Saat
menyaksikan film Spiderman, ada nasihat pendek dan sederhana untuk Spiderman
kecil yang hendak ditinggalkan bapaknya. “Be
good”.... dan penterjemah mengartikan kalimat itu menjadi “Jangan nakal.” Makna
di balik keduanya memang tidak jauh berbeda, keduanya menghendaki anak ini
menjadi baik.
Kebiasaan
dan pilihan-pilihan kata bagi anak-anak di sini memang selalu memilih yang
memiliki nuansa negatif. Tentu semua masih ingat ketika jatuh akan dibilang, terutama
anak Jawa “kataknya melompat” ini masih netral karena hendak menetralisir
keadaan, pilihan fatal kalau ada yang mengajari menyalahkan pihak lain, dan
dibalaskan, misalnya, “O, lantainya atau sandalnya nakal ya, ini sudah Ibu
balaskan,” misalnya dengan menepuk atau memukul lantai atau sandal tersebut. Tindakan
sia-sai namun dalam akibatnya, karena anak merekam bahwa dia tidak pernah salah
dan pihak lain yang salah. Menginternalisasikan balas dendam sebagai sesuatu
yang merupakan kebiasaan yang baik, bahkan wajib dilakukan agar tenang dan
nyaman.
Pemberitaan-pemberitaan
negatif televisi dan media massa demikian gencar. Kegagalan-kegagalan dalam
berprestasi anak negeri menjadi sorotan dan diulang-ulang, sedangkan kalau
berprestasi terkesan numpang lewat, dan tidak perlu menjadi perhatian yang
lebih lagi. Kegagalan dan aura negatif terlalu besar dan terkesan
dibesar-besarkan bagi pola pikir bangsa ini.
Positif
dan kebaikan terlalu jauh seperti di awang-awang. Kejahatan dan kegagalan
bertubi-tubi diulang-ulang, seperti hendak menanamkan hal tersebut sebagai
karakter bangsa ini. Marilah kita ubah paradigma itu mulai dari diri kita
masing-masing, dan janganlah biarkan hati kita terbuka pada hal yang negatif. Tutuplah
hati pada yang negatif dan bukalah seluas-luasnya pada pemenuhan positif dan
kebaikan baik dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatan.
Kalau
tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak kita, siapa lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar