Korban dan
Pelaku Bully Di Sekolah
Suatu hari, teman bertanya bagaimana mengatasi bully. Membaca SMS tersebut
saya terhenyak, karena yang bertanya ini seorang guru. Pertanyaan itu diajukan
bukan untuk menyelesaikan persoalan di antara muridnya. Apa yang ditanyakan
adalah untuk dirinya. Seorang guru yang merasa di-bully. Pemikiran kembali mundur beberapa tahun kebelakang. Saat
masih sama-sama kuliah. Rekan ini saat mahasiswa, memiliki fisik kurus, idealis
dalam arti bahwa melaksanakan peraturan dengan ketat, tidak pernah meninggalkan
jam kuliah sekalipun, kegiatan-kegiatan wajib juga selalu diikuti. Namanya
mahasiswa, satu dua wajar kalau ada yang bolos dan main-main dengan peraturan.
Dosen mempercayakan absen kepada rekan ini, pemilihan yang sangat-sangat
rasional. Suatu hari, rekan lain yang populer bermasalah dengan pemegang absen.
Satu absen dari rekan populer ini membuatnya tidak bisa ikut ujian dan
konsekuensi panjang yang mengikuti. Apa yang terjadi? Rekan-rekan lain memihak
kepada rekan yang populer dan mengintimidasi, dengan berbagai dalih dan alibi
akhirnya si populer, lolos dari hukuman.
Sinetron yang memakai latar belakang cerita mengenai sekolah dan anak
sekolah, hampir selalu menceritakan bully.
Serombongan anak baik laki-laki ataupun gadis sedang mem-bully rekannya yang biasanya
digambarkan cacat atau lemah, atau minder, pokoknya sangat tidak up to date. Banyak hal dilakukan mulai
menyembunyikan tas, menjegal saat jalan. Kalau tokoh yang tidak terkenal ini
melawan, akan dikeroyok dengan berbagai cara. Kembali pengalaman nyata, seorang
rekan guru muda menjadi wali kelas. Kebetulan kelasnya memang kumpulan
anak-anak berkebutuhan khusus. Suatu hari ada pertikaian antara grup yang satu
dengan grup lainnya, pas dinasehati apa reaksi kelompok yang tidak terima?
Persis adegan sinetron, di depan wali kelasnya membanting tas, dan main jambak
pada “lawan”nya. Mata melotot, kacak pinggang, berjalan angkuh, mengeroyok,
bahkan kelompok gadis ABG terhadap ABG laki-laki, anak ini penuh cakaran di
sepanjang lengannya, hanya karena status di
FB.
Bully, definisi dalam kosa
kata bahasa Indonesia memang belum ada yang dengan tepat menerangkan artinya.
Paling tidak, padan kata yang bisa digunakan dengan relatif mendekati dalam beberapa
kata seperti penindasan, penintimidasian, pokoknya berkaitan dengan tindakan
menguasai pihak lain.
Syarat suatu tindakan dikategorikan sebagai bully:
Perbincangan mengenai per-bully-an selama ini berkonsentrasi pada
murid terhadap murid lain. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa antargurupun
dapat terjadi bully.
Bukan hanya murid,
guru pun bisa menjadi korban dan pelaku
Definisi lain menyatakan bahwa ada
hasrat untuk menyakiti. Membuat pihak lain menderita. Memang dalam kalangan
guru tidak akan sampai berantem atau tawuran sebagaimana para murid. Namun jangan
salah, banyak contoh konkret dapat disebutkan, guru senior yang sudah terbiasa
memegang kendali atas sekolah sekian lama dengan metodenya mengintimidasi guru
muda yang baru datang. Idealisme guru muda yang fresh graduate bisa saja mengganggu kenyamanan para senior yang
sekian lama telah mapan dengan zona mapannya. Banyak hal yang bisa dijadikan
sarana untuk mem-bully guru muda,
mulai terus-terusan dikritik kemampuan menguasai kelas, metode mengajarnya yang
dikatakan tidak memuaskan murid dan orangtua murid dan banyak alasan yang
digunakan untuk membuat tidak nyaman guru muda tetap bertahan. Ide-ide selalu
saja digagalkan kalau tidak berasal dari kelompok mereka. Gangguan menggunakan
banyak cara sehingga mengesankan guru muda tidak bisa mengajar.
Pelaku biasanya
pernah jadi korban juga
Ilustrasi di atas menunjukkan
bahwa bully bukan hanya semata terjadi
dalam kalangan murid, namun gurupun dapat melakukan. Pelaku bullying biasanya juga pernah menjadi
korban penindasan saat awal kehidupannya, baik saat usia sekolah awal ataupun
lanjut. Bisa dibayangkan betapa menakutkannya kalau mahasiswa keguruan menjadi
pelaku apalagi korban bullying. Korban
relatif tidak menjadi persoalan kalau sudah menerima itu dan berusaha untuk
memperbaiki dirinya sehingga tidak balas dendam kepada muridnya. Menjadi persoalan
adalah para pelaku bullying ini, bagaimana
jadinya guru merupakan pelaku bullying saat menjadi guru dan ketika ada tindakan bullying dia akan dendam dan
melampiaskan kepada para murid. Saat berkonflik dengan guru lain akan
berkepanjangan pertikaiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar