Pemimpin Bangsa Berdaulat atau Penjajah Di Negeri Sendiri??
Bagi orang Jakarta mungkin sama
sekali tidak akan heran dengan iring-iringan pejabat baik menteri, presiden,
ataupun pejabat lainnya. Saat ini banyak pejabat menggunakan pengawalan dan
sirine bahkan masuk desa dan berjalan di tengah-tengah sawah sekalipun.Esensi
pengawalan adalah demi keamanan yang dikawal, agar selamat tidak kurang suatu
apapun. Protokoler memang penting dan tidak salah. Perlu diperhatikan adalah
ini penguasa, sebenarnya istilah penguasa
tidak lah tepat untuk pemimpin bangsa ini, namun melihat gaya dan sepak
terjangnya memang lebih pas sebagai penguasa bukan pemimpin. Penguasa adalah
pejabat, dan rakyat yang dikuasai.
Lihat saja gaya berkendara di
jalan raya, mulai raja kecil bupati/walikota ke atas kebanyakan demikian. Semua
kendaraan diminta bahkan dipaksa minggir bahkan dipukul kalau berkeras untuk
tidak minggir. Pemimpin harusnya memberi keteladanan paling tidak berlalu
lintas dengan tidak melanggar peraturan lalu lintas, lha ini malah berjalan di
sisi yang berlawanan. Semua harus memberi fasilitas dan kemudahan. Rombongan
yang ada padahal tidak sedikit, namun bermobil-mobil dan setiap mobilnya paling
diisi, dua atau tiga orang. Banyak yang dipertontonkan sebagai ironi. Kemacetan
karena rombongan, berlalu lintas seenaknya bahkan jalur yang lain, berombongan
dengan banyak mobil yang kosong, berapa saja BBM yang harus dikeluarkan
berkaitan dengan bahan bakar yang makin langka dan penghormatan terhadap alam
atas penggunaan minyak sebagai bahan bakar, dan polusi yang ditimbulkan.
Menjengkelkan lagi ialah satu
mobil dengan sirine meraung-raung minta jalan. Dan jelas-jelas bukan mengawal,
karena hanya sendirian. Banyak alasan atau pemikiran yang terlintas di benak
orang yang menyaksikannya, jangan-jangan mau berangkat kerja dimarahi istrinya,
dan takut terlambat sampai kantor menggunakan fasilitas sirine? Bisa juga
pemikiran lain, karena semalam begadang atau mabuk, bangun kesiangan dan
meraung-raung minta jalan untuk cepat sampai kantor.
Suatu hari di perlintasan kereta
api dijaga oleh polisi dan ada truk polisi yang parkir di sana. Banyak orang bertanya-tanya ada apa? Polisi dengan
senjata laras panjang, dan banyak lagi yang sibuk mengatur lalu lintas juga
tidak bisa memberitahukan keberadaan mereka. Setelah sekian lama, ada satu
gerbong, hanya satu gerbong kereta api lewat. Gerbong putih melintas. Satu
gerbong saja.
Ratu Belanda dahulu kalau datang
ke Hindia, wajar kalau dengan pengawalan dan pengamanan yang super ketat,
karena khawatir dan takut dilempar bambu runcing yang sudah diberi racun dari
bangkai binatang. Bayangan kematian mengerikan yang akan diberikan oleh bangsa
jajahannya. Atau Ratu Elisabet dari Inggris mengunjungi Malaya atau Australia,
takut dilempar bumerang. Wajar karena di negeri jajahan dan di bawah kekuasaan
mereka.
Kalau pejabat negeri berdaulat
mengunjungi rakyatnya sendiri, bahkan cuma melintas mengapa harus begitu
merepotkan. Melintas saja harus dikawal dan dibersihkan. Untung saja penguasa
sini belum melarang rakyatnya menatap penguasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar