Pribadi Pengampun
Semua orang tentu pernah
mengalami dan merasa tersinggung, sakit hati, luka batin, ataupun tersakiti.
Perasaan tidak nyaman tersebut dapat terjadi secara sengaja ataupun tidak
disengaja oleh pelakunya. Tentulah tidak enak menyimpan luka terus menerus.
Agar terbebas dari perasaan tersebut bijaksanalah sekiranya mengampuni kejadian
tersebut sehingga menjadi pribadi yang bebas dan sehat. Beberapa hal yang dapat
dilakukan yaitu:
1. Menerima
hal tersebut sebagai fakta yang terjadi
Perasaan terluka
atau tersinggung biasanya tersimpan rapat. Pribadi tersebut tidak ingin
mengingat ataupun merasakan kepedihan yang sama. Perasaan tersebut bahkan
kadang ditolak dan tidak diakui memang terjadi dan tersakiti. Hal ini biasanya
terjadi kalau yang menyakiti dan mnyinggung tersebut orang terdekat dan
menyayangi, seperti orang tua dan kekasih. Perlu disadari bahwa luka terbesar
biasanya terjadi dan terkena oleh orang terdekat. Apapun yang terjadi janganlah
disimpan dan dilupakan atau dikubur dalam-dalam. Apa yang dikubur akan menjadi
busuk, demikian juga dengan luka hati. Dengan menerima yang terjadi sebagai
fakta yang terjadi akan membantu untuk menyelesaikan.
2. Melaporkan
kepada pihak yang berwenang
Budaya timur
teristimewa Jawa sering menyimpan segala sesuatu di dalam hati, kalau sudah ada
kejadian baru komentar dan mengatakan bahwa hal itu sudah terlihat
tanda-tandanya sejak lama. Termasuk dalam hal ini pelanggaran. Tindakan
pencegahan perlu dijadikan prioritas dibandingkan pemberantasan.
Pelanggaran
perlu disampaikan kepada pihak yang berwenang, jika hal itu menyangkut hal
kriminal harus dilaporkan kepada pihak kepolisian sehingga dapat diselesaikan
sesuai dengan hukum yang berlaku. Saat pelanggaran terjadi di dalam dunia
pendidikan laporkan kepada pihak guru atau kepala sekolah, saat kejadian yang
melukai ada di rumah pelaku perlu dilaporkan kepada orang tua.
3. Ekspresikan
perasaan yang ada
Menangis
merupakan ekspresi paling purba dan awali. Sejak detik pertama kehidupan, semua
manusia pasti menangis untuk melepaskan ketegangan dan membebaskan fisiknya
yang dipaksa ‘mampa’ selama di dalam kandungan. Dengan menangis bayi menjadi
bebas. Ekspresi paling murah dan mudah ialah menangis.
Banyak tradisi
yang melarang laki-laki menangis. Menangis merupakan tindakan tabu bagi
laki-laki. Dalam konteks demikian dapat melakukan ekspresi yang lain. Ekspresi
paling lazim dan umum bagi laki-laki biasanya marah, memukul sesuatu bisa
batang pohon pisang, bantal, dapat ditemukan yang paling cocok bagi
masing-masing pribadi.
4. Membicarakan
perasaan kepada orang yang dipercaya
Membagi beban
yang ada. Luka dan tersakiti menjadi beban bagi batin penderita. Beban yang ada
perlu dibagi dengan orang yang dapat dipercaya, dengan demikian menjadi ringan
dan melegakan.
5. Menuliskan
perasaan tersebut di dalam buku harian
Tuliskan
perasaan yang ada di dalam buku harian atau jurnal yang lainnya. Setelah itu
dapat diwujudkan di dalam karya seni, seperti melukis, memainkan piano, gitar,
mengarang, dan yang lainnya.
6. Mengatakan
perasaan kepada yang menyakiti
Banyak anggapan
dan kepercayaan bahwa orang lain tahu
apa yang kita rasakan. Padahal belum tentu demikian. Lebih banyak yang tidak
tahu. Lebih baik katakan apa yang menjadi beban dan luka itu, sehingga pelaku
menjadi sadar dan mengetahui telah menyinggung orang lain. Menyatakan perlu
dipilih ungkapan yang positif, sebagai contoh,”aku benar-benar butuh sepedaku
untuk menyelesaikan pekerjaanku, sekarang aku tidak tahu lagi bagaimana
menyelesaikan semuanya, bisa-bisa pekerjaanku akan hilang. Berat banget ini
bagiku.” Kalimat tersebut tidak akan menyingung dan bisa saja malah yang
awalnya buruk menjadi pendukung dan ada jalan keluar yang ditawarkan.
Bandingkan kalau marah-marah dan kasar,”Dasar bodoh, kamu ambil sepeda yang
harusnya aku gunakan untuk bekerja hanya untuk main-main dan rusak begini.”
Dapat dipastikan ini akan menimbulkan luka lain dan tidak ada jalan lebih baik.
7. Meminta
kompensasi
Mengajak pihak
yang melukai untuk dapat meringankan beban dan solusi atas kejadian yang ada.
Contoh di atas, misalnya bersama-sama memperbaiki atau mengganti kerusakan yang
ada.
8. Berdoa
minta kekuatan
Ungkapkan dan
nyatakan apa yang ada di dalam hati kepada Yangkuasa. Bawa semua di dalam doa.
Berdoa bukan untuk menyingkirkan penghalang dan tidak pernah ada lagi persoalan,
namun memohon kekuatan agar mampu menghadapi semua, serta memohinkan ampun dan
memilikii kemampuan untuk mamaafkan agar tidak ada pemikiran untuk menuntut
balas.
9. Memaafkan
untuk meringankan
Memaafkan
memerlukan pengendalian diri dalam sikap, reaksi, dan perasaan. Marah merupakan
pilihan, menuntut balas juga pilihan, menghujat dan memaki pun pilihan,
pengampunan pilihan pula. Siapkan hati untuk menyatakan,”Aku memaafkanmu.”
Kalau ketulusan yang ada di dalam diri pasti akan demikian lega dan tenang. Roh
dan tubuh akan sehat dan nyaman. Masalah keadilan serahkan kepada Hakim Agung
yang berhak untuk mengadili dan menghukum
10. Mencari
kesempatan untuk melayani yang menyakiti
Pribadi pemenang
adalah pribadi yang bisa mendoakan dan melayani orang yang pernah menyakiti dan
melukai. Sekiranya ini dapat terjadi yakinlah bahwa sudah menjadi pemenang atas
kehidupan, membalas kejahatan dengan kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar