ENAM SIKAP PEMENANG[1]
Bangsa yang besar akan dihuni
oleh orang-orang besar. Besar dalam konteks ini bukan berkaitan dengan fisik
atau badan yang besar, atau jabatan dan
kekuasaan yang besar. Jiwa, kepribadian, dan spritualitas yang besar. Kebesaran
rohani dan spiritualitas sebenarnya tidaklah sulit untuk memperolehnya. Cara
yang pertama ialah Sikap Positif:
Sikap Positif
Positif berarti bahwa tidak ada
satupun persoalan yang tidak dapat diselesaikan. Saat menghadapi persoalan
biasanya orang akan merasa semua gelap, semua jalan tertutup baginya, tiada
harapan, semuanya pepat. Persoalan menguasai pikiran dan keseluruhan diri
manusiawi, sehingga panca indra dan pemikiran semua diwarnai oleh masalah.
Orang yang sedang menghadapi permasalahan seperti orang yang sedang memeluk
erat-erat pohon besar. Bantuan datang dan ada masukan untuk melepaskan pelukan
pada pohon itu, dapat dipastikan akan dijawab bahwa itu satu-satunya pegangan.
Tangannya menggegam erat masalahnya. Pandangannya terpusat pada batang pohon yang
berwarna gelap. Keseluruhan diri terfokus oleh pohon yang gelap, menjulang
tinggi, pegangan satu-satunya, dan tidak berani mengambil risiko, bahkan untuk
menoleh, atau melirik sedikit saja. Khawatir ketika melirik akan jatuh dan
terlepas dari gantungan satu-satunya tersebut.
Padahal, dengan sedikit melirik
ke samping saja akan terlihat hijaunya lembah, melirik ke atas hijau dan
rimbunnya daun pohon yang memberikan ketenangan dan kenyamanan. Keberanian
untuk melirik, itu perlu dibangun agar timbul keberanian untuk menoleh,
memandang, dan akhirnya melompat untuk meninggalkan pohon yang dipeluk
erat-erat tersebut. Langkah membangun sikap positif sebagai berikut;
1. Berfikir
dengan tenang
Emosi, apalagi
emosional melepaskan kendali pemikiran dan rasio. Kemarahan, umpatan merupakan mekanisme
untuk melepaskan ketegangan, namun tidak perlu menguasai dan mengontrol
jernihnya rasio yang akan memberikan solusi. Suatu hari saya mendampingi kamu
muda yang sedang melaksanakan kegiatan outdoor.
Gadis ini bertubuh subur, saat dia harus melalui titian , sekitar dua meter
lebih di atas sebuah parit yang sangat kotor, dia sudah mengajukan keberatan
dengan berbagai alasan. Setelah bujuk rayu dari rekan dan sedikit tekanan dari
saya, dengan berurai air mata mulai menaiki tangga tali. Ketakutan itu ternyata
tidak berkurang, pelan-pelan lancar juga, namun tiba-tiba rasa takut itu
menjadi monster dan menguasi anak muda ini. Dia berhenti di tengah-tengah.
Persis di tengah di antara awal dan akhir, di antara parit dan langit, di
antara pilihan yang dapat diputuskannya sendiri. Kembali bujuk rayu dan
dorongan dari kami tidak mampu meyakinkan gadis ini. Tidak mungkin untuk
dibantu dengan apapun caranya. Pada waktu kritis yang tidak diduga-duga anak
ini memutuskan untuk menjatuhkan diri. Masuk parit yang super kotor karena
gemuknya badan yang masuk air meluap ke mana-mana. Semua terdiam, kecuali tangis anak ini. Permainan saya hentikan dan
kami ajak untuk evaluasi dan refleksi. Semua diam, selain isak tangis anak ini,
saya berinisiatif untuk meminta rekan-rekannya memandikan siswi yang bau dan
kotor minta ampun itu. Solidaritas rekan-rekannya sungguh terbentuk, kebetulan
di dekat situ ada kran dan slang air. Rekan-rekan cewek memandikan dengan
selang, dan tawa menjadi pecah karena lucunya, ada yang berkomentar mandiin kebo.
Ketakutan anak
ini sama dengan menggengam pemikirannya, ketakutannya yang menguasai nalarnya.
Ketakuatan yang pelan-pelan di atasi tiba-tiba datang lebih besar dan mematikan
rasionya. Saat sedikit kesadaraannya datang dan tidak ada yang mampu
membantunya, dia putuskan untuk menjatuhkan diri. Bukan keputusan terbaik,
namun tepat dengan apa yang dialaminya.
Ketenangan dan
pemikiran yang jernih dibutuhkan dalam memutuskan sesuatu apalagi hanya sedikit
waktu yang ada. Pikiran yang kacau akan
membuat keputusan yang ada tidak tepat dan baik.
2. Berorientasi
bagaimana dan meninggalkan seandainyai
Jatuh itu
pengalaman tidak enak, meratap dan tetap ndheprok
(duduk di tanah), memang lebih nyaman. Bangkit dan melangkah lagi merupakan
pilihan, ndheprok pilihan pula.
Pilihan cerdas dan pribadi yang besar tentulah memilih bangkit dan melangkah.
Banyak orang
yang berorientasi ke belakang. Seandainya aku begini, tentulah akan lebih baik.
Masa lalu adalah sejarah, semua sudah tidak bisa diulang. Kalau hanya berfikir
masa lalu orang tidak akan bergerak, semua berhenti karena dipenuhi dengan rasa
sesal dan kecewa mengapa tidak mengambil pilihan yang lain. Pilihan orang yang
berorientasi seandainya, biasanya juga menyalahkan orang, pihak lain sebagai
penyebab persoalan. Ini bukan salahku, karena dialah, atau karena itulah, hal ini
menimpaku.
Pribadi
bijaksana memilih, apapun yang terjadi sudah terjadi, sekarang bagaimana aku
harus tetap meneruskan langkahku. Orientasi bagaimana bernuansa menatap dan
melangkah ke depan. Hidup ada di depan bukan di belakang.
3. Tanamkan
keyakinan bahwa aku pasti bisa
Kebanyakan orang
yang ragu memikirkan hal-hal yang sebaliknya dari yang diinginkan dengan
pemikiran-pemikiran, ah tidak mungkin ini terjadi, aku tidak mampu, aku pasti
akan mendapatkan yang buruk, sedangkan yang baik buat orang lain. Cara berfikir yang
keliru menguasai banyak kepercayaan orang pesimis.
Kepercayaan akan
membuat ide kreatif muncul. Yakini bahwa pasti bisa, ungkapkan itu dalam doa
dan usaha. Doa akan membuat kita makin percaya apapun dapat terjadi. Usaha dan
doa merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan. Berkat Allah melimpah
dalam hidup ini, lihat apa yang dilakukan Allah untuk Musa dan bangsa Israel
saat keluar dari Mesir. Laut Merah pun di belah dan bangsa Israel dapat keluar
dengan selamat dan melalui jalan kering. Ungkapkan, pikirkan, dan yakinilah
yang baik. Bangun sikap Berharap yang
terbaik, mendapatkan yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar