Takut Terhadap Tuhan Kalah Takut Berhadapan dengan Hantu
Takut terhadap Tuhan
Berhadapan dengan Tuhan dalam hal
ini bukan berarti muka dengan muka atau berhadapan fisik seperti saya
berhadapan dengan pemimpin. Bahasa Jawa memiliki ungkapan yang paling pas yaitu
wedi asih. Terjemahan bebas dalam
Bahasa Indonesia lebih kurang, yaitu, takut bukan karena Tuhan itu menakutkan
namun karena kasih-Nya membuat kita segan, sungkan, dan merasa bersalah saat
berbuat yang bertentangan dengan apa yang Dia kehendaki.
Takut terhadap hantu
Hampir setiap orang sepakat,
bahwa banyak orang yang takut terhadap hantu. Penggambaran hantu yang seram,
menakutkan, badan yang tidak lengkap, tidak kasat mata, hanya orang tertentu
yang berani dan tidak merasa takut atau gentar berhadapan ataupun ketemu hantu.
Takut terhadap Tuhan dan Takut terhadap Hantu.
Sudah ada dua penjelasan mengenai kata takut yang sama sekali berbeda.
Dari keterangan tersebut sejatinya adalah ‘takut’ terhadap Tuhan sudah
semestinya menjadi bagian hidup manusia berhadapan dengan Yang Agung, Yang
Transenden, Sang Pencipta. Berkaitan dengan hantu seyogyanya tidak menjadi
momok yang menakutkan, karena manusia sebagai ciptaan sempurna dan mulia. Itu
idealnya. Faktualnya adalah kebalikannya. Lihat fenomena sekarang yang terjadi
di sekeliling kita. Bagaimana media massa baik cetak ataupun elektronik
berlomba-lomba mengetengahkan manusia yang tidak takut Tuhan. Kejahatan demi
kejahatan dipaparkan dengan vulgar, terus terang, bahkan kadang live dan berseri, sehari diulang-ulang, bahkan bisa
puluhan kali. Pemberitaan baru terhenti ketika ada kejadian yang identik,
peristiwa tidak takut Tuhan yang lain mengemuka.
Bisa dihitung durasi penayangan
pembinaan iman melalui mimbar agama di TV
ataupun kegiatan keagamaan per pekannya, sama sekali tidak sebanding dengan
penayangan hantu-hantuan yang bejibun ditawarkan kepada pemirsa. Ratingnya pun
pasti tinggi acara hantu-hantuan dibandingkan acara Ketuhanan. Ini bukan
berdasar survei yang ilmiah dan valid, namun dapat diniai dari durasi tayang
dan banyaknya iklan, serta tayangan per pekannya.
Kawasan wisata banyak yang
melengkapi wahana permainannya dengan rumah hantu, rumah sakit hantu dan
sebagainya. Wahana itu menarik banyak pengunjung. Menakutkan namun mau membayar
mahal, padahal hanya mainan. Bandingkan kunjungan ke rumah ibadat, gratis tis,
bebas saja malah setengah hati.
Langsung ataupun tidak langsung,
pewartaan hantu lebih gencar dari pada pewartaan mengenai Tuhan. Padahal tidak satupun fakultas ataupun jurusan
yang memberi pembelajaran mengenai hantu, banyak fakultas keagamaan bahkan
universitas keagamaan, namun kalah kemilau dan gemerlap di media. Hantu berjaya
dibanding Tuhan di negeri beragama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar