Senin, 19 Mei 2014

Lucu, Ironis, atau Tragis?


Hari ini, Ujian Nasional dilaksanakan lagi, untuk anak Sekolah Dasar. Pekerjaan yang entah apa maksudnya diagenda untuk siswa-siswi yang masih demikian belia. Satu persoalan yang belum dengan jelas dan gamblang dijawab oleh penyelenggara dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Persoalan aneh bin ajaib kedua, demikian tragis, anak Sekolah Dasar dijaga aparat kepolisian. Dinyatakan untuk menjaga dari kebocoran. Logis tidak, anak SD sudah mencari bocoran, dan bisa untuk melakukan kecurangan dengan model soal yang begitu banyaknya. Misalnya ada orang tua yang membelikan jawaban, apakah anak sekecil itu sudah bisa mencontek demikian canggihnya?
Ini anak lho, anak negeri sendiri, bukan anak tiri yang selalu saja dicurigai, curang lah, bocorlah, dan sebagainya. Negeri ini sudah terlalu banyak unsur-unsur negatif yang mengemuka. Berikanlah kepercayaan dan keyakinan bahwa mereka jujur dan mengerjakan dengan kemampuan dirinya sendiri.
Apakah ini gambaran pemerintah dan pejabat yang berlaku curang dan melabelkan itu semua pada semua orang, dalam hal ini termasuk anak sekolah dasar.
Waktu siswa-siswi SMA/SMK dijaga polisi, masih bisa lah diterima akal sehat, kan anak ABG umur-umur sekian sedang pinter-pinternya mengerjain orang lain, sistem termasuk guru. Mereka sudah mampu mencari bocoran, cara membeli, dan mengelabui penjaga dengan  berbagai cara dan trik.
Ini, anak Sekolah Dasar, membuang ingus saja masih belum fasih. Sudah dituduh dengan demikian kejamnya.

Banyak cara yang bisa dikembangkan daripada melibatkan polisi, yang seolah-olah anak negeri ini pelaku kriminal semua. Nilai akhir ujian nasional bukan menjadi pedoman kelulusan, kelulusan bukan menjadi penilaian pejabat promosi, variasi soal dan masih banyak lagi dapat digali para pemangku kebijaksanaan di dunia pendidikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar