Senin, 12 Mei 2014

Pendidikan Seksualitas

Mendengar anak kelas 7, sama dengan kelas satu SMP hamil, saya jadi teringat sekian tahun lalu, saat siswi saya hamil dengan siswa angkatannya, kala itu, mereka kelas dua SMP, masih satu tahun lebih tua.  Fenomena aktivitas seksual makin marak dengan ketidakdewasaan perilaku seksualitas mereka. Photo-photo, telanjang, setengah telanjang, adegan seksual remaja dengan berbagai model dan cara menjadi santapan tanpa filter sama sekali melalui media sosial yang bebas diakses oleh remaja.
Pendidikan seksualitas pro dan kontra
Para pakar belum sependapat dengan pendidikan seksualitas diberikan secara langsung masuk dalam kurikulum. Keberatan yang dikemukakan adalah jangan-jangan dengan pendidikan itu anak seperti diajari untuk berperilaku bebas mengenai seksualitasnya. Pihak yang menjeyujui adanya pendidikan seksualitas masuk pada kurikulum adalh memberikan bekal yang berimbang mengenai kehidupan anak secara ilmiah.
Pada dasarnya yang keberatan mengenai pendidikan seksualitas diberikan secara langsung di dalam kurikulum ialah orang yang tidak siap dengan apa yang akan terjadi. Anak-anak terutama remaja akan banyak bertanya dan belum banyak yang siap dengan jawaban yang semestinya. Hal itu terjadi karena paham seksualitas akan dengan sendirinya terjadi, secara alamiah. Paham ini benar, namum perkembangan zaman dan teknologi makin canggih, sudah seyogyanya pendidikan seksualitas diberikan secara langsung dan terus terang.
Pemikiran seksualitas sebagai hal yang saru dan tabu, jorok sudah saatnya dikubur dalam-dalam. Mengapa membicarakan penis dan vagina, serta payudara harus menggunakan berbagai istilah dan perumpamaan?  Anak belajar dan mencari jawaban melalui rekan, lingkungan, dan media yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Kran keterbukaan guru dan orang tua perlu dibuka dan diberikan kesempatan yang luas kepada anak dan remaja mengenai kebertubuhannya sendiri.
Seksualitas jauh lebih luas dari seks, jenis kelamin, dan aktivitas seksual yang berkonotasi dengan hubungan badan semata. Seksualitas berkaitan dengan keseluruhan diri sebagai laki-laki dan perempuan, dalam berbagai dimensi.
Lintas bidang ilmu perlu diterapkan dalam pendidikan seksualitas. Biologis medis berkaitan dengan keamanan dan kesehatan dengan alat-alat reproduski, hal ini baik. Perlu pendampingan pendidikan dari seg  moral seksualitas yang membekali anak dengan apa yang boleh dan tidak boleh dan mengapa itu dilarang dan hal yang lain diperbolehkan.
Paham pendidikan seksualitas hanya akan menjadikan anak melakukan aktiviatas seksual secara bebas tentunya terbantahkan dengan adanya pendampingan dan pembinaan moral bagi anak. Butuh keberania, keterusterangan, dan mau banyak belajar untuk mendampingi pendidikan seksualitas remaja secara istimewa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar