Berita dan cerita
mengenai ujian nasional dari waktu ke waktu sama saja, pejabat negara
menyatakan tidak ada permasalahan. Permasalah tidak ada itu bukan kenyataan
yang terjadi di lapangan. Di sekolah-sekolah segala bentuk kecurangan kalau
memang berkehendak memperbaiki keadaan dunia pendidikan menjadi lebih baik,
semua pemangku pendidikan jujur menyatakan apa yang terjadi. Sekarang sekolah-sekolah
menghalalkan segala cara agar bisa lulus 100%, kualiatas tidak peduli. Banyak rekan
bercerita mengenai kecurangan, ada dengan metode guru setempat masuk kelas,
karena guru pengawas dari sekolah lain, dengan berbagai alasan. Ada teguran
untuk anak yang curang, pengawas tersebut siap-siap saja akan ditegur ganti oleh
ketua pelaksana, biasanya kepala sekolah setempat. Ketua rayon saat pembekalan
pengawas dengan bahasa manis, padahal bahasa iblis, menyatakan tolong anak
negeri ini dibantu, kalau ngawas
tidak usah terlalu ketat....?????????????
Aneh bin ajaib. Lembar
evaluasi pada amplop lembar jawab dan soal yang masuk ke pejabat yang berwenang
mengeluarkan pernyataan pelaksanaan ujian berjalan baik. Itu pasti. Pengalaman saya,
saat saya menjadi pengawas, rekan guru pengawas, menanyakan apa yang harus
ditulis di amplop, saya katakan, tulis saja soal banyak cacat, anak ramai, dan
beberapa persoalan lain, guru tersebut kelihatan tidak berani, meskipun ditulis
juga apa adanya. Namun beliau juga menyatakan biasanya akan ditegur. Saya memang
menghendaki ditegur dan bisa menuliskannya di media sosial sebagai sarana
pembelajaran dan perbaikan negara. Sama sekali tidak ada teguran, paling-paling
lembar evaluasi tersebut dibuang dan diganti dengan isi baru, berjalan dengan
lancar.
Asal bapak senang
masih kuat mengakar di negara ini. Bahkan mediapun menyatakkan hal yang sama,
karena apa? Karena media sudah diarahkan seperti apa mau pejabat. Suatu hari
pasti budaya ini akan hilang. Tahun ini media sudah menyatakan tidak ada
persoalan sama sekali, padahal begitu banyak masalah yang tidak mereka dengar.
Evaluasi sama
sekali tidak berjalan di negara ini. Evaluasi berisi puja-puji atasan, agar
bawahan bisa bertahan atau naik jabatan. Itu bukan rahasia lagi. Melihat kekurangan
bukan sebagai sarana menjatuhkan pihak lain, dan untuk membesar-besarkan
kekurangan dan kesalahan, namun untuk perbaikan dengan cara berani memasuki
dunia yang masih jauh dari kebiasaan kita, mengakui kekurangan dan kesalahan. Lebih
malu mengakui kesalahan atau mencuri? Bangsa ini masih lebih malu mengakui
kesalahan daripada korupsi. Moral kalah dengan penerimaan masyarakat. Salah bukan,
masalah saat tidak diketahui Mari terbuka pada diri sendiri demi kebaikan
pendidikan dan negeri tercinta kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar