Rabu, 07 Mei 2014

Mulut Manis Berbau Iblis (2)


Seorang pejabat yang hanya menerima laporan (walaupun menyatakan sidak sendiri ke sekolah-sekolah) dan mengeluarkan pernyataan melalui wawancara televisi, kalau kurikulum baru menyenangkan bagi murid dan guru, itu baik dan saya apresiasi yang mendalam atas kinerja dan apa yang sudah dilakukan. Mengenai kebenarannya waktu yang akan menjawab.
Pernyataan selanjutnya yang cukup aneh diucapkan, entah karena kepedean atas wajah sumringah presenter yang mengapresiasi capaiannya, atau karena saking tidak mengertinya dengan apa yang diungkapkan? Beliau menyatakan anak-anak menjadi menyenangkan (dalam benak saya anak-anak ini memiliki sifat/karakter/pembawaan yang menyenangkan). Sangat berbeda dengan pelaksanaan kurikulum terdahulu yang membuat anak tidak menyenangkan/kasar, perilaku buruk, dan sebagainya.
Kalau benar interpretasi saya atas pernyataan yang saya tangkap, beberapa hal yang menjadi janggal atas pernyataan tersebut :
1.     Kurikulum tidak bisa dilihat hasilnya hanya dalam satu tahun pendidikan berjalan. Pendidikan berjalan lama dan tidak akan mudah berubah dalam waktu sekejap, pelaku yaitu guru dengan  paradigma dan cara pengajaran yang sudah lama, tidak akan mungkin berubah 1800 dalam waktu setahun. Jelas hasilnya belum akan nampak dengan jelas seperti dinyatakan dalam wawancara tersebut.
2.     Pejabat tersebut pastinya menjabat sejak lama, beliau menjelekkan kurikulum terdahulu tanpa mengadakan evaluasi mendalam dan menyeluruh, kekurangan dan kelebihan kurikulum dan main ganti saja. Jangan ada lagi menjelekan apa yang sudah terjadi. Karena bagaimanapun pendidikan adalah saka guru bangsa, dan anak didik bukan kelinci percobaan yang seenaknya dijadikan percobaan.

Sikap asal bapak senang, asal atasan senang dengan mengelabui laporan, “menghilangakan”, menutup-nutupi  kebobrokan hanya akan menambah dalam jurang kekelaman dunia pendidikan. Anak bangsa tidak perlu wacana manis berbau iblis lagi yang diperlukan adalah karya nyata keterpihakan dalam kemajuan bangsa, bukan kelompok dan pejabat senang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar