Fase-fase hidup
manusia menurut A. Sceinfield seperti dikutip oleh Hurlock tahap-tahap perkembangan manusia biasanya dimasukkan
dalam 3 tahap, yaitu fase anak, fase
puber, dan fase remaja. A. Sceinfield
sendiri membagi dalam 7 fase, fase masa
bayi, awal masa anak-anak, sekitar umur 8 tahun, sekitar umur 10-12 tahun,
sekitar umur 13-14 tahun, selama umur 14-16 tahun, dan selama umur 17-18 tahun
(Hurlock: 2003).
Anak-anak dalam
perkembangan seksualitasnya mengalami berbagai tahap perkembangan. Masa
anak-anak meliputi masa bayi, awal masa
kanak-kanak, dan sekitar umur 8 tahun. Masa puber terdiri atas pubertas, sikap antagonisme, crush, dan
tokoh idola.
Masa
Anak-Anak
Perkembangan heteroseksual
anak dalam masa ini dibagi dalam tiga fase. Selama masa
bayi, selama masa anak, dan sekitar anak
berumur 8 tahun. Penjelasan masing-masing fase sebagai berikut:
Masa
Bayi.
Fase ini berlansung saat anak berusia 1-2 tahun.
Dalam fase ini baik anak laki-laki maupun perempuan berminat pada
dirinya sendiri. Hal ini nampak
pada saat bermain. Mereka lebih suka
bermain sendiri. Bermain
sendiri di sini berarti
tanpa teman, namun
butuh orang yang ada di sekitarnya. Mereka tidak suka ditinggalkan
sendiri.
Awal
Masa Kanak-Kanak
Anak mencapai
umur 3-4 tahun fase perkembangannya dinamai fase awal masa kanak-kanak. Pada
usia ini anak suka mencari teman dan bermain dengan banyak teman sebaya tanpa
memandang jenis kelamin.
Saat anak berusia tiga tahun, tiap pribadi anak
sudah mengenal peranan seksualnya, sesuai dengan jenis kelaminnya. Namun
demikian dalam permainan pengetahuan ini belum membatasi anak. Dalam permainan
bisa saja anak laki-laki memainkan peran atau permain perempuan dan sebaliknya
anak perempuan memainkan peran maupun permainan laki-laki. Baru pada usia empat
tahun anak mulai berperan dan bermain yang secara kultural cocok dengan jenis kelaminnya masing-masing. Pada
usia ini pula anak mulai mimisahkan diri dan mulai mencari teman sejenis.
Sekitar
Umur 8 tahun
Anak berusia
delapan tahun pemisahan jenis kelamin sudah terlihat dengan nyata. Anak
laik-laki suka bermain dengan anak laki-laki sedang anak-anak perempuan bermain bersama teman
perempuan. Hal ini disebabkan pengaruh budaya yang ditanamkan dan dididik pada
masa-masa sebelumnya telah benar-benar tertanam. Pengaruh ini pula yang membuat
permainan anak-anak laki-laki lebih
agresf seperti perang-perangan, sepak bola, atau memanjat pohon. Pada anak perempuan
lebih tertarik pada permainan yang berkaitan dengan sifat keibuan, seperti
masak-masakan, main boneka, menari, dan sebagainya. Permainan permainan ini
membantu anak belajar menyesuaikan diri
sesuai dengan kodratnya.
Masa
Pubertas
Masa pubertas
antar individu sangat berbeda. Yang jelas pubertas berkisar usia 10-12 tahun.
Dalam masa pubertas anak-anak, hal penting yang harus dibicarakan adalah
pubertas itu sendiri, sikap antagonisme, crush, dan tokoh idola atau hero
worship.
Pubertas
Masa di mana
anak mengalami masa tumpang tindih antara akhir masa anak dan awal masa remaja.
Masa ini ditandai dengan perubahan-perubahan secara radikal
pada tubuh. Perkembangan rambut
disekitar alat kelamin,
pada ketiak, dan membesarnya
alat kelamin. Pada anak
laki-laki mulai tumbuh jakun dan
jenggot, serta yang paling
jelas adalah dengan adanya mimpi basah
untuk pertama kalinya,
sedangkan pada perempuan ditandai dengan membesarnya
buah dada dan
datangnya menstruasi yang pertama kali.
Perubahan fisik
tersebut membuat anak bingung. Paling tidak lima hingga tujuh tahun sebelumnya
anak sudah nyaman dengan tubuhnya. Perubahan-perubahan itu membuat anak tidak
nyaman. Anak laki-laki merasa malu kalau harus menginap di tempat orang lain,
atau alat kelaminnya mudah terangsang dan tegang saat melihat gambar atau
berhadapan dengan perempuan. Dominasi pikiran-pikiran seksual genital ini juga
menggaggu relasionalnya dengan ibu, karena khawatir, cemas, dan takut berduaan
dengan ibu. Suara pada anak laki-laki mulai membesar pada masa pubertas ini.
Peristiwa ini kadang menakutkan juga bagi anak, karena biasanya
menjadi bahan olok-olokan oleh lingkungannya.
Anak perempuan
yang mengalami menstruasi untuk pertama kalinya biasanya mengalami shock
atau ketegangan luar biasa, karena berfikir mereka sakit atau pada alat
kelaminnya mengalami luka. Menstruasi berikutnya juga tidak mudah karena anak
perempuan mengalami sakit kepala, punggung punggung, kejang-kejang, sakit
perut, mual, damn sebagainya. Perubahan buah dada mengganggu pula bagi anak
perempuan. Anak khawatir jangan-jangan perkembangan buah dadanya terlalu besar
atau terlau kecil. Pemikiran-pemikiran seksual masa pubertas ini membuat anak
perempuan enggan dekat dengan bapaknya.
Sikap
Antagonisme
Mencapai umur
9-10 tahun perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan hampir sempurna. Pemisahan diri sewaktu
berumur 8 tahun karena tidak ada kecocokan minat dan keinginan, pelan-pelan
beranjak ke sikap permusuhan. Sikitar umur 10-12 tahun sikap permusuhan itu
menjadi jelas sekali dengan adanya sikap antagonisme, suatu sikap permusuhan
terhadap jenis kelamin yang berbeda.
Latar belakang
sikap antagonisme tidak terlepas dari pengaruh budaya yang telah tertanam pada
diri anak mengenai identitas diri anak mengenai identitas masing-masing jenis
kelamin. Anak laki-laki sudah ditanamkan bahwa mereka harus lebih unggul, lebih
berprestasi, lebih hebat dibandingkan anak perempuan. Badan anak laki-laki juga
diharapkan lebih tinggi, lebih berotot. Pada anak perempuan tuntutan lebih
lembut, lebih penuh kasih sayang, taat, patuh, atau memelihara kecantikan, dan memberi
ketenangan.
Perubahan-perubahan
yang terjadi secara drastis pada masa puber memberi kenyataan lain. Anak
laki-laki mengalami perkembangan yang lebih lambat dibandingkan anak perempuan.
Saat perkembangan fisik dan mental anak perempuan lebih matang dan dewasa,
perkembangan fisik anak laki-laki masih belum sepenuhnya proporsional. Secara
mental anak laki-laki masih dianggap anak-anak.
Akibatnya orang-orang yang lebih tua lebih menaruh perhatian pada anak
perempuan, dan anak perempuan lebih menaruh perhatian pada orang yang lebih tua
dari pada teman laki-lakinya yang sebaya (crush).
Kenyataan-kenyataan ini
bagi anak laki-laki
mengakibatkan idealisme
mengenai maskulinitas yang
telah tertanam dalam dirinya bertabrakan
dengan kenyataan yang dialaminya.
Oleh karena itu
anak laki-laki merasa malu
dan minder terhadap
anak perempuan. Rasa
malu, minder, dan cemas mengenai
maskulinitasnya diwujudkan dengan sikap membenci anak perempuan yang sebaya.
Sebaliknya perkembangan
fisik yang sudah
matang membuat harga diri anak
perempuan berkembang dan
meningkat. Perkembangan
fisik yang diikuti
dengan datangnya menstruasi
membuat pengaruh psikologis pula bagi anak perempuan. Datangnya menstruasi
membuat anak perempuan
bersikap membenci anak laki-laki karena
mereka menganggap bahwa mereka
menstruasi karena mereka tidak memiliki penis.
Kebencian-kebencian
yang ada diwujudkan dalam sikap
bermusuhan, bersaing, saling mengejek, dan memandang hina jenis seks
yang lain. Reaksi-reaksi yang ada sebenarnya hanya perwujudan ingin menunjukkan
bahwa jenis kelaminnyalah yang paling penting.
Sikap antagonisme
timbul karena krisis identitas yang timbul selama masa puber, didorong oleh
keinginan mempertahankan identitas dan harga diri masing-masing jenis kelamin yang telah diatur
secara alami agar kelak kedua jenis kelamin dapat bergaul, sederajad, seimbang,
dan wajar dalam hubungan heteroseksual. Berhadapan dengan sikap antagonisme ini
perlu pendampingan dan bimbingan dari orang-orang yang lebih dewasa.
Crush
Crush dapat disebut
sebagai semacam cinta erotis kepada orang yang lebih tua baik dari jenis seks
yang sama maupun jenis seks yang berbeda. Crush timbul karena rasa kagum
akan kehebatan atau kemampuan yang dimiliki oleh orang yang dikagumi. Menurut
sementara ahli, crush merupakan transfer perhatian afektif terhadap
orang yang lebih tua, seperti kepada
guru, teman sejenis maupun berbeda jenis yang
lebih tua. Cinta
romantis
itu diwujudkan
dengan melihat, mengamati,
menulis tentang tokoh yang dikagumi, bertanya, memberi hadiah, membuat supaya
dikasihi, meniru cara berbicara, berpakaian, dan sebagainya. Karena itu
walaupun dari kodratnya crush bersifat sementara, tetapi dalam
perkembangannya crush berfungi sebagai insentif yang memberi inspirasi kepada
anak-anak yang kagum itu untuk semakin maju dalam belajar dan bekerja.
Crush dialami oleh
kedua jenis kelamin. Perkembangan dan kematangan anak perempuan lebih cepat dari
pada anak laki-laki, membuat anak perempaun lebih banyak mempunyai crush dibanding
anak laki-laki. Anak perempuan membutuhkan semacam penyaluran kebutuhan seksualnya
maupun kesulitan-kesulitan yang dialami.
Faktor atau kondisi penyebab crush menjadi
semacam solusi bagi beberapa
kesulitan yang seaktu-waktu dialami perempuan. Dapat disebutkan beberapa contoh, ditolak ibu, ketidakhadiran ibu, pergaulan dengan anak laki-laki sebaya, maupun teman perempuan sebaya, takut laki-laki atau gambaran idealnya mengenai laki-laki.
Tokoh
Idola
Tokoh idola atau hero
worship merupakan kekaguman afektif tokoh-tokoh ideal. Tokoh ideal bisa
orang tua, sahabat yang lebih tua, para atlet, bintang film, ataupun
pahlawan-pahlawan.
Seperti crush,
dasar tokoh idola adalah kekaguman dan ketertarikan pada kemampuan atau
kehebatan orang yang dicintai. Tokoh idola lama-lama menjadi insentif bagi anak
untuk berusaha agar mencapai kesuksesan.
Tokoh idola
membantu anak--anak untuk memformulasikan nilai-nilai, dan memantapkan tujuan-tujuan yang membimbing
hidupnya. Tokoh idola menambah motivasi anak dalam mencapai cita-cita dalam
tindakan nyata. Sebagai contoh anak
mempunyai tokoh idola Superman, dalam benak anak akan tertanam bahwa tokohnya
sering menolong orang lain, anak tersebut ringan tangan untuk menolong orang
yang sedang membutuhkan bantuan. Sebaliknya
karena tokoh idola yang dipilih
salah atau jelek, tidak menutup kemungkinan anak juga menjadi buruk. Sebagai
contoh baru-baru ini banyak anak menjadi korban bantingan teman-temannya karena
tokoh idola anak-anak adalah Smack Down.
Perbedaan crush
dan tokoh idola terletak pada
orang yang dikagumi. Pada tokoh idola
tokoh yang dikagumi biasanya
berjauhan jaraknya, dan pada keduanya tidak ada
hubungan sama sekali, sedang crush biasanya orang
yang dikagumi adalah orang yang
dekat dan ada hubungan. Tokoh idola lebih banyak pada anak laki-laki, dan crush
lebih banyak dialami anak perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar