Selasa, 25 Februari 2014

Bullying

Korban dan Pelaku Bully Di Sekolah
Suatu hari, teman bertanya bagaimana mengatasi bully. Membaca SMS tersebut saya terhenyak, karena yang bertanya ini seorang guru. Pertanyaan itu diajukan bukan untuk menyelesaikan persoalan di antara muridnya. Apa yang ditanyakan adalah untuk dirinya. Seorang guru yang merasa di-bully­. Pemikiran kembali mundur beberapa tahun kebelakang. Saat masih sama-sama kuliah. Rekan ini saat mahasiswa, memiliki fisik kurus, idealis dalam arti bahwa melaksanakan peraturan dengan ketat, tidak pernah meninggalkan jam kuliah sekalipun, kegiatan-kegiatan wajib juga selalu diikuti. Namanya mahasiswa, satu dua wajar kalau ada yang bolos dan main-main dengan peraturan. Dosen mempercayakan absen kepada rekan ini, pemilihan yang sangat-sangat rasional. Suatu hari, rekan lain yang populer bermasalah dengan pemegang absen. Satu absen dari rekan populer ini membuatnya tidak bisa ikut ujian dan konsekuensi panjang yang mengikuti. Apa yang terjadi? Rekan-rekan lain memihak kepada rekan yang populer dan mengintimidasi, dengan berbagai dalih dan alibi akhirnya si populer, lolos dari hukuman.
Sinetron yang memakai latar belakang cerita mengenai sekolah dan anak sekolah, hampir selalu menceritakan bully. Serombongan anak baik laki-laki ataupun gadis sedang mem-bully­ rekannya yang biasanya digambarkan cacat atau lemah, atau minder, pokoknya sangat tidak up to date. Banyak hal dilakukan mulai menyembunyikan tas, menjegal saat jalan. Kalau tokoh yang tidak terkenal ini melawan, akan dikeroyok dengan berbagai cara. Kembali pengalaman nyata, seorang rekan guru muda menjadi wali kelas. Kebetulan kelasnya memang kumpulan anak-anak berkebutuhan khusus. Suatu hari ada pertikaian antara grup yang satu dengan grup lainnya, pas dinasehati apa reaksi kelompok yang tidak terima? Persis adegan sinetron, di depan wali kelasnya membanting tas, dan main jambak pada “lawan”nya. Mata melotot, kacak pinggang, berjalan angkuh, mengeroyok, bahkan kelompok gadis ABG terhadap ABG laki-laki, anak ini penuh cakaran di sepanjang lengannya, hanya karena status di FB.
Bully, definisi dalam kosa kata bahasa Indonesia memang belum ada yang dengan tepat menerangkan artinya. Paling tidak, padan kata yang bisa digunakan dengan relatif mendekati dalam beberapa kata seperti penindasan, penintimidasian, pokoknya berkaitan dengan tindakan menguasai pihak lain.
Syarat suatu tindakan dikategorikan sebagai bully:
*      Ada ketimpangan kekuatan yang berkaitan: ada yang menindas biasanya memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak berimbang. Dari contoh di atas adalah ada ketidakseimbangan kekuatan dalam hal ini mengenai kepopuleran dan yang tidak populer. Berkelompok menghadapi pihak yang lebih kecil dengan mengeroyok. Ada dua pihak yang satu mampu menguasai pihak lain dengan berbagai cara.
*      Keinginan untuk menciderai: bullying tidak mengenal istilah kecelakaan, kekeliruan, tidak sengaja dalam menindas, mencelakai, ataupun mengucilkan. Kepedihan yang ditimbulkan baik emosional ataupun fisik, menimbulkan kepuasan dari pihak pelaku dan penderitaan pada korbannya
*      Ancaman agresi lebih lanjut: bullying  bukan sebatas tindakan sekali jaddi dan selesai, memiliki kecenderungan untuk diulang dan terus menerus.
*      Teror: dalam bullying  teror bukan sebagai sarana semata namun juga sebagai tujuan. Teror digunakan untuk mencengkeramkan dominasi pada pihak lain.
Perbincangan mengenai per-bully-an selama ini berkonsentrasi pada murid terhadap murid lain. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa antargurupun dapat terjadi bully.
Bukan hanya murid, guru pun bisa menjadi korban dan pelaku
Definisi lain menyatakan bahwa ada hasrat untuk menyakiti. Membuat pihak lain menderita. Memang dalam kalangan guru tidak akan sampai berantem atau tawuran sebagaimana para murid. Namun jangan salah, banyak contoh konkret dapat disebutkan, guru senior yang sudah terbiasa memegang kendali atas sekolah sekian lama dengan metodenya mengintimidasi guru muda yang baru datang. Idealisme guru muda yang fresh graduate bisa saja mengganggu kenyamanan para senior yang sekian lama telah mapan dengan zona mapannya. Banyak hal yang bisa dijadikan sarana untuk mem-bully guru muda, mulai terus-terusan dikritik kemampuan menguasai kelas, metode mengajarnya yang dikatakan tidak memuaskan murid dan orangtua murid dan banyak alasan yang digunakan untuk membuat tidak nyaman guru muda tetap bertahan. Ide-ide selalu saja digagalkan kalau tidak berasal dari kelompok mereka. Gangguan menggunakan banyak cara sehingga mengesankan guru muda tidak bisa mengajar.
Pelaku biasanya pernah jadi korban juga
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa bully bukan hanya semata terjadi dalam kalangan murid, namun gurupun dapat melakukan. Pelaku bullying biasanya juga pernah menjadi korban penindasan saat awal kehidupannya, baik saat usia sekolah awal ataupun lanjut. Bisa dibayangkan betapa menakutkannya kalau mahasiswa keguruan menjadi pelaku apalagi korban bullying. Korban relatif tidak menjadi persoalan kalau sudah menerima itu dan berusaha untuk memperbaiki dirinya sehingga tidak balas dendam kepada muridnya. Menjadi persoalan adalah para pelaku bullying ini, bagaimana jadinya guru merupakan pelaku bullying  saat menjadi guru dan ketika ada tindakan bullying dia akan dendam dan melampiaskan kepada para murid. Saat berkonflik dengan guru lain akan berkepanjangan pertikaiannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar