Korupsi dana haji
itu kecil sekali. Tuhannya adalah uang.
Kementerian
agama, seperti sudah kiamat dengan adanya status tersangka pemimpinnya dalam
dana haji. Itu hanya sebuah bagian yang amat sangat kecil, kalau boleh bisa
dikatakan micro. Mengapa ketika berkaitan dengan uang, materi, dan dana
kegagalan itu menjadi jelas dan nyata. Coba dibayangkan saja litani dan daftar
kegagalan kementerian ini.
1.
Intraagama
·
Syiah
Bisa ditanyakan
kepada saudara-saudara penganut Syiah dan Ahmadiyah, apakah dapat menganut
ajaran agamanya dengan bebas. Menteri Agama bukan Menteri Agama Islam semata,
kalau alasan sebagai agama mayoritas benar tidak ada yang salah, namun perlu
juga mengurus yag minoritas dan perlu bimbingan, bukan membiarkan seperti
selama ini. Kalau haji yang banyak ungnya mengapa begitu cepat dan reaksi
yang diberikan langsung. Ahmadiyah,
Syiah sampai korban manusia saja tidak ada tindakan konkret selain wacana dan
bahasa pers, semua diam, padahal membara di akar rumput.
·
Fundamentalis
yang mengatasnamakan agama memaksakan kehendak
Kelompok-kelompok
fundamentalis yang menciderai kehidupan Agama Islam sendiri yang baik, namun
didiamkan karena takut dengan sepak terjang mereka. Ketika negara alpa dan
takut dengan sekelompok orang, apalagi masyarakatnya yang tidak memiliki
senjata dan kuasa? Kelompok-kelompok ini lebih berkuasa dibandingkan Polri,
TNI, ataupun kementerian agama. Mereka memiliki hukum di negara hukum ini. Apa yang
mereka yakin sebagai kebenaran. Mereka pelu pembinaan dan pendampingan untuk
meluruskan banyak keyakinan yang tidak kalah pentingyan dibanding Ahmadiyah dan
Syiah. Mengapa tidak ada tindak nyata?
·
Berebut sertifikasi
halal
Persoalan halal
hara saja berebut. Mengapa karena uang? Bukan kemaslahatan orang banyak, ujungnya uang.
·
Polemik hari
raya dan awal puasa
Polemik yag satu
ini bisa diseret ke arah politis. Berbahaya karena hidup dan keyakinan iman
dicampuri urusan duniawi. Kementerian agama diam saja, karena masuk dalam
kekeuasaan dan menikmati kekuasaan, lalai persoalan yang lebih mendalam
mengenai iman dan kepercayaaan. Perbedaan tidak masalah, asal tidak
dimanfaatkan secara politis. Sayang ibadah dan iman dipolitisasi demi urusan
duniawi yang sangat tidak penting.
2.
Antaragama
·
Gereja Yasmin
Gereja Yasmin
hanya satu tonggak dan tugu peringatan di sisi lain kehidupan intoleran. Bagaimana
intimidasi pada kelompok minoritas, guru yang beragama lain diintimidasi dan
disindir-sindir dengan kata-kata yang aneh, di lingkungan sekolah lagi, apalagi
murid? Sekolah, semua yang beraroma negeri tidak aman bagi pemeluk agama lain. Ini
jelas-jelas tugas kementerian agama, bukan kementerian haji lho, kemenag itu.
·
Kampanye
atas nama agama
Kampanye hitam
selalu menggunakan sentimen keagamaan, sejak Ibu Megawati yang dikatakan Hindu,
Bapak Jokowi dikatakan Katolik, emang salah Hindu atau Katolik memimpin negeri
ini. Lagi dan lagi kegagalan kementerian agama. Siapapun anak negeri yang mampu
mengapa tidak memimpin negara Bhineka Tunggal Ika ini, atau sudah ganti menjadi
negara agama?
·
Kebebasan beragama
hanya semu
Kebebasan agama
hanya wacana dan pencitraan keluar negeri... halini tidak udah dijabarkan semua
pasti tahu. Di mana kementrian agama, dan lagi Anda bukan menteri haji. Haji
sudah ada dirjennya kog.
Korupsi mengenai
kegiatan berhaji ini hanya sedikit, bandingkan dengan kegagalan yang begitu
besar di atas. Kehidupan manusia jelas jauh lebih berharga dan mahal
dibandingan nol sembilan tersebut. Mengapa kesalahan yang begitu besar tersebut
tidak dinilai dan dievaluasi. Karena tuhannya adalah uang negara ini. Tuhan menciptakan perbedaan bukan persamaan
untuk saling melengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar