Rabu, 07 Mei 2014

Kekerasan.....

Kekayaan tanpa bekerja, kesenangan tanpa hati nurani, pengetahuan tanpa karakter, perdagangan tanpa moralitas, ilmu tanpa kemanusiaan, ibadat tanpa pengorbanan, politik tanpa prinsip, merupakan akar kekerasan.

Semua itu ada dan mengejala di tengah-tengah bangsa ini. Bagaimana kekayaan ditimbun dan ditumpuk oleh orang-orang tertentu, sedang banyak pula yang masih berkekurangan. Budaya instan dianut sehingga korup, suap, berbuat curang, berlaku irasional, menjadi sarana menimbun harta dan kekayaan.
Kesenangan, kebahagian, hiburan menjamur di mana-mana. Saat ini, hiburan bukan dicari orang jauh-jauh, karena hiburan dapat dibawa dan mendekat kepada pencari hiburan. Hiburan masuk ke rumah dalam berbagai model dan macamnya. Hiburan tanpa nurani akan membuat orang lain sebagai obyek dan bukan subyek. Dalam hal ini pornografi, eksplorasi, dan kekerasan dan pelecehan sebagai obyek hiburan merupakan contoh nyata kesenangan tanpa nurani.
Orang pinter banyak, dari sarjana bahkan profesor tidak sedikit dan tidak kurang, namun mengapa bangsa ini masih saja terpuruk? Karena pengetahuan tidak dibarengi dengan karakter yang tepat. Pinter dienggo minteri liyan (pengetahuan digunakan untuk menguasai orang lain). Hukum rimba masih dihayati dan dihidupi.
Moralitas sedang berada pada titik nadir bagi masyarakat kita. Baik menjadi buruk, benar menjadi salah, salah menjadi seolah-olah benar, dan buruk kelihatan sekilas layaknya baik. Dunia perdangan dan politik dihidupi dan dihuni pribadi-pribadi yang demikian. Ekploitasi berlebihan, manusiapun diperjualbelikan, yang penting aku dan kelompokku untung menjadi prinsip perdangan kita. Perdagangan liberal dan kapitalisme menjadi tuan dan raja.
Ilmu tanpa kemanusiaan. Dipertontonkan dengan telanjang bagaimana ilmu pengetahuan di bangsa ini melupakan humanisme atau kemanusiaa. Murid dijadikan sapi perah pengelola sekolah, dan kelinci percobaan pemerintah. Siswa tidak memiliki kebebasan dan hak bicara sama sekali. Anak didik menjadi obyek bukan subyek pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ilmu belum menjadi sarana memanusiakan manusia, melainkan menjadi tujuan agar lulus dan ijazah semata.
Idabat tanpa pengorbanan. Ibadat menjadi sarana menindas yang berbeda, beda merupakan dosa. Ranah-ranah ritual yang artifisial dianggap penting. Penghayatan yang  substansial dilupakan, dan dibesar-besarkan adalah yang ada di permukaan dan mengalah kemanusiaan dan keilahian yang seharusnya ada di dalam peribadatan.
Politik pada dasarnya adalah seni menata bangsa dan negara. Seni tidak ada yang buruk. Mengapa politik dan politisi di Indonesia demikian buruk dan berwarna jelek? Karena apa yang ada bukan demi negara, kebaikan dan kemajuan negara beserta masyarakatnya, melainkan hanya kekuasaan. Bagi-bagi kekuasaan dan kekuasaan itu berujung dan bermuara pada uang dan harta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar