Hari-hari
ini, basa-basi paling populer sebagai pembuka pembicaraan adalah panas. Musim kemarau
menjelang, meninggalkan musim penghujan yang dingin dan sejuk. Siang hingga
malam hari sekarang ini panas dan gerah menjadi menu wajib.
Musim
penghujan, mengeluh minta sinar matahari, biar cucian kering dengan segar. Kemana-mana
mudah dan tidak terhambat hujan dan terhalang banjir. Semua merindukan mentari
yang bersinar cerah. Kemarau mulai, mengeluh lagi, panas, gerah, debu di
mana-mana. Mau keluar rumah malas karena panas yang tidak ketulungan.
Salatiga
sejak dulu dikenal sebagai kota yang dingin alias sejuk. Sekarang hal itu
menjadi masa lalu. Panas menjadi bagian kota Salatiga pula. Di mana-mana pohon
besar yang memberi kesegaran tidak ada lagi. Pohon masih kecil saja sudah
didatangi pembeli kayu untuk dijual ke perusahaan-perusahaan menengah dan kecil
sebagai bahan baku perkakas rumah tangga. Kayu dan pohon besar menjadi barang
langka. Orang berjalan sudah jarang, semua sudah berkendara, dengan mesin,
udara terkotori dengan gas buang, yang meningkatkan suhu lingkungan. Anak-anak
sekarang sudah jarang kenal namanya sapu tangan, atau serbet makan, semua
digantikan tisu, yang dibuat dari kayu. Udara yang kotor terpapar dalam
pernafasan manusia. Melindungi dirinya, manusia mengunakan masker untuk
menyaring udara yang dihirup. Masker yang dipakai, masker sekali buang, bahan
baku yang digunakan kayu.
Kayu
yang dulunya bertugas menjaga air agar dapat disimpan dengan baik di tanah,
semua dieksploitasi manusia dengan semena-mena. Daunnya yang rimbun untuk
meneduhi bumi, hilang semua, penghasil oksigen dihajar habis demi keserakahan
nafsu manusia. Air yang seharusnya berjalan di got, karena alur yang menjadi
jalurnya menjadi tempat sampah terpanjang, akhirnya mengalir melalui jalan
raya, dan pemukiman penduduk.
Saat
musim kemarau ingat pohon besar dan lupa banjir, membuang sampah seenaknya dan
merindukan dingin, segar, dan aroma hujan. Kemarau pergi, yang diingat kapan
panas biar tidak banjir dan cucian segar lagi. Manusia tidak pernah puas dan
selalu ingin enaknya sendiri. Sudah demikian banyak diberi Tuhan, menjaga saja
tidak mau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar