Rabu, 19 Februari 2014

Pejabat atau Penjajah

Pemimpin Bangsa Berdaulat atau Penjajah Di Negeri Sendiri??

Bagi orang Jakarta mungkin sama sekali tidak akan heran dengan iring-iringan pejabat baik menteri, presiden, ataupun pejabat lainnya. Saat ini banyak pejabat menggunakan pengawalan dan sirine bahkan masuk desa dan berjalan di tengah-tengah sawah sekalipun.Esensi pengawalan adalah demi keamanan yang dikawal, agar selamat tidak kurang suatu apapun. Protokoler memang penting dan tidak salah. Perlu diperhatikan adalah ini penguasa, sebenarnya istilah penguasa  tidak lah tepat untuk pemimpin bangsa ini, namun melihat gaya dan sepak terjangnya memang lebih pas sebagai penguasa bukan pemimpin. Penguasa adalah pejabat, dan rakyat yang dikuasai.
Lihat saja gaya berkendara di jalan raya, mulai raja kecil bupati/walikota ke atas kebanyakan demikian. Semua kendaraan diminta bahkan dipaksa minggir bahkan dipukul kalau berkeras untuk tidak minggir. Pemimpin harusnya memberi keteladanan paling tidak berlalu lintas dengan tidak melanggar peraturan lalu lintas, lha ini malah berjalan di sisi yang berlawanan. Semua harus memberi fasilitas dan kemudahan. Rombongan yang ada padahal tidak sedikit, namun bermobil-mobil dan setiap mobilnya paling diisi, dua atau tiga orang. Banyak yang dipertontonkan sebagai ironi. Kemacetan karena rombongan, berlalu lintas seenaknya bahkan jalur yang lain, berombongan dengan banyak mobil yang kosong, berapa saja BBM yang harus dikeluarkan berkaitan dengan bahan bakar yang makin langka dan penghormatan terhadap alam atas penggunaan minyak sebagai bahan bakar, dan polusi yang ditimbulkan.
Menjengkelkan lagi ialah satu mobil dengan sirine meraung-raung minta jalan. Dan jelas-jelas bukan mengawal, karena hanya sendirian. Banyak alasan atau pemikiran yang terlintas di benak orang yang menyaksikannya, jangan-jangan mau berangkat kerja dimarahi istrinya, dan takut terlambat sampai kantor menggunakan fasilitas sirine? Bisa juga pemikiran lain, karena semalam begadang atau mabuk, bangun kesiangan dan meraung-raung minta jalan untuk cepat sampai kantor.
Suatu hari di perlintasan kereta api dijaga oleh polisi dan ada truk polisi yang parkir di sana. Banyak  orang bertanya-tanya ada apa? Polisi dengan senjata laras panjang, dan banyak lagi yang sibuk mengatur lalu lintas juga tidak bisa memberitahukan keberadaan mereka. Setelah sekian lama, ada satu gerbong, hanya satu gerbong kereta api lewat. Gerbong putih melintas. Satu gerbong saja.
Ratu Belanda dahulu kalau datang ke Hindia, wajar kalau dengan pengawalan dan pengamanan yang super ketat, karena khawatir dan takut dilempar bambu runcing yang sudah diberi racun dari bangkai binatang. Bayangan kematian mengerikan yang akan diberikan oleh bangsa jajahannya. Atau Ratu Elisabet dari Inggris mengunjungi Malaya atau Australia, takut dilempar bumerang. Wajar karena di negeri jajahan dan di bawah kekuasaan mereka.

Kalau pejabat negeri berdaulat mengunjungi rakyatnya sendiri, bahkan cuma melintas mengapa harus begitu merepotkan. Melintas saja harus dikawal dan dibersihkan. Untung saja penguasa sini belum melarang rakyatnya menatap penguasanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar