Kekayaan tanpa
bekerja, kesenangan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan
tanpa moralitas, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadat tanpa pengorbanan, politik
tanpa prinsip, merupakan akar kekerasan.
Semua itu ada dan mengejala di
tengah-tengah bangsa ini. Bagaimana kekayaan ditimbun dan ditumpuk oleh
orang-orang tertentu, sedang banyak pula yang masih berkekurangan. Budaya instan
dianut sehingga korup, suap, berbuat curang, berlaku irasional, menjadi sarana
menimbun harta dan kekayaan.
Kesenangan, kebahagian, hiburan menjamur
di mana-mana. Saat ini, hiburan bukan dicari orang jauh-jauh, karena hiburan
dapat dibawa dan mendekat kepada pencari hiburan. Hiburan masuk ke rumah dalam
berbagai model dan macamnya. Hiburan tanpa nurani akan membuat orang lain
sebagai obyek dan bukan subyek. Dalam hal ini pornografi, eksplorasi, dan
kekerasan dan pelecehan sebagai obyek hiburan merupakan contoh nyata kesenangan
tanpa nurani.
Orang pinter banyak, dari sarjana bahkan
profesor tidak sedikit dan tidak kurang, namun mengapa bangsa ini masih saja
terpuruk? Karena pengetahuan tidak dibarengi dengan karakter yang tepat. Pinter dienggo minteri liyan (pengetahuan
digunakan untuk menguasai orang lain). Hukum rimba masih dihayati dan dihidupi.
Moralitas sedang berada pada titik nadir
bagi masyarakat kita. Baik menjadi buruk, benar menjadi salah, salah menjadi
seolah-olah benar, dan buruk kelihatan sekilas layaknya baik. Dunia perdangan
dan politik dihidupi dan dihuni pribadi-pribadi yang demikian. Ekploitasi berlebihan,
manusiapun diperjualbelikan, yang penting aku dan kelompokku untung menjadi
prinsip perdangan kita. Perdagangan liberal dan kapitalisme menjadi tuan dan
raja.
Ilmu tanpa kemanusiaan. Dipertontonkan dengan
telanjang bagaimana ilmu pengetahuan di bangsa ini melupakan humanisme atau
kemanusiaa. Murid dijadikan sapi perah pengelola sekolah, dan kelinci percobaan
pemerintah. Siswa tidak memiliki kebebasan dan hak bicara sama sekali. Anak didik
menjadi obyek bukan subyek pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ilmu belum menjadi
sarana memanusiakan manusia, melainkan menjadi tujuan agar lulus dan ijazah
semata.
Idabat tanpa pengorbanan. Ibadat menjadi
sarana menindas yang berbeda, beda merupakan dosa. Ranah-ranah ritual yang
artifisial dianggap penting. Penghayatan yang substansial dilupakan, dan dibesar-besarkan
adalah yang ada di permukaan dan mengalah kemanusiaan dan keilahian yang
seharusnya ada di dalam peribadatan.
Politik pada dasarnya adalah seni menata
bangsa dan negara. Seni tidak ada yang buruk. Mengapa politik dan politisi di
Indonesia demikian buruk dan berwarna jelek? Karena apa yang ada bukan demi
negara, kebaikan dan kemajuan negara beserta masyarakatnya, melainkan hanya kekuasaan.
Bagi-bagi kekuasaan dan kekuasaan itu berujung dan bermuara pada uang dan
harta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar