Ungkapan
Jawa yang sangat pas dan pantas disematkan di dalam banyak hal bagi anak-anak
negeri ini. Contoh konkret dinampakkan dalam komentar-komentar media on-line. Begitu
banyak caci maki, penghakiman, dan hujat, semua itu dilakukan oleh siapa antah
barantah, yang sama sekali tidak dikenal, alias penonton yang dalam bahasa Jawa
namanya ndelok, yang kreta basanya, kendel alok, berani berkomentar.
Kebebasan
berekspresi baik, dan bagus adanya, perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi. Kita
patut bersyukur sudah menduduki posisi 90-an di dunia mengenai kebebasan pers. Kebebasan bukan
berarti seenaknya dan semaunya, sekata-katanya boleh. Etika pergaulan dunia
nyata harus juga dinyatakan dan dipakai di dalam relasional dunia maya.
Penghargaan
atas karya orang lain, sama sekali tidak ada. Komentator tersebut sama sekali
belum pernah menulis, mengapa menghujat, menghakimi, seolah-olah dia penulis
besar (yang sama sekali tidak akan melakukan hal tersebut, sebagai penulis
besar). Energi yang ada dari pada jadi penghujat lebih baik disalurkan menjadi
bentuk tulisan, kalau tahu bahwa tulisan itu jelek mengapa tidak membuat yang
lebih baik, dari pada hanya jadi komentator dan ndelok?
Orang
yang belum bisa menghargai karya orang lain, yang hanya menilai karya orang
tidak bermutu, sedang dia belum membuat? Menunjukkan dirinya yang kecil dan
belum menghasilkan apapun. Setiap tulisan karya yang kurang baik, dijawab
dengan karya dan tulisan yang lebih baik, tentu akan menghasilkan kebaikan dan
kemuliaan. Kritik bukan menjelekkan dan menghakimi.
Mari
bangsaku, bergerak dan berikan energimu bagi bangsamu, bukan menghujat,
menghakimi, dan menjelek-jelekan bangsamu, tanpa kamu berbuat apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar