Hari ini, Ujian Nasional dilaksanakan lagi,
untuk anak Sekolah Dasar. Pekerjaan yang entah apa maksudnya diagenda untuk
siswa-siswi yang masih demikian belia. Satu persoalan yang belum dengan jelas
dan gamblang dijawab oleh penyelenggara dalam hal ini Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan.
Persoalan aneh bin ajaib kedua, demikian
tragis, anak Sekolah Dasar dijaga aparat kepolisian. Dinyatakan untuk menjaga
dari kebocoran. Logis tidak, anak SD sudah mencari bocoran, dan bisa untuk
melakukan kecurangan dengan model soal yang begitu banyaknya. Misalnya ada
orang tua yang membelikan jawaban, apakah anak sekecil itu sudah bisa mencontek
demikian canggihnya?
Ini anak lho, anak negeri sendiri, bukan anak
tiri yang selalu saja dicurigai, curang lah, bocorlah, dan sebagainya. Negeri ini
sudah terlalu banyak unsur-unsur negatif yang mengemuka. Berikanlah kepercayaan
dan keyakinan bahwa mereka jujur dan mengerjakan dengan kemampuan dirinya
sendiri.
Apakah ini gambaran pemerintah dan pejabat yang
berlaku curang dan melabelkan itu semua pada semua orang, dalam hal ini
termasuk anak sekolah dasar.
Waktu siswa-siswi SMA/SMK dijaga polisi, masih
bisa lah diterima akal sehat, kan anak ABG umur-umur sekian sedang
pinter-pinternya mengerjain orang lain, sistem termasuk guru. Mereka sudah
mampu mencari bocoran, cara membeli, dan mengelabui penjaga dengan berbagai cara dan trik.
Ini, anak Sekolah Dasar, membuang ingus saja
masih belum fasih. Sudah dituduh dengan demikian kejamnya.
Banyak cara yang bisa dikembangkan daripada
melibatkan polisi, yang seolah-olah anak negeri ini pelaku kriminal semua. Nilai
akhir ujian nasional bukan menjadi pedoman kelulusan, kelulusan bukan menjadi penilaian
pejabat promosi, variasi soal dan masih banyak lagi dapat digali para pemangku
kebijaksanaan di dunia pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar