Rabu, 12 Februari 2014

Pribadi Pengampun

Pribadi Pengampun
Semua orang tentu pernah mengalami dan merasa tersinggung, sakit hati, luka batin, ataupun tersakiti. Perasaan tidak nyaman tersebut dapat terjadi secara sengaja ataupun tidak disengaja oleh pelakunya. Tentulah tidak enak menyimpan luka terus menerus. Agar terbebas dari perasaan tersebut bijaksanalah sekiranya mengampuni kejadian tersebut sehingga menjadi pribadi yang bebas dan sehat. Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:
1.       Menerima hal tersebut sebagai fakta yang terjadi
Perasaan terluka atau tersinggung biasanya tersimpan rapat. Pribadi tersebut tidak ingin mengingat ataupun merasakan kepedihan yang sama. Perasaan tersebut bahkan kadang ditolak dan tidak diakui memang terjadi dan tersakiti. Hal ini biasanya terjadi kalau yang menyakiti dan mnyinggung tersebut orang terdekat dan menyayangi, seperti orang tua dan kekasih. Perlu disadari bahwa luka terbesar biasanya terjadi dan terkena oleh orang terdekat. Apapun yang terjadi janganlah disimpan dan dilupakan atau dikubur dalam-dalam. Apa yang dikubur akan menjadi busuk, demikian juga dengan luka hati. Dengan menerima yang terjadi sebagai fakta yang terjadi akan membantu untuk menyelesaikan.
2.       Melaporkan kepada pihak yang berwenang
Budaya timur teristimewa Jawa sering menyimpan segala sesuatu di dalam hati, kalau sudah ada kejadian baru komentar dan mengatakan bahwa hal itu sudah terlihat tanda-tandanya sejak lama. Termasuk dalam hal ini pelanggaran. Tindakan pencegahan perlu dijadikan prioritas dibandingkan pemberantasan.
Pelanggaran perlu disampaikan kepada pihak yang berwenang, jika hal itu menyangkut hal kriminal harus dilaporkan kepada pihak kepolisian sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan hukum yang berlaku. Saat pelanggaran terjadi di dalam dunia pendidikan laporkan kepada pihak guru atau kepala sekolah, saat kejadian yang melukai ada di rumah pelaku perlu dilaporkan kepada orang tua.
3.       Ekspresikan perasaan yang ada
Menangis merupakan ekspresi paling purba dan awali. Sejak detik pertama kehidupan, semua manusia pasti menangis untuk melepaskan ketegangan dan membebaskan fisiknya yang dipaksa ‘mampa’ selama di dalam kandungan. Dengan menangis bayi menjadi bebas. Ekspresi paling murah dan mudah ialah menangis.
Banyak tradisi yang melarang laki-laki menangis. Menangis merupakan tindakan tabu bagi laki-laki. Dalam konteks demikian dapat melakukan ekspresi yang lain. Ekspresi paling lazim dan umum bagi laki-laki biasanya marah, memukul sesuatu bisa batang pohon pisang, bantal, dapat ditemukan yang paling cocok bagi masing-masing pribadi.
4.       Membicarakan perasaan kepada orang yang dipercaya
Membagi beban yang ada. Luka dan tersakiti menjadi beban bagi batin penderita. Beban yang ada perlu dibagi dengan orang yang dapat dipercaya, dengan demikian menjadi ringan dan melegakan.
5.       Menuliskan perasaan tersebut di dalam buku harian
Tuliskan perasaan yang ada di dalam buku harian atau jurnal yang lainnya. Setelah itu dapat diwujudkan di dalam karya seni, seperti melukis, memainkan piano, gitar, mengarang, dan yang lainnya.
6.       Mengatakan perasaan kepada yang menyakiti
Banyak anggapan dan kepercayaan bahwa orang lain  tahu apa yang kita rasakan. Padahal belum tentu demikian. Lebih banyak yang tidak tahu. Lebih baik katakan apa yang menjadi beban dan luka itu, sehingga pelaku menjadi sadar dan mengetahui telah menyinggung orang lain. Menyatakan perlu dipilih ungkapan yang positif, sebagai contoh,”aku benar-benar butuh sepedaku untuk menyelesaikan pekerjaanku, sekarang aku tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan semuanya, bisa-bisa pekerjaanku akan hilang. Berat banget ini bagiku.” Kalimat tersebut tidak akan menyingung dan bisa saja malah yang awalnya buruk menjadi pendukung dan ada jalan keluar yang ditawarkan. Bandingkan kalau marah-marah dan kasar,”Dasar bodoh, kamu ambil sepeda yang harusnya aku gunakan untuk bekerja hanya untuk main-main dan rusak begini.” Dapat dipastikan ini akan menimbulkan luka lain dan tidak ada jalan lebih baik.
7.       Meminta kompensasi
Mengajak pihak yang melukai untuk dapat meringankan beban dan solusi atas kejadian yang ada. Contoh di atas, misalnya bersama-sama memperbaiki atau mengganti kerusakan yang ada.
8.       Berdoa minta kekuatan
Ungkapkan dan nyatakan apa yang ada di dalam hati kepada Yangkuasa. Bawa semua di dalam doa. Berdoa bukan untuk menyingkirkan penghalang dan tidak pernah ada lagi persoalan, namun memohon kekuatan agar mampu menghadapi semua, serta memohinkan ampun dan memilikii kemampuan untuk mamaafkan agar tidak ada pemikiran untuk menuntut balas.
9.       Memaafkan untuk meringankan
Memaafkan memerlukan pengendalian diri dalam sikap, reaksi, dan perasaan. Marah merupakan pilihan, menuntut balas juga pilihan, menghujat dan memaki pun pilihan, pengampunan pilihan pula. Siapkan hati untuk menyatakan,”Aku memaafkanmu.” Kalau ketulusan yang ada di dalam diri pasti akan demikian lega dan tenang. Roh dan tubuh akan sehat dan nyaman. Masalah keadilan serahkan kepada Hakim Agung yang berhak untuk mengadili dan menghukum
10.   Mencari kesempatan untuk melayani yang menyakiti

Pribadi pemenang adalah pribadi yang bisa mendoakan dan melayani orang yang pernah menyakiti dan melukai. Sekiranya ini dapat terjadi yakinlah bahwa sudah menjadi pemenang atas kehidupan, membalas kejahatan dengan kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar