Sabtu, 10 Mei 2014

Dunia Makin Gerah....

Hari-hari ini, basa-basi paling populer sebagai pembuka pembicaraan adalah panas. Musim kemarau menjelang, meninggalkan musim penghujan yang dingin dan sejuk. Siang hingga malam hari sekarang ini panas dan gerah menjadi menu wajib.
Musim penghujan, mengeluh minta sinar matahari, biar cucian kering dengan segar. Kemana-mana mudah dan tidak terhambat hujan dan terhalang banjir. Semua merindukan mentari yang bersinar cerah. Kemarau mulai, mengeluh lagi, panas, gerah, debu di mana-mana. Mau keluar rumah malas karena panas yang tidak ketulungan.
Salatiga sejak dulu dikenal sebagai kota yang dingin alias sejuk. Sekarang hal itu menjadi masa lalu. Panas menjadi bagian kota Salatiga pula. Di mana-mana pohon besar yang memberi kesegaran tidak ada lagi. Pohon masih kecil saja sudah didatangi pembeli kayu untuk dijual ke perusahaan-perusahaan menengah dan kecil sebagai bahan baku perkakas rumah tangga. Kayu dan pohon besar menjadi barang langka. Orang berjalan sudah jarang, semua sudah berkendara, dengan mesin, udara terkotori dengan gas buang, yang meningkatkan suhu lingkungan. Anak-anak sekarang sudah jarang kenal namanya sapu tangan, atau serbet makan, semua digantikan tisu, yang dibuat dari kayu. Udara yang kotor terpapar dalam pernafasan manusia. Melindungi dirinya, manusia mengunakan masker untuk menyaring udara yang dihirup. Masker yang dipakai, masker sekali buang, bahan baku yang digunakan kayu.
Kayu yang dulunya bertugas menjaga air agar dapat disimpan dengan baik di tanah, semua dieksploitasi manusia dengan semena-mena. Daunnya yang rimbun untuk meneduhi bumi, hilang semua, penghasil oksigen dihajar habis demi keserakahan nafsu manusia. Air yang seharusnya berjalan di got, karena alur yang menjadi jalurnya menjadi tempat sampah terpanjang, akhirnya mengalir melalui jalan raya, dan pemukiman penduduk.

Saat musim kemarau ingat pohon besar dan lupa banjir, membuang sampah seenaknya dan merindukan dingin, segar, dan aroma hujan. Kemarau pergi, yang diingat kapan panas biar tidak banjir dan cucian segar lagi. Manusia tidak pernah puas dan selalu ingin enaknya sendiri. Sudah demikian banyak diberi Tuhan, menjaga saja tidak mau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar