Jumat, 02 Mei 2014

Berpikir positif suatu budaya dan kebiasaan....

Saat menyaksikan film Spiderman, ada nasihat pendek dan sederhana untuk Spiderman kecil yang hendak ditinggalkan bapaknya. “Be good”.... dan penterjemah mengartikan kalimat itu menjadi “Jangan nakal.” Makna di balik keduanya memang tidak jauh berbeda, keduanya menghendaki anak ini menjadi baik.
Kebiasaan dan pilihan-pilihan kata bagi anak-anak di sini memang selalu memilih yang memiliki nuansa negatif. Tentu semua masih ingat ketika jatuh akan dibilang, terutama anak Jawa “kataknya melompat” ini masih netral karena hendak menetralisir keadaan, pilihan fatal kalau ada yang mengajari menyalahkan pihak lain, dan dibalaskan, misalnya, “O, lantainya atau sandalnya nakal ya, ini sudah Ibu balaskan,” misalnya dengan menepuk atau memukul lantai atau sandal tersebut. Tindakan sia-sai namun dalam akibatnya, karena anak merekam bahwa dia tidak pernah salah dan pihak lain yang salah. Menginternalisasikan balas dendam sebagai sesuatu yang merupakan kebiasaan yang baik, bahkan wajib dilakukan agar tenang dan nyaman.
Pemberitaan-pemberitaan negatif televisi dan media massa demikian gencar. Kegagalan-kegagalan dalam berprestasi anak negeri menjadi sorotan dan diulang-ulang, sedangkan kalau berprestasi terkesan numpang lewat, dan tidak perlu menjadi perhatian yang lebih lagi. Kegagalan dan aura negatif terlalu besar dan terkesan dibesar-besarkan bagi pola pikir bangsa ini.
Positif dan kebaikan terlalu jauh seperti di awang-awang. Kejahatan dan kegagalan bertubi-tubi diulang-ulang, seperti hendak menanamkan hal tersebut sebagai karakter bangsa ini. Marilah kita ubah paradigma itu mulai dari diri kita masing-masing, dan janganlah biarkan hati kita terbuka pada hal yang negatif. Tutuplah hati pada yang negatif dan bukalah seluas-luasnya pada pemenuhan positif dan kebaikan baik dalam pemikiran, perasaan, dan perbuatan.

Kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak kita, siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar