Seorang pejabat
yang hanya menerima laporan (walaupun menyatakan sidak sendiri ke
sekolah-sekolah) dan mengeluarkan pernyataan melalui wawancara televisi, kalau
kurikulum baru menyenangkan bagi murid dan guru, itu baik dan saya apresiasi
yang mendalam atas kinerja dan apa yang sudah dilakukan. Mengenai kebenarannya
waktu yang akan menjawab.
Pernyataan selanjutnya
yang cukup aneh diucapkan, entah karena kepedean
atas wajah sumringah presenter yang mengapresiasi capaiannya, atau karena
saking tidak mengertinya dengan apa yang diungkapkan? Beliau menyatakan
anak-anak menjadi menyenangkan (dalam benak saya anak-anak ini memiliki
sifat/karakter/pembawaan yang menyenangkan). Sangat berbeda dengan pelaksanaan
kurikulum terdahulu yang membuat anak tidak menyenangkan/kasar, perilaku buruk,
dan sebagainya.
Kalau benar
interpretasi saya atas pernyataan yang saya tangkap, beberapa hal yang menjadi
janggal atas pernyataan tersebut :
1.
Kurikulum tidak bisa dilihat
hasilnya hanya dalam satu tahun pendidikan berjalan. Pendidikan berjalan lama
dan tidak akan mudah berubah dalam waktu sekejap, pelaku yaitu guru dengan paradigma dan cara pengajaran yang sudah lama,
tidak akan mungkin berubah 1800 dalam waktu setahun. Jelas hasilnya
belum akan nampak dengan jelas seperti dinyatakan dalam wawancara tersebut.
2.
Pejabat tersebut pastinya menjabat
sejak lama, beliau menjelekkan kurikulum terdahulu tanpa mengadakan evaluasi
mendalam dan menyeluruh, kekurangan dan kelebihan kurikulum dan main ganti
saja. Jangan ada lagi menjelekan apa yang sudah terjadi. Karena bagaimanapun
pendidikan adalah saka guru bangsa, dan anak didik bukan kelinci percobaan yang
seenaknya dijadikan percobaan.
Sikap
asal bapak senang, asal atasan senang dengan mengelabui laporan, “menghilangakan”,
menutup-nutupi kebobrokan hanya akan
menambah dalam jurang kekelaman dunia pendidikan. Anak bangsa tidak perlu
wacana manis berbau iblis lagi yang diperlukan adalah karya nyata keterpihakan
dalam kemajuan bangsa, bukan kelompok dan pejabat senang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar