Selasa, 25 Februari 2014

Kesuksesan....

KESUKSESAN...
Suatu hari, tengah malam, ada seorang rekan menghubungi. Dia ini baru saja mengikuti kegiatan pembekalan kegiatan kegerejaan.Saat pertemuan dia bertemu dengan rekan-rekan dulu saat mahasiswa. Reuni kecil dalam suasana yang tidak terduga, saat ada komentar seorang aktivis Gereja senior,”Mas, ini semua teman satu angkatan ya, dan semua sukses tinggal, sampeyan yang belum sukses,” kata bapak tersebut dengan lugunya. Memang rekan-rekan yang bertemu itu, ada yang sudah pegawai negeri sipil, dan dosen di almamater. Semua sudah berkeluarga. Penampilan tentu lebih terjaga dan kelihatan lebih “sukses.”
Dalam perjumpaan tersebut jadi teringat salah satu rekan yang harusnya ikut juga, namun entah mengapa tidak hadir. Bincang-bincang, sana kemari, akhirnya diketahui alasan teman ini tidak datang karena memang hidup berkeluarganya kurang harmonis, maka tidak dapat aktif di Gereja. Mungkin sungkan atau malu.
Rekan yang dikatakan bapak belum sukses tadi, pulang langsung menghubungi teman-temannya untuk berupaya bagaimana baiknya bagi teman yang sedang kurang beruntung dalam kehidupan berkeluarga tersebut. Dia mengatakan rekan-rekannya yang dilabeli “sukses” tersebut telah menyatakan tidak dapat berbuat apa-apa. Dan teman yang belum sukses ini mengatakan,”Lha teman-teman, yang pinter saja malah mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa.”
Label sukses oleh bapak aktivis senior, mungkin dalam penampilan dan label pekerjaannya, diamini rekan  yang belum ‘sukses ‘tersebut, karena memang saat kuliah mereka lebih pinter dalam hal Indeks Prestasi. Aplikasi akan ‘kesuksesan’ baik dalam pekerjaan atau pendidikan dahulu, ternyata belum teraplikasi dalam kehidupan nyata.  

Mana yang sukses? Apakah rekan yang pekerjaan masih belum tetap, tetapi memikirkan nasib rekannya yang lebih buruk, walaupun saat studi dulu secara indeks prestasi tidak tinggi? Ataukah rekan yang indeks prestasi paling tinggi di tingkatnya, kemudian pekerjaan mentereng tersebut, namun melihat dan mendengar rekannya masih dalam perjuangan hanya mengangkat tangan dan mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar