Mendengar
anak kelas 7, sama dengan kelas satu SMP hamil, saya jadi teringat sekian tahun
lalu, saat siswi saya hamil dengan siswa angkatannya, kala itu, mereka kelas
dua SMP, masih satu tahun lebih tua. Fenomena
aktivitas seksual makin marak dengan ketidakdewasaan perilaku seksualitas
mereka. Photo-photo, telanjang, setengah telanjang, adegan seksual remaja
dengan berbagai model dan cara menjadi santapan tanpa filter sama sekali
melalui media sosial yang bebas diakses oleh remaja.
Pendidikan
seksualitas pro dan kontra
Para
pakar belum sependapat dengan pendidikan seksualitas diberikan secara langsung
masuk dalam kurikulum. Keberatan yang dikemukakan adalah jangan-jangan dengan
pendidikan itu anak seperti diajari untuk berperilaku bebas mengenai
seksualitasnya. Pihak yang menjeyujui adanya pendidikan seksualitas masuk pada
kurikulum adalh memberikan bekal yang berimbang mengenai kehidupan anak secara
ilmiah.
Pada
dasarnya yang keberatan mengenai pendidikan seksualitas diberikan secara
langsung di dalam kurikulum ialah orang yang tidak siap dengan apa yang akan
terjadi. Anak-anak terutama remaja akan banyak bertanya dan belum banyak yang
siap dengan jawaban yang semestinya. Hal itu terjadi karena paham seksualitas
akan dengan sendirinya terjadi, secara alamiah. Paham ini benar, namum
perkembangan zaman dan teknologi makin canggih, sudah seyogyanya pendidikan
seksualitas diberikan secara langsung dan terus terang.
Pemikiran
seksualitas sebagai hal yang saru dan
tabu, jorok sudah saatnya dikubur dalam-dalam. Mengapa membicarakan penis dan
vagina, serta payudara harus menggunakan berbagai istilah dan perumpamaan? Anak belajar dan mencari jawaban melalui
rekan, lingkungan, dan media yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kran keterbukaan
guru dan orang tua perlu dibuka dan diberikan kesempatan yang luas kepada anak
dan remaja mengenai kebertubuhannya sendiri.
Seksualitas
jauh lebih luas dari seks, jenis kelamin, dan aktivitas seksual yang berkonotasi
dengan hubungan badan semata. Seksualitas berkaitan dengan keseluruhan diri
sebagai laki-laki dan perempuan, dalam berbagai dimensi.
Lintas
bidang ilmu perlu diterapkan dalam pendidikan seksualitas. Biologis medis
berkaitan dengan keamanan dan kesehatan dengan alat-alat reproduski, hal ini
baik. Perlu pendampingan pendidikan dari seg moral seksualitas yang membekali anak dengan
apa yang boleh dan tidak boleh dan mengapa itu dilarang dan hal yang lain
diperbolehkan.
Paham
pendidikan seksualitas hanya akan menjadikan anak melakukan aktiviatas seksual
secara bebas tentunya terbantahkan dengan adanya pendampingan dan pembinaan
moral bagi anak. Butuh keberania, keterusterangan, dan mau banyak belajar untuk
mendampingi pendidikan seksualitas remaja secara istimewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar