru, Budaya Positif, dan Alamiah...
Semua manusia secara kodrati akan meniru. Pertama-tama pendidikan untuk manusia baru dengan cara memberikan contoh oleh pihak yang dewasa, atau otoritas dewasa, dan dari pihak anak dinamakan meniru. Sekarang siapa yang belum pernah melakukan peniruan atau meniru seumur hidupnya? Tentu saja tidak ada. Tarzan saja oleh “induk”nya, mama gorilla, diberi pelajaran, dan Tarzan menirukan setiap gerakan dan tingkah “induk”nya tersebut.
Meniru itu kegiatan yang menyenangkan, lihat anak kecil ketika dapat menirukan ucapan atau gerakan pertama kalinya, betapa bahagianya orang tuanya. Pasti anak itu juga merasakan kepuasan dan kebanggaan yang luar biasa. Berapa harga tiket untuk melihat pertunjukkan peniruan hewan-hewan yang dapat dilatih untuk bertindak seperti manusia, lumba-lumba untuk menari, gajah diajari bermain bola, berang-berang naik sepeda, dan yang paling murah meriah topeng monyet pun membayar. Saat ditanya siapa yang tidak terhibur dengan pertunjukkan yang merupakan gerakan-gerakan meniru tersebut.
Tentunya semua orang akan sependapat kalau kegiatan  meniru yang dilakukan binatang-binatang tersebut, menghibur, dan menyenangkan? Seluruh orang tua yang dikarunia anak tentu akan merasakan perasaan yang sama, betapa bahagia, bangga, senangnya saat melihat buah hatinya dapat menirukan ucapan pa..pa...ma...ma...kemudian maem selanjutnya berkembang hingga usia senja.
Meniru barang-barang mahal, seperti tas, sepatu, asesoris ternama atau produk elektronik yang ditiru dengan kwalitas di bawahnya marak beredar mengikuti kemampuan ekonomi masing-masing kelas. Istilah kerennya adalah KW-KW-an. Bahkan tokoh-tokohpun ada KW-KW-nya, Pak Jokowi dengan Sukowi, Pak JK dengan Jarwo Kwat, dan banyak lagi. Mas Tukul terkenal dan menjadi sumber tertawaan  dengan sering menirukan gerak yang menirukan langkah monyet, monyet meniru manusia, karena kakinya diciptakan untuk berjalan merunduk menjadi lucu dan hiburan tersendiri
Namun manusia memang memiliki harga diri yang tinggi. Saat meniru merasa gengsinya jatuh, malu, dan perasaan tidak enak lainnya. Banyak pemimpin bangsa ini sukses dalam pembangunan dengan gayanya yang khas dan sederhana sebenarnya, namun sama sekali tidak ada yang mau meniru. Demikian juga kebijakan satu daerah atau dinas tertentu di daerah lain baik mengapa tidak ditiru. Sebagai contoh konkret, angkutan darat wilayah Jawa Timur relatif lebih baik, efisien, disiplin, dan murah. Pelayanannya bersinggungan dengan Jawa Tengah, namun armada Jawa Tengah relatif masih kalah baik dalam pelayanan yang masih lebih mahal, seenaknya sendiri, inefisien, dan lambat. Jelas dan ada kaitan secara langsung saja tidak ada pembelajaran yang dipetik atau rendah hati untuk belajar. Banyak sekali contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari ataupun bernegara.
Meniru sesuatu yang sangat alami dan asasi, mengapa manusia harus gengsi kalau itu untuk kebaikan dan perkembangan? Semua orang berkembang dan tumbuh besar karena meniru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar