Rabu, 21 Mei 2014

ABG dalam Jerat Free Sex


Kota Ambarawa, merupakan kota kecamatan, bagian dari Kabupaten Semarang, di Jawa Tengah. Sebenarnya belum layak disebut kota, Ambarawa merupakan kecamatan, yang geliat ekonominya memang lebih besar dari kecamatan di sekitarnya. Hari-hari ini menjadi hangat, saat adanya beberapa siswi ABG, siswi SMP, yang hendak memperbaiki keperawanannya. Berarti siswi-siswi ini sudah tidak perawan. Kota sekecil itu sudah terjangkiti fenomena kota besar metropolitan.
Berita yang senada dilaporkan Kompas.com, adanya bapak kandung berusia 73 tahun melecehkan, menodai anak kandungnya yang berusia 8 tahun. Rentetan peristiwa yang beberapa pekan ini menjadi bahan pembicaraan hangat di negara ini, menyaingi pemberitaan demokrasi yang tidak jauh berbeda buruknya.
Mengapa begitu buruk keberadaan seksualitas di bangsa Indonesia ini? Salah satu komentar di Kompas.com menyatakan munafiknya bangsa ini, sehingga pemerkosaan, paedophilia, dan kejahatan lainnya merajalela. Pendidikan seksualitas belum dipandang penting, bahkan seorang menteri beberapa tahun lalu menyatakan pendidikan seksualitas tidak perlu diberikan karena dengan sendirinya akan tahu (beliau mengandaikan pendidikan seksualitas dengan hubungan seksual yang berciri naluriah). Seorang profesor berkomentar seperti itu, apalagi guru-guru di daerah, yang sederhana dan minim informasi (walaupun sekarang beliau sudah bertobat dan akan “memaksakan pendidikan seksualitas masuk dalam kurikulum). Rekan-rekan guru saya banyak yang bingung mengajarkan mengenai seksualitas. Perkembangan manusia awali adalah seksualitasnya namun tidak pernah dipelajari dan diajarkan dengan semestinya. Pemahaman mengenai seks, seksual, dan seksualitas masih kacau. Terminologi yang akan sangat membantu untuk mengerti dengan baik sekiranya sudah dipahami berpedaan dan pemakaiannya secara tepat. Orang tua, guru, sering membentak anak atau siswa ketika ada pertanyaan mengenai seksualitas. Mengapa terjadi? Karena orang tua dan guru tersebut tidak mampu menjawab sebagaimana adanya. Seksualitas dianggap saru, tabu, jorok, dan mesum.
Mengapa banyak yang tersesat dan terjerat?
·         Tingginya kelahiran tidak diinginkan
Angka kelahiran tidak diinginkan cukup tinggi, menyumbang persoalan yang tidak mudah. Alam bawah sadar anak yang dihasilkan perbuatan terlarang merekam apa yang dia terima sejak di dalam kandungan. Pertikaian orang tua calon bayi dengan orang tua mereka berkaitan dengan kehamilan dan pernikahan sudah disimpan anak.
o   Pendidikan seksualitas awali buruk
Pendidikan seksualitas sudah dimulai dari janin di dalam kandungan. Dengan memberikan perhatian, bukannya pertikaian dan mencari jalan untuk menyembunyikan. Setelah lahir cinta yang diperoleh dengan tulus membantu anak menjadi pribadi yang utuh. Bisa dipahami anak yang lahir bukan karena perencanaan akan lebih banyak menerima bentakan. Ibu yang sudah siap memiliki anak saat mengganti popok akan dengan riang dan sukarela, berbeda dengan ibu yang terpaksa karena hamil terlebih dahulu, apalagi kalau ibu itu masih ABG.
o   Perasaan tertolak menjadikan dia arogan/menindas untuk mendapatkan eksistensi
Semua manusia pada hakikatnya tentu ingin dihargai, dicintai,dan diakui.bayi dan anak yang lahir tidak diinginkan merekam dan merasakan ketertolakan itu di alam bawah sadarnya. Saat remaja dan dewasa, kehausan dan kelaparan eksistensi diri tersebut dicari pemenuhannya. Pendampingan dan bimbingan yang tidak semestinya menjadikan anak lari pada hal-hal buruk. Biasanya lari ke arah seksualitasnya.
·         Ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa etika
Kemajuan teknologi tidak bisa ditolak. Manusia banyak terbantu dengan adanya digitalisasi. Kambing hitam untuk teknologi tidak tepat alias salah sasaran. Apa yang perlu terjadi dan harus dilakukan?
o   HP, Smarphone, Tablet dan teman-temannya
Anak-anak bahkan belm bisa berjalan sekarang ini sudah dipegangi HP  oleh orang tuanya. Anak menjadi diam dan tenang. Orang tua terbantu, karena kesibukan lainnya tidak terganggu rengekan anak. Di mana-mana sekarang ini semua orang terlalu sibuk dengan tangannya dengan dunia mayanya, baik sms, bbm, fb, twitter, atau media sosial lainnya. Manusia justru terasing dengan manusia lain yang ada di sampingnya. Kekosongan hati karena interaksi sosial virtual dianggap sesuai perkembangan zaman. Jembatan yang mengatasi kendala baik dan harus, bukan berarti meninggalkan yang dekat demi yang jauh.
o   Internet tanpa moral
Internet menjadi kambing hitam salah satu menteri. Maka dia getol sekali memblog, menutup situs-situs pornografi. Ironisnya dia suka sekali dengan media sosial, ini kan standart ganda bagi remaja contoh itu membingungkan mana yang mau diikuti. Pornografi bagi pengidap diabet terutama laki-laki diperlukan bahkan sangat membantu. Bukan situs dan pornografinya yang perlu diberi perhatian. Justru pembangunan dan pengembangan moralnya yang diberi porsi pembenahan oleh semua pihak.
o   Pendidikan moral diabaikan
Pendidikan moral seperti agama, Pendidikan Moral Pancasila dinafikan. Mengejar kemampuan kognisi sebanyak-banyaknya. Pendidikan seperti agama dan moral lainnya diabaikan dan disingkirkan demi nilau ujian nasional. Peran guru-guru ini disalahkan saat kejadian seperti ini mengemuka. Pernah tidak dilibatkan dalam mengelola sekolah selama ini?
·         Keteladanan
Remaja dan ABG memerlukan figur untuk dijadikan teladan dan pola bagi kehidupan ke depan. Apa yang disajikan selama ini sudah bisa memenuhi keinginan dan kerinduan mereka?
o   Baik
Keteladanan yang baik, membangun, memiliki karakter kuat, jujur, bisa dipercaya, mengayomi makin jarang dan tidak mendapat publikasi yang lebih. Malah banyak orang yang layak menjadi teladan dan dicontoh di-bully­ karena mengganggu kepentingan dan keadaan sekitar yang sudah nyaman dengan keburukan.
o   Buruk
Contoh buruk diekspos berlebih-lebihan bahkan menjadi tokoh idola dan benar-benar digandrungi.
§  Pelaku video porno, menjadi idola kaum muda. Bukan menjelek-jelekan karyanya bermusik, karya musiknya layak mendapat apresiasi tinggi. Namun kehidupan pribadinya yang tidak semestinya itu tidak layak bagi kaum muda. Karena para muda belum bisa memisahkan antara tindakan yang satu dengan yang lainnya.
§  Mantan bupati yang dipecat karena kehidupan seksualnya menikah dengan anak-anak dan bercerai, saat ini menjadi anggota dewan dengan suara yang luar biasa. Berbahaya nantinya dia mengusulkan pembuatan perundang-undangan yang bisa membersihkan namanya dan itu merusak tatanan kesusilaan.
§  Beberapa artis yang kawin cerai dan bangga sebagai gaya hidup. Cerai bukan kesalahan untuk hukum di Indonesia, namun perlu difilter dalam memberitakan sehingga tidak menjadikan anak muda melihat itu sebagai gaya hidup yang normal dan lumrah
Apa yang bisa dilakukan?
Setiap malam ada pagi. Ada gelap ada terang. Secercah sinar bisa dilakukan untuk mengatasi hal itu. Pengharapan perlu dibangun dan dipupuk untuk mengatasi. Kutuk, cela, hujat tidak perlu, usaha dan tindak nyata dikedepankan.
·         Sinergi peran
o   Orang tua dan keluarga
Orang tua dan keluarga merupakan pendidik yang utama dan pertama. Oleh karena itu memegang peran sentral dan penting. Pihak-pihak tertentu menuntut sekolah dan guru bertanggung jawab mengenai kemerosotan moral anak bangsa. Tuntutan yang tidak relevan, karena waktu anak di sekolah sekitar 30%, dan dipenuhi dengan kurikulum yang ketat. Hal ini terjadi karena masyarakat hendak melarikan diri dari tanggung jawabnya dan menjadikan guru dan sekolah menjadi kambing hitam.
o   Guru dan tenaga kependidikan serta sekolah
Guru dan sekolah merupakan pihak yang melengkapi pendidikan di rumah. Guru oleh negara diberi hak untuk mengajar dna mendidik anak secara ilmiah dan akademis formal sebagai dimensi komplementer pendidikan orang tua. Guru bukan mengambil alih tanggung jawab dan peran orang tua dalam pendidikan. Melengkapi apa yang tidak bisa dilakukan orang tua dna keluarga.
o   Masyarakat  lembaga keagamaan dan negara
Masyarakat keagamaan memberikan bimbingan spiritual melalui berbagai media dan cara masing-masing. Tantangan terbesar saat ini ialah makin tidak menariknya lembaga keagamaan bagi remaja dan kaum muda. Kreatifitas dan inovasi dibutuhkan untuk “menyenangkan kaum muda.” Masih banyak kog para muda yang mau terlibat secara spiritual, libatkan mereka sehingga dapat menjadi nara sumber yang valid di dalam menyusun rencana dan acara yang kontekstual.
Negara, memiliki kekuatan dalam perundang-undangan. Perundangan yang dijalankan secara obyektif dan tegas membuat anak bangsa memiliki payung yang akan melindungi eksistensi dan keberadaannya. Peblokiran bukan tindak bijaksana, karena menghabiskan energi dan beaya yang tidak efektif dna efisien. Membangun karakter sehingga anak melihat seksualitas secara dewasa, bertanggung jawab, dan apa adanya.

Peran masing-masing fihak bukan mengambil alih dna melemparkan tanggung jawab namun melakukan sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Saling melengkapi dan mengisi kekosongan yang tidak bisa ataupun tidak mampu dilakukan pihak lain. Kerjasama yang akan memberikan pengharapan dan pencerahan bagi keberlangsungan negara dan bangsa yang sejahtera.

·         Pembicaraan secara holistik/menyeluruh, dan kontekstual
Seksualitas merupakan bagian yang hakiki dalam diri manusia. Apa yang dilakukan selama ini masih sepenggal-sepenggal. Medis biologis menyoroti seksualitas asal aman secara medis dan tidak membawa penyakit menular dianggap mencukupi dan baik. Di sini dokter dan para medis memegang peran. Pihak pemimpin keagamaan dan spiritual memberikan pendampingan secara moral, mana yang baik dan boleh, mana yang buruk dan tidak boleh. Penanaman nilai moral menjadi penting agar anak bisa melihat larangan dan anjuran secara obyektif karena ada dasar yang benar-benar bernilai.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar