Selasa, 13 Mei 2014

Perkembangan Seksualitas Anak Secara Fisik

Perkembangan Fisik
Individu sejak dalam kandungan sudah dapat diketahui  jenis kelaminnya. Jenis kelamin bayi terlihat pada karakter seksualnya, yaitu terhadap pembentukan gorda dan organ kelamin darimasing-masing jenis kelamin.
Karakter seksualitas atau faktor seksualitas yang mempengaruhi individu yaitu, faktor kromosom, gonad, hormon, organ seks internal, organ seks eksternal, pemilihan seks, dan identitas seksual.
Faktor kromosom yang menentukan individu ialah apabila dalam inti sel terdapat kromosom XX berarti anak yang akan lahir perempuan. Bayi akan lahir laki-laki apabila dalam inti sel terdapat kromosom XY. Gonad atau kelenjar kelamin mentukan jenis kelamin pribadi anak. Gonad pada anak laki-laki adalah testis dan pada anak perepuan mempunyai ovarium. Bagi manusia hormon yang dihasilkan oleh kelenjar kelamin sangat menentukan pertumbuhan badannya sejak sebelum lahir sampai  akhir hidupnya terutama masa puber. Hormon estrogen hasil sekresi ovarium dan hormon testosteron hasil  dari testis. Organ seksual internal menentukan jenis kelamin. Organ kelamin internal laki-laki dan perempuan juga berbeda. Laki-laki mempunyai saluran mani, kandung mani, dan kelenjar prostat, sedangkan perempuan  mempunyai organ-organ seks internal indung telur, saluran telur, uterus, dan vagina. Selain organ seksual internal manusia juga memiliki organ seksual eksternal. Pada perempuan organ eksternalnya adalah klitoris, bibir kemaluan kecil, dan bibir kemaluan besar. Pada pria organ kelamin eksternalnya ialah penis dan skrotum. Maksud dari pemeliharaan seks pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah pendidikan  sebagai laki-laki dan perempuan yang sehat dan normal. Faktor terakhir adalah faktor identitas seksualnya, dimana pribadi tersebut menerima identitas seksualnya apa adanya sehingga dapat berperan sebagai laki-laki dan perempuan.
Karakter seksual secara biologis ditentukan oleh kelenjar-kelenjar hipofise atau pituitrin dan gonada. Gonada berperan karena menjadi tempat produksi hormon kelamin, sedang pituitrin mempengaruhi gonada sehingga hormon seksual diproduksi.
 Letak kelenjar pituitrin ada  di dasar otak. Kelenjar pituitrin biasa juga disebut sebagi kelenjar pituatari merupakan organisator bagi kelenjar lain, termasuk gonada. Pengaruh kelenjar ini pada gonada adalah melalui hormon gonadotropein yang diproduksi pada bagian depan kelenjar hipofise atau pituitrin. Hormon terpenting yang mempengaruhi jenis kelamin adalah FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone). Pada laki-laki dan perempuan tidak ada spesifikasi khusus dari hormon gonade tropein, selain alamat ke mana hormon itu berpengaruh.
Gonadotropein mempengaruhi testis pada laki-laki dan ovarium pada perempuan. Pada laki-laki hormon laki-laki disebut androgen (aner = laki-laki, Lat.) dan hormon terpenting adalah testosteron. Pada perempuanhormonnya disebut gynecogen (gyne = perempuan) dengan hormon terpenting estrogen. Sebenarnya pada kedua jenis kelamin terdapat semua hormon tersebut. Hanya pada laki-laki hormon testosteron yang dominan dan pada perempuan hormon estrogen yang dominan.
Pembentukan karakter seksual dimulai pada minggu pertama konsepsi. Embrio yang masih merupakan organisme yang sangat kecil dan belum terbentuk telah memiliki gonade, yang disebut gonade primitif. Pada minggu ketujuh embrio telah menunjukkan perbedaan testis dan ovarium. Pembentukan testis dan ovarium ditentukan oleh produksi hormon seksual yang diprodulsi embrio tersebut. Jika embrio memproduksi testosteron dan ada kromosom Y, gonad primitif tadi akan membentuk testis. Dan apabila embrio tersebut memproduksi estrogen, maka gen-gen yang ada dalam  gonad akan membentuk ovarium. Kurang lebih usia dua belas minggu atau tiga bulan, diperkirakan otak, tangan, dan kaki fetus sudah terbentuk. Bersamaan dengan itu testis dan ovarium berkembang makin sempurna
Anatomi kelamin perempuan merupakan dasar atau yang pertama. Anatomi kelamin laki-laki merupakan diferensiasi bentuk kelamin perempuan. Bonggol genital embrional berubah menjadi penis akibat pengaruh hormon testosteron dan lekukan di bawahnya terhambat. Perlahan-lahan dasar bagian dalam dari lekuk makin menyempit dan akhirnya bersambung. Kulit  halus pada kedua sisi bonggol genital embrional mulai bersambung untuk membentuk skrotum. Testis secara perlahan-lahan turun dari abdomen, sehingga samapai kira-kira fetus berumur tujuh sampai sembilan bulan, testis telah berada dalam skrotum.
Saluran dalam juga mengalami perubahan. Saluran dalam biasa disebut Saluran Muller dan Wolf. Saluran Muller mengalami degenerasi sehingga yang tersisa adalah Wolf yang selajutnya berkembang dan berfungsi menjadi saluran internal tunggal sebagai uretra dan saluran sperma.
Perkembangan organ kelamin perempuan tidak banyak mengalami tambahan spesifik. Kurangnya pengarus testosteron, bonggol tidak berkembang menjadi penis seperti pada  laki-laki, sedang pada perempuan bonggol berubah menjadi klitoris. Lekuk atau alur yang berada di bawah bonggol tetap terbuka, makin menjadi dalam dan membentuk celah kemaluan. Selaput pada ujung celah kemaluan bagian depan perlahan berubah menjadi bibir kemaluan kecil. Selaput pada bonggol tidak bersambung dan berkembang menjadi bibir kemaluan besar. Saluran Muller pada perempuan dipertahankan dan berkembang menjadi vagina, uterus, dan saluran telur. Saluran Wolf pada perempuan berkembang menjadi saluran kemih.
Perkembangan anatomis organ-organ kelamin kedua jenis kelamin berlangsung terus seiring perkembangan embrio menjadi fetus. Pada saat bayi lahir kira-kira berumur delapan tahun hipofise menghasilkan FSH dan LH  diproduksi dalam jumlah yang sangat banyak sehingga merangsang testis dan ovarium untuk menghasilkan androgen dan estrogen dalam jumlah yang sangat besar pula. Produksi androgen yang banyak membuat testis mampu memproduksi sperma dan ovarium menghasilkan sel telur. Akibat lain dari hormon estrogen dan androgen adalah pertumbuhan dan perkembangan ciri-ciri kelamin lainnya.
Hormon androgen pada laik-laki memberi pengaruh pada berat badan, testis, skrotum, dan  larynks yang membesar. Bulu-bulu di sekitar kemaluan, ketiak, kumis, janggut mulai tumbuh. Produsi sperma mulai meningkat sehingga memungkinkan mimpi basah. Pengaruh lebih jauh hormon ini pada otak dan psike laki-laki, sehingga laki-laki merasa tertarik terhadap perempuan, bangkitnya nafsu kelamin dan ereksi pelir.
Perempuan dipengaruhi oleh hormon estrogen pada perubahan bentuk badan. hormon ini membuat buah dada, panggul, uterus, vagina, bibir kemaluan besar, bibir kemaluan kecil, dan klitoris makin membesar. Tumbuhnya bulu-bulu di sekitar kemaluan, ketiak, serta menghambat pertumbuhan kumis dan janggut. Pengaruh lebih jauh hormon ini pada otak dan psike perempuan. Perempuan merasa tertarik pada laki-laki.
Manusia selain mempunyai jenis kelamin dengan organ-organ pendukungnya juga memiliki kualitas psikologis dan sosial sebagai ciri maskulinitas dan feminitas yang terbentuk berdasar ketentuan kultural atau budaya dan sosial. Ada kualitas tertentu yang dikembangkan pada jenis kelamin yang satu dan tidak dikembangkan pada jenis kelamin yang lain. Sebagai contoh banyak budaya melarang anak laki-laki menangis, sementara pada perempuan tidak ada larangan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar