Minggu, 04 Mei 2014

Ndelok, Kendel Alok[1]


Ungkapan Jawa yang sangat pas dan pantas disematkan di dalam banyak hal bagi anak-anak negeri ini. Contoh konkret dinampakkan dalam komentar-komentar media on-line. Begitu banyak caci maki, penghakiman, dan hujat, semua itu dilakukan oleh siapa antah barantah, yang sama sekali tidak dikenal, alias penonton yang dalam bahasa Jawa namanya ndelok, yang kreta basanya, kendel alok,  berani berkomentar.
Kebebasan berekspresi baik, dan bagus adanya, perlu mendapatkan apresiasi yang tinggi. Kita patut bersyukur sudah menduduki posisi 90-an  di dunia mengenai kebebasan pers. Kebebasan bukan berarti seenaknya dan semaunya, sekata-katanya boleh. Etika pergaulan dunia nyata harus juga dinyatakan dan dipakai di dalam relasional dunia maya.
Penghargaan atas karya orang lain, sama sekali tidak ada. Komentator tersebut sama sekali belum pernah menulis, mengapa menghujat, menghakimi, seolah-olah dia penulis besar (yang sama sekali tidak akan melakukan hal tersebut, sebagai penulis besar). Energi yang ada dari pada jadi penghujat lebih baik disalurkan menjadi bentuk tulisan, kalau tahu bahwa tulisan itu jelek mengapa tidak membuat yang lebih baik, dari pada hanya jadi komentator dan ndelok?
Orang yang belum bisa menghargai karya orang lain, yang hanya menilai karya orang tidak bermutu, sedang dia belum membuat? Menunjukkan dirinya yang kecil dan belum menghasilkan apapun. Setiap tulisan karya yang kurang baik, dijawab dengan karya dan tulisan yang lebih baik, tentu akan menghasilkan kebaikan dan kemuliaan. Kritik bukan menjelekkan dan menghakimi.
Mari bangsaku, bergerak dan berikan energimu bagi bangsamu, bukan menghujat, menghakimi, dan menjelek-jelekan bangsamu, tanpa kamu berbuat apapun.



[1] Bahasa Jawa, berani berkomentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar