Selasa, 06 Mei 2014

Bahasa Manis dari Iblis...

Berita dan cerita mengenai ujian nasional dari waktu ke waktu sama saja, pejabat negara menyatakan tidak ada permasalahan. Permasalah tidak ada itu bukan kenyataan yang terjadi di lapangan. Di sekolah-sekolah segala bentuk kecurangan kalau memang berkehendak memperbaiki keadaan dunia pendidikan menjadi lebih baik, semua pemangku pendidikan jujur menyatakan apa yang terjadi. Sekarang sekolah-sekolah menghalalkan segala cara agar bisa lulus 100%, kualiatas tidak peduli. Banyak rekan bercerita mengenai kecurangan, ada dengan metode guru setempat masuk kelas, karena guru pengawas dari sekolah lain, dengan berbagai alasan. Ada teguran untuk anak yang curang, pengawas tersebut siap-siap saja akan ditegur ganti oleh ketua pelaksana, biasanya kepala sekolah setempat. Ketua rayon saat pembekalan pengawas dengan bahasa manis, padahal bahasa iblis, menyatakan tolong anak negeri ini dibantu, kalau ngawas tidak usah terlalu ketat....?????????????
Aneh bin ajaib. Lembar evaluasi pada amplop lembar jawab dan soal yang masuk ke pejabat yang berwenang mengeluarkan pernyataan pelaksanaan ujian berjalan baik. Itu pasti. Pengalaman saya, saat saya menjadi pengawas, rekan guru pengawas, menanyakan apa yang harus ditulis di amplop, saya katakan, tulis saja soal banyak cacat, anak ramai, dan beberapa persoalan lain, guru tersebut kelihatan tidak berani, meskipun ditulis juga apa adanya. Namun beliau juga menyatakan biasanya akan ditegur. Saya memang menghendaki ditegur dan bisa menuliskannya di media sosial sebagai sarana pembelajaran dan perbaikan negara. Sama sekali tidak ada teguran, paling-paling lembar evaluasi tersebut dibuang dan diganti dengan isi baru, berjalan dengan lancar.
Asal bapak senang masih kuat mengakar di negara ini. Bahkan mediapun menyatakkan hal yang sama, karena apa? Karena media sudah diarahkan seperti apa mau pejabat. Suatu hari pasti budaya ini akan hilang. Tahun ini media sudah menyatakan tidak ada persoalan sama sekali, padahal begitu banyak masalah yang tidak mereka dengar.

Evaluasi sama sekali tidak berjalan di negara ini. Evaluasi berisi puja-puji atasan, agar bawahan bisa bertahan atau naik jabatan. Itu bukan rahasia lagi. Melihat kekurangan bukan sebagai sarana menjatuhkan pihak lain, dan untuk membesar-besarkan kekurangan dan kesalahan, namun untuk perbaikan dengan cara berani memasuki dunia yang masih jauh dari kebiasaan kita, mengakui kekurangan dan kesalahan. Lebih malu mengakui kesalahan atau mencuri? Bangsa ini masih lebih malu mengakui kesalahan daripada korupsi. Moral kalah dengan penerimaan masyarakat. Salah bukan, masalah saat tidak diketahui Mari terbuka pada diri sendiri demi kebaikan pendidikan dan negeri tercinta kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar