Sabtu, 24 Mei 2014

Tuhannya Uang

Korupsi dana haji itu kecil sekali. Tuhannya adalah uang.
Kementerian agama, seperti sudah kiamat dengan adanya status tersangka pemimpinnya dalam dana haji. Itu hanya sebuah bagian yang amat sangat kecil, kalau boleh bisa dikatakan micro. Mengapa ketika berkaitan dengan uang, materi, dan dana kegagalan itu menjadi jelas dan nyata. Coba dibayangkan saja litani dan daftar kegagalan kementerian ini.
1.      Intraagama
·         Syiah
Bisa ditanyakan kepada saudara-saudara penganut Syiah dan Ahmadiyah, apakah dapat menganut ajaran agamanya dengan bebas. Menteri Agama bukan Menteri Agama Islam semata, kalau alasan sebagai agama mayoritas benar tidak ada yang salah, namun perlu juga mengurus yag minoritas dan perlu bimbingan, bukan membiarkan seperti selama ini. Kalau haji yang banyak ungnya mengapa begitu cepat dan reaksi yang  diberikan langsung. Ahmadiyah, Syiah sampai korban manusia saja tidak ada tindakan konkret selain wacana dan bahasa pers, semua diam, padahal membara di akar rumput.
·         Fundamentalis yang mengatasnamakan agama memaksakan kehendak
Kelompok-kelompok fundamentalis yang menciderai kehidupan Agama Islam sendiri yang baik, namun didiamkan karena takut dengan sepak terjang mereka. Ketika negara alpa dan takut dengan sekelompok orang, apalagi masyarakatnya yang tidak memiliki senjata dan kuasa? Kelompok-kelompok ini lebih berkuasa dibandingkan Polri, TNI, ataupun kementerian agama. Mereka memiliki hukum di negara hukum ini. Apa yang mereka yakin sebagai kebenaran. Mereka pelu pembinaan dan pendampingan untuk meluruskan banyak keyakinan yang tidak kalah pentingyan dibanding Ahmadiyah dan Syiah. Mengapa tidak ada tindak nyata?
·         Berebut sertifikasi halal
Persoalan halal hara saja berebut. Mengapa karena uang? Bukan kemaslahatan orang  banyak, ujungnya uang.
·         Polemik hari raya dan awal puasa
Polemik yag satu ini bisa diseret ke arah politis. Berbahaya karena hidup dan keyakinan iman dicampuri urusan duniawi. Kementerian agama diam saja, karena masuk dalam kekeuasaan dan menikmati kekuasaan, lalai persoalan yang lebih mendalam mengenai iman dan kepercayaaan. Perbedaan tidak masalah, asal tidak dimanfaatkan secara politis. Sayang ibadah dan iman dipolitisasi demi urusan duniawi yang sangat tidak penting.
2.      Antaragama
·         Gereja Yasmin
Gereja Yasmin hanya satu tonggak dan tugu peringatan di sisi lain kehidupan intoleran. Bagaimana intimidasi pada kelompok minoritas, guru yang beragama lain diintimidasi dan disindir-sindir dengan kata-kata yang aneh, di lingkungan sekolah lagi, apalagi murid? Sekolah, semua yang beraroma negeri tidak aman bagi pemeluk agama lain. Ini jelas-jelas tugas kementerian agama, bukan kementerian haji lho, kemenag itu.
·         Kampanye atas nama agama
Kampanye hitam selalu menggunakan sentimen keagamaan, sejak Ibu Megawati yang dikatakan Hindu, Bapak Jokowi dikatakan Katolik, emang salah Hindu atau Katolik memimpin negeri ini. Lagi dan lagi kegagalan kementerian agama. Siapapun anak negeri yang mampu mengapa tidak memimpin negara Bhineka Tunggal Ika ini, atau sudah ganti menjadi negara agama?
·         Kebebasan beragama hanya semu
Kebebasan agama hanya wacana dan pencitraan keluar negeri... halini tidak udah dijabarkan semua pasti tahu. Di mana kementrian agama, dan lagi Anda bukan menteri haji. Haji sudah ada dirjennya kog.

Korupsi mengenai kegiatan berhaji ini hanya sedikit, bandingkan dengan kegagalan yang begitu besar di atas. Kehidupan manusia jelas jauh lebih berharga dan mahal dibandingan nol sembilan tersebut. Mengapa kesalahan yang begitu besar tersebut tidak dinilai dan dievaluasi. Karena tuhannya adalah uang negara ini.  Tuhan menciptakan perbedaan bukan persamaan untuk saling melengkapi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar