Selasa, 13 Mei 2014

Perkembangan Seksualitas Anak Secara Psikologis


Fase-fase hidup manusia menurut A. Sceinfield seperti dikutip oleh Hurlock tahap-tahap  perkembangan manusia biasanya dimasukkan dalam 3 tahap, yaitu fase anak,  fase puber, dan fase remaja.  A. Sceinfield sendiri membagi dalam 7 fase, fase  masa bayi, awal masa anak-anak, sekitar umur 8 tahun, sekitar umur 10-12 tahun, sekitar umur 13-14 tahun, selama umur 14-16 tahun, dan selama umur 17-18 tahun (Hurlock: 2003).
Anak-anak dalam perkembangan seksualitasnya mengalami berbagai tahap perkembangan. Masa anak-anak meliputi   masa bayi, awal masa kanak-kanak, dan sekitar umur 8 tahun. Masa puber terdiri  atas pubertas, sikap antagonisme, crush, dan tokoh idola.

Masa Anak-Anak
            Perkembangan  heteroseksual  anak  dalam  masa ini dibagi dalam tiga fase. Selama masa bayi, selama masa anak, dan  sekitar anak berumur 8 tahun. Penjelasan masing-masing fase sebagai berikut:

Masa Bayi.
Fase ini berlansung saat anak berusia 1-2  tahun.   Dalam fase ini baik anak laki-laki maupun perempuan berminat pada dirinya sendiri.    Hal ini nampak pada  saat bermain. Mereka  lebih suka  bermain  sendiri.  Bermain    sendiri   di sini   berarti  tanpa  teman,  namun  butuh  orang  yang ada di sekitarnya. Mereka tidak suka ditinggalkan sendiri.
Awal Masa Kanak-Kanak
Anak mencapai umur 3-4 tahun fase perkembangannya dinamai fase awal masa kanak-kanak. Pada usia ini anak suka mencari teman dan bermain dengan banyak teman sebaya tanpa memandang jenis kelamin.
Saat anak berusia tiga tahun, tiap pribadi anak sudah mengenal peranan seksualnya, sesuai dengan jenis kelaminnya. Namun demikian dalam permainan pengetahuan ini belum membatasi anak. Dalam permainan bisa saja anak laki-laki memainkan peran atau permain perempuan dan sebaliknya anak perempuan memainkan peran maupun permainan laki-laki. Baru pada usia empat tahun anak mulai berperan dan bermain yang secara kultural cocok  dengan jenis kelaminnya masing-masing. Pada usia ini pula anak mulai mimisahkan diri dan mulai mencari teman sejenis.
Sekitar Umur 8 tahun
Anak berusia delapan tahun pemisahan jenis kelamin sudah terlihat dengan nyata. Anak laik-laki suka bermain dengan anak laki-laki sedang  anak-anak perempuan bermain bersama teman perempuan. Hal ini disebabkan pengaruh budaya yang ditanamkan dan dididik pada masa-masa sebelumnya telah benar-benar tertanam. Pengaruh ini pula yang membuat permainan anak-anak  laki-laki lebih agresf seperti perang-perangan, sepak bola, atau memanjat pohon. Pada anak perempuan lebih tertarik pada permainan yang berkaitan dengan sifat keibuan, seperti masak-masakan, main boneka, menari, dan sebagainya. Permainan permainan ini membantu anak belajar menyesuaikan diri  sesuai dengan kodratnya.

Masa Pubertas
Masa pubertas antar individu sangat berbeda. Yang jelas pubertas berkisar usia 10-12 tahun. Dalam masa pubertas anak-anak, hal penting yang harus dibicarakan adalah pubertas itu sendiri, sikap antagonisme, crush, dan tokoh idola atau hero worship.

Pubertas 
Masa di mana anak mengalami masa tumpang tindih antara akhir masa anak dan awal masa remaja. Masa ini ditandai dengan perubahan-perubahan secara   radikal  pada  tubuh. Perkembangan  rambut  disekitar  alat  kelamin,  pada ketiak, dan membesarnya   alat   kelamin. Pada  anak  laki-laki  mulai tumbuh  jakun dan  jenggot, serta  yang  paling   jelas  adalah dengan adanya mimpi  basah  untuk  pertama kalinya, sedangkan  pada perempuan ditandai dengan   membesarnya   buah  dada  dan   datangnya menstruasi yang pertama kali.
Perubahan fisik tersebut membuat anak bingung. Paling tidak lima hingga tujuh tahun sebelumnya anak sudah nyaman dengan tubuhnya. Perubahan-perubahan itu membuat anak tidak nyaman. Anak laki-laki merasa malu kalau harus menginap di tempat orang lain, atau alat kelaminnya mudah terangsang dan tegang saat melihat gambar atau berhadapan dengan perempuan. Dominasi pikiran-pikiran seksual genital ini juga menggaggu relasionalnya dengan ibu, karena khawatir, cemas, dan takut berduaan dengan ibu. Suara pada anak laki-laki mulai membesar pada masa pubertas ini. Peristiwa ini kadang menakutkan juga bagi anak, karena  biasanya  menjadi bahan olok-olokan oleh lingkungannya.
Anak perempuan yang mengalami menstruasi untuk pertama kalinya biasanya mengalami shock atau ketegangan luar biasa, karena berfikir mereka sakit atau pada alat kelaminnya mengalami luka. Menstruasi berikutnya juga tidak mudah karena anak perempuan mengalami sakit kepala, punggung punggung, kejang-kejang, sakit perut, mual, damn sebagainya. Perubahan buah dada mengganggu pula bagi anak perempuan. Anak khawatir jangan-jangan perkembangan buah dadanya terlalu besar atau terlau kecil. Pemikiran-pemikiran seksual masa pubertas ini membuat anak perempuan enggan dekat dengan bapaknya.

Sikap Antagonisme
Mencapai umur 9-10 tahun perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan  hampir sempurna. Pemisahan diri sewaktu berumur 8 tahun karena tidak ada kecocokan minat dan keinginan, pelan-pelan beranjak ke sikap permusuhan. Sikitar umur 10-12 tahun sikap permusuhan itu menjadi jelas sekali dengan adanya sikap antagonisme, suatu sikap permusuhan terhadap jenis kelamin yang berbeda.
Latar belakang sikap antagonisme tidak terlepas dari pengaruh budaya yang telah tertanam pada diri anak mengenai identitas diri anak mengenai identitas masing-masing jenis kelamin. Anak laki-laki sudah ditanamkan bahwa mereka harus lebih unggul, lebih berprestasi, lebih hebat dibandingkan anak perempuan. Badan anak laki-laki juga diharapkan lebih tinggi, lebih berotot. Pada anak perempuan tuntutan lebih lembut, lebih penuh kasih sayang, taat, patuh, atau  memelihara kecantikan, dan memberi ketenangan.
Perubahan-perubahan yang terjadi secara drastis pada masa puber memberi kenyataan lain. Anak laki-laki mengalami perkembangan yang lebih lambat dibandingkan anak perempuan. Saat perkembangan fisik dan mental anak perempuan lebih matang dan dewasa, perkembangan fisik anak laki-laki masih belum sepenuhnya proporsional. Secara mental anak laki-laki masih dianggap anak-anak.  Akibatnya orang-orang yang lebih tua lebih menaruh perhatian pada anak perempuan, dan anak perempuan lebih menaruh perhatian pada orang yang lebih tua dari pada teman laki-lakinya yang sebaya (crush).
Kenyataan-kenyataan  ini  bagi  anak  laki-laki  mengakibatkan   idealisme mengenai   maskulinitas  yang  telah tertanam dalam dirinya bertabrakan  dengan kenyataan  yang  dialaminya.  Oleh  karena  itu    anak laki-laki  merasa  malu  dan  minder  terhadap  anak  perempuan.  Rasa   malu,  minder, dan cemas mengenai maskulinitasnya diwujudkan dengan sikap membenci anak perempuan yang sebaya.
Sebaliknya  perkembangan   fisik  yang  sudah  matang membuat harga diri anak  perempuan   berkembang  dan  meningkat. Perkembangan   fisik      yang  diikuti  dengan   datangnya   menstruasi   membuat pengaruh psikologis pula bagi anak perempuan. Datangnya   menstruasi   membuat   anak     perempuan   bersikap   membenci  anak laki-laki  karena   mereka  menganggap bahwa mereka menstruasi  karena mereka tidak  memiliki penis.
Kebencian-kebencian yang ada diwujudkan dalam sikap  bermusuhan, bersaing, saling mengejek, dan memandang hina jenis seks yang lain. Reaksi-reaksi yang ada sebenarnya hanya perwujudan ingin menunjukkan bahwa jenis kelaminnyalah yang paling penting.
Sikap antagonisme timbul karena krisis identitas yang timbul selama masa puber, didorong oleh keinginan mempertahankan identitas dan harga diri  masing-masing jenis kelamin yang telah diatur secara alami agar kelak kedua jenis kelamin dapat bergaul, sederajad, seimbang, dan wajar dalam hubungan heteroseksual. Berhadapan dengan sikap antagonisme ini perlu pendampingan dan bimbingan dari orang-orang yang lebih dewasa.

Crush
Crush dapat disebut sebagai semacam cinta erotis kepada orang yang lebih tua baik dari jenis seks yang sama maupun jenis seks yang berbeda. Crush timbul karena rasa kagum akan kehebatan atau kemampuan yang dimiliki oleh orang yang dikagumi. Menurut sementara ahli, crush merupakan transfer perhatian afektif terhadap orang yang lebih tua,  seperti kepada guru, teman sejenis maupun berbeda jenis yang   lebih  tua.  Cinta  romantis   itu   diwujudkan   dengan melihat, mengamati, menulis tentang tokoh yang dikagumi, bertanya, memberi hadiah, membuat supaya dikasihi, meniru cara berbicara, berpakaian, dan sebagainya. Karena itu walaupun dari kodratnya crush  bersifat sementara, tetapi dalam perkembangannya   crush  berfungi  sebagai insentif yang memberi inspirasi kepada anak-anak yang kagum itu untuk semakin maju dalam belajar dan bekerja.
Crush dialami oleh kedua jenis kelamin.   Perkembangan  dan  kematangan anak perempuan lebih cepat dari pada anak laki-laki,  membuat   anak    perempaun lebih banyak mempunyai crush dibanding anak laki-laki. Anak perempuan membutuhkan semacam penyaluran kebutuhan seksualnya maupun kesulitan-kesulitan yang  dialami. Faktor  atau  kondisi  penyebab  crush  menjadi   semacam solusi bagi beberapa kesulitan yang   seaktu-waktu   dialami  perempuan.  Dapat   disebutkan  beberapa  contoh,  ditolak ibu,   ketidakhadiran ibu, pergaulan  dengan  anak  laki-laki   sebaya, maupun  teman perempuan sebaya, takut  laki-laki  atau gambaran  idealnya  mengenai laki-laki.

Tokoh Idola
Tokoh idola atau hero worship merupakan kekaguman afektif tokoh-tokoh ideal. Tokoh ideal bisa orang tua, sahabat yang lebih tua, para atlet, bintang film, ataupun pahlawan-pahlawan.
Seperti crush, dasar tokoh idola adalah kekaguman dan ketertarikan pada kemampuan atau kehebatan orang yang dicintai. Tokoh idola lama-lama menjadi insentif bagi anak untuk berusaha agar mencapai kesuksesan.
Tokoh idola membantu anak--anak untuk memformulasikan nilai-nilai,  dan memantapkan tujuan-tujuan yang membimbing hidupnya. Tokoh idola menambah motivasi anak dalam mencapai cita-cita dalam tindakan nyata.  Sebagai contoh anak mempunyai tokoh idola Superman,  dalam benak anak akan tertanam bahwa tokohnya sering menolong orang lain, anak tersebut ringan tangan untuk menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan. Sebaliknya  karena  tokoh idola yang dipilih salah atau jelek, tidak menutup kemungkinan anak juga menjadi buruk. Sebagai contoh baru-baru ini banyak anak menjadi korban bantingan teman-temannya karena tokoh idola anak-anak adalah Smack Down.
Perbedaan crush dan tokoh idola terletak  pada orang  yang dikagumi. Pada tokoh idola tokoh yang  dikagumi  biasanya  berjauhan jaraknya, dan pada keduanya  tidak  ada hubungan sama  sekali, sedang crush  biasanya   orang     yang dikagumi adalah orang yang dekat dan ada hubungan. Tokoh idola lebih banyak pada anak laki-laki, dan crush lebih  banyak  dialami  anak perempuan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar