KESUKSESAN...
Suatu hari, tengah malam,
ada seorang rekan menghubungi. Dia ini baru saja mengikuti kegiatan pembekalan
kegiatan kegerejaan.Saat pertemuan dia bertemu dengan rekan-rekan dulu saat
mahasiswa. Reuni kecil dalam suasana yang tidak terduga, saat ada komentar
seorang aktivis Gereja senior,”Mas, ini semua teman satu angkatan ya, dan semua
sukses tinggal, sampeyan yang belum sukses,” kata bapak tersebut dengan
lugunya. Memang rekan-rekan yang bertemu itu, ada yang sudah pegawai negeri
sipil, dan dosen di almamater. Semua sudah berkeluarga. Penampilan tentu lebih
terjaga dan kelihatan lebih “sukses.”
Dalam perjumpaan tersebut
jadi teringat salah satu rekan yang harusnya ikut juga, namun entah mengapa
tidak hadir. Bincang-bincang, sana kemari, akhirnya diketahui alasan teman ini
tidak datang karena memang hidup berkeluarganya kurang harmonis, maka tidak
dapat aktif di Gereja. Mungkin sungkan atau malu.
Rekan yang dikatakan
bapak belum sukses tadi, pulang langsung menghubungi teman-temannya untuk berupaya
bagaimana baiknya bagi teman yang sedang kurang beruntung dalam kehidupan
berkeluarga tersebut. Dia mengatakan rekan-rekannya yang dilabeli “sukses”
tersebut telah menyatakan tidak dapat berbuat apa-apa. Dan teman yang belum
sukses ini mengatakan,”Lha teman-teman, yang pinter saja malah mengatakan tidak
bisa berbuat apa-apa.”
Label sukses oleh bapak aktivis
senior, mungkin dalam penampilan dan label pekerjaannya, diamini rekan yang belum ‘sukses ‘tersebut, karena memang
saat kuliah mereka lebih pinter dalam hal Indeks Prestasi. Aplikasi akan ‘kesuksesan’
baik dalam pekerjaan atau pendidikan dahulu, ternyata belum teraplikasi dalam
kehidupan nyata.
Mana yang sukses? Apakah rekan yang pekerjaan masih belum
tetap, tetapi memikirkan nasib rekannya yang lebih buruk, walaupun saat studi
dulu secara indeks prestasi tidak tinggi? Ataukah rekan yang indeks prestasi
paling tinggi di tingkatnya, kemudian pekerjaan mentereng tersebut, namun
melihat dan mendengar rekannya masih dalam perjuangan hanya mengangkat tangan
dan mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar